Archive for the ‘Public Health’ Category

MENKES DUKUNG FATWA MUI TENTANG ROKOK

Meski fatwa haram merokok mendapat kecaman, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mendukung rencana Majelis Ulama Indonesia (MUI) membuat fatwa itu. Sebab, selama ini rokok lebih banyak menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan.

Menkes menambahkan, selama ini rokok bisa mengganggu kesehatan tubuh manusia. Bahkan, dalam semua bungkus rokok tercantum peringatan tentang bahaya merokok. Antara lain merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin. Jadi jelas, merokok sangat merugikan kesehatan.

Terkait dampat akibat fatwa haram rokok yang bisa merugikan petani tembakau dan cengkeh, Fadilah mengatakan hal tersebut bukan kewenangannya. Dia hanya menegaskan rokok sangat merugikan kesehatan.

IDI JUGA DUKUNG FATWA MUI
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Fahmi Idris, menyatakan dukungannya terhadap usulan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang fatwa diharamkannya rokok.

Fahmi mengaku, sudah sejak lama IDI melakukan upaya-upaya untuk kampanye anti rokok ini. Termasuk usulannya kepada MUI terkait fatwa itu. Langkah-langkah kongkrit yang dilakukan, sambung Fahmi, antara lain menginisiasi Komisi Nasional (komnas) anti rokok.

Source

Advertisements

ANDORRA, NEGARA PALING PANJANG UMUR

Andorra menjadi negara yang paling panjang umur. Angka harapan hidup saat lahir penduduk Andorra mencapai 83,52 tahun, menempati tempat pertama dari 222 negara. Bagaimana dengan Indonesia? Ternyata, Indonesia masih ketinggalan dengan beberapa negara asia tenggara lainnya. Angka harapan hidup penduduk Indonesia adalah 70,16 tahun, kalah jauh dengan Singapura (81,80 tahun), Brunei (75,30 tahun), Malaysia (72,76 tahun), Thailand (72,55 tahun), Vietnam (71,07 tahun), dan Filipina (71,05 tahun). Tapi, Indonesia masih lebih baik dari pada Timor-Leste (66,60 tahun), Burma (62,49 tahun), Kamboja (61,29), maupun Laos (55,89). Selengkapnya lihat di sini.

Angka harapan hidup dapat menjadi alat untuk melihat keberhasilan program kesehatan dan program pembangunan sosial ekonomi suatu negara. Ada dua macam angka harapan hidup yaitu angka harapan hidup suatu umur x dan angka harapan hidup saat lahir (Life expectancy at birth). Angka Harapan Hidup pada suatu umur x adalah rata-rata tahun hidup yang masih akan dijalani oleh seseorang yang telah berhasil mencapai umur x, pada suatu tahun tertentu, dalam situasi mortalitas yang berlaku di lingkungan masyarakatnya. Sementara itu, pengertian Angka Harapan Hidup Saat Lahir adalah rata-rata tahun hidup yang akan dijalani oleh bayi yang baru lahir pada suatu tahun tertentu.

Nah, data di atas berdasarkan angka harapan hidup saat lahir. Artinya, penduduk Indonesia yang lahir pada tahun 2007 rata-rata menjalani 70,16 tahun kehidupan. Sementara penduduk Andorra 13,36 tahun lebih panjang dari penduduk Indonesia.

FOGGING!, FOGGING!, FOGGING!


Penderita demam berdarah dengue (DBD) dalam bulan terakhir ini terus meningkat. Masyarakat dicekam kecemasan karena penyakit ini memakan korban jiwa yang tidak sedikit. Menurut Pusat Komunikasi Publik dari Sub Direktorat Arbovirosis Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP & PL) Depkes, hingga pekan ini sudah ada 10 provinsi melaporkan kasus DBD di wilayahnya. Kasus DBD terbanyak dilaporkan Propinsi DKI Jakarta dengan 968 kasus, 1 diantaranya meninggal. Setelah DKI Jakarta, daerah lain yang melaporkan kasus demam berdarah adalah propinsi-propinsi sebagai berikut: Lampung (421 kasus, 3 meninggal), Jawa Tengah (400 kasus, 1 meninggal), Jawa Barat (284 kasus, 3 meninggal), Kalimantan Timur (79 kasus, 1 meninggal), Banten (48 kasus, 4 meninggal), Bali (31 kasus), Jawa Timur (27 kasus 2 meninggal), NTB (19 kasus), dan Bangka Belitung (6 kasus). Jumlah ini belum termasuk korban di provinsi lainnya, seperti Kalimantan Selatan, Yogyakarta, Kalimantan Barat, NAD, dan Papua. Cuaca saat ini masih ideal untuk perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti pembawa virus DBD oleh karena itu jumlah tersebut akan dapat meningkat.

Serangan penyakit ini seharusnya sudah dapat diperkirakan, karena sangat terkait dengan perilaku nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini akan mempunyai sarang lebih banyak pada musim penghujan. Nyamuk hanya bertelur di bak-bak mandi akan tetapi ketika hujan tiba, tempat bersarang nyamuk bisa berpindah ke tempat-tempat genangan air yang muncul akibat siraman hujan, wadah kosong, kaleng, atau bahkan cekungan sekecil apapun di pekarangan rumah, di sekolah, di perkantoran yang menampung air bersih. Sementara itu, menjelang peralihan cuaca suhu udara mulai meningkat. Pada suhu yang tinggi jentik (larva) menjadi lebih cepat dewasa dan aktivitas nyamuk betina untuk menghisap darah manusia juga meningkat. Oleh karena itu, serbuan penyakit ini saat musim hujan dan menjelang peralihan cuaca seperti sekarang ini hampir pasti selalu terjadi setiap tahunnya.

Kampanye oleh pemerintah untuk memutus rantai penularan sering datang terlambat dimana korban sudah berjatuhan. Masyarakat seharusnya didorong untuk memahami 3 M sebagai bagian dari rangkaian proses yang harus dilakukan bersama-sama secara menyeluruh dan rutin. Selain itu, sesuai dengan anjuran WHO untuk penanggulangan fokus (kasus) dapat dilakukan abatenisasi (menabur bubuk abate) dan fogging (penyemprotan dengan insektisida).

Pemerintah sendiri terkesan alergi dengan fogging. Padahal walaupun bukan hal utama akan tetapi fogging juga tidak terlarang. Bukankah fogging merupakan pilihan utama untuk mematikan nyamuk dewasa secara massal? Pada keadaan wabah atau KLB, fogging bahkan dianjurkan untuk dilakukan. WHO sendiri menganjurkan untuk dilakukan fogging yang dilakukan bersama-sama dengan kegiatan lain seperti abatenisasi dan penyuluhan kepada masyarakat tentang pemberantasan sarang nyamuk (PSN) seperti tindakan 3 M dan pencegahan lainnya seperti memelihara ikan pemakan jentik, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa, menggunakan repellent, dan memasang obat nyamuk.

Fogging memang tidak mampu membunuh jentik, tapi hendaknya ini tidak menjadi justifikasi pemerintah untuk tidak melakukan fogging. Fogging masal dapat menurunkan populasi nyamuk Aedes aegypti secara tajam dan cepat, meskipun penurunan tersebut tidak sampai nol. Apabila hal ini diikuti dengan gerakan pemberantasan sarang nyamuk tentu sangat efektif menurunkan populasi nyamuk dewasa dan akan diikuti dengan menurunnya penularan dan selanjutnya akan menurunkan jumlah kasus yang terjadi.

Fogging dapat dilakukan dengan cara thermal fogging untuk penanggulangan fokus (kasus) biasanya dengan menggunakan mesin khusus (swing fog). Ini yang sering dilakukan apabila ditemukan kasus. Sedangkan cold fogging dilakukan sebelum musim penularan tepat sebelum atau akan memasuki musim hujan. Ini dinamakan fogging sebelum musim penularan (FSMP). Pada FSMP ini dipergunakan insektisida murni dengan mesin Ultra Low Volume (ULV) yang diletakkan di atas mobil pick up. Kegiatan pengasapan jenis ini tidak gencar dilakukan, padahal pengasapan yang dilakukan sebelum musin penularan penyakit tersebut mampu mematikan nyamuk yang belum infektif maupun yang infektif. Sebab pada saat ini keadaan iklim tidak mendukung perkembangbiakannya dan yang lebih penting pada saat ini populasi nyamuk masih rendah.

Akhirnya, meminjam istilah Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes RI, Nyoman Kandun (Kompas, 03/02/07) selain partisipasi masyarakat kuncinya memang harus ada pada upaya terpadu di kalangan pemerintah yaitu mengarahakan program pada pembangunan yang berwawasan kesehatan dan lingkungan. Dengan kata lain, berjalan atau tidaknya program pemberantasan DBD sangat tergantung pada prioritas, komitmen, dan kegigihan pemerintah khususnya tokoh atau pemimpin lokal.

Image from here.