Archive for May, 2007|Monthly archive page

DOMESTIC VIOLENCE

Seorang ibu muda datang ke Instalasi Gawat Darurat dan mengeluh nyeri pada kepalanya. Pada pemeriksaan yang saya lakukan tampak hematom (benjolan) di kepala dan lebam pada punggung. Walaupun dia menyembunyikan kedua matanya di balik kacamata hitam akan tetapi dari nada suaranya saya mengetahui bahwa dia sedang menahan tangis. Akhirnya, dia pun mengakui bahwa suaminya baru saja membenturkan kepalanya ke tembok dan dia pun mengungkapkan maksud kedatangan sebenarnya untuk minta dibuatkan Visum et Repertum.

Kasus seperti ini memang jarang ditemukan, namun ada hal yang membuat saya tertarik manakala berlangsung pembicaraan singkat saya dengan Ibu tersebut. Menurutnya, visum tersebut hanya untuk “menggertak” suaminya. Dia sendiri menginginkan kasusnya tidak sampai ke pengadilan. Sepertinya dia menyadari pelibatan pihak luar hanya akan menimbulkan masalah baru.

Sementara itu, Kompas memberitakan adanya kasus kekerasan yang menimpa seorang pembantu rumah tangga warga negara Indonesia di AS. Pada kasus ini pelakunya adalah pasangan suami dan isteri. Peristiwa itu dapat menyadarkan kita bahwa kekerasan dapat menimpa dan dilakukan siapa saja. Oleh sebab itu, pandangan bahwa kekerasan terkait dengan gender dengan kata lain di kesankan wanita adalah korban dan laki-laki adalah pelaku hanyalah sebuah distorsi kalau tidak ingin dikatakan keliru. Bagaimanapun kekerasan tidak hanya menimpa kaum perempuan, tetapi juga bisa menimpa kaum laki-laki, seperti pelakunya yang tidak terbatas pada laki-laki tapi juga perempuan.

Selama ini data statistik DV lebih banyak mengacuh kepada kasus-kasus yang terjadi di luar. Data ini sebagian besar hanya mencantumkan kasus kekerasan laki-laki terhadap perempuan. Padahal banyak bukti yang menunjukkan bahwa kekerasan juga dapat terjadi terhadap laki-laki. Memang bisa jadi data kekerasan yang menimpa laki-laki lebih sedikit tapi bukan berarti kita abaikan dan tidak menuntut penyelesaian bukan? Ibarat penyakit kanker baik laki-laki maupun perempuan harus diobati.

Sejatinya kekerasan merupakan terminologi ”fisik”. Kekerasan diartikan sebagai perbuatan seseorang atau kelompok orang yang menyebabkan rasa sakit, cedera, luka, atau cacat pada tubuh seseorang, dan atau sampai menyebabkan kematian dirinya atau orang lain. Makna ini melebar seiring dengan munculnya gerakan perempuan di barat, sehingga kekerasan bisa ditafsirkan secara psikis, ekonomi, dan seksual. Di era global saat ini tidak sulit mencari bukti bahwa UU PKDRT adalah adopsi mentah-mentah UU yang ada di barat.

Perempuan-perempuan barat (saya singkat PPB) memiliki pandangan ”universalisme perempuan” dimana memandang perempuan sebagai objek yang memiliki permasalahan yang sama seperti yang pernah mereka alami yaitu racism, stereotyping, sexism, phalogocentrism. Dengan dalih ini, PPB melihat bahwa mereka perlu ”menyelamatkan” perempuan di dunia ketiga termasuk di Indonesia.

Adalah sebuah misleading apabila data kasus DV di barat itu dijadikan dasar untuk melahirkan sebuah undang-undang di Indonesia (UU PKDRT). Misalnya, masalah domestikasi perempuan dianggap sebagai penindasan padahal di daerah-daerah tertentu di Indonesia hal itu bisa jadi merupakan sesuatu yang diidamkan bahkan sebuah kemewahan. Selain itu, kultur barat yang di bangun jauh dari religiusitas (bahkan saat ini cenderung agnostik?) belum tentu pas dengan kultur Indonesia yang cenderung religius. Walhasil, bisa jadi seorang Bapak yang membentak anaknya yang sudah baligh karena tidak melaksanakan shalat dapat dikatagorikan sebagai kekerasan psikis.

Kehidupan rumah tangga adalah lingkup mikro yang amat kompleks. Mewujudkan harmonisasi dalam kehidupan rumah tangga adalah pembelajaran yang berlangsung sepanjang hayat. Dalam mewujudkan harmonisasi tersebut memerlukan perjuangan dan pengorbanan. Sejatinya manakala dalam sebuah rumah tangga terdapat persoalan, maka dalam hal ini harus terjadi maksimalisasi pihak internal dalam mengupayakan penyelesaiannya dan meminimalisasi keterlibatan pihak eksternal.

Namun, kehadiran UU PKDRT cenderung mendorong penyelesaian persoalan rumah tangga untuk melibatkan pihak eksternal. Dapatkah anda membayangkan, jika anda adalah seorang suami atau isteri yang dilaporkan oleh pasangan anda dengan tuduhan telah melakukan tindak kekerasan? Bukankah tindakan tersebut berpotensi bagi pihak yang dilaporkan merasa dilecehkan atau dipermalukan? Bisa jadi anda akan memaafkan pasangan anda, tetapi mungkin perbuatannya yang telah mempermalukan tidak akan dilupakan. Hal ini berpotensi dendam dan ini adalah bom waktu dalam harmonisasi kehidupan rumah tangga.

Jika dimaksudkan UU ini untuk memberikan efek jera bagi pelaku KDRT saya rasa juga tidak, karena denda yang dikenakan bagi pelaku relatif dapat dijangkau oleh mereka yang berkantong tebal. Artinya, efek jera tersebut hanya berlaku bagi golongan menengah ke bawah tetapi tidak bagi menegah ke atas. Selain itu, realitas kekerasan psikis menurut saya sangat abu-abu dan multitafsir. Bagaimana dengan kasus seorang isteri yang menuntut tambahan nafkah hingga membuat suami ”tertekan” secara psikis? Atau, bagaimana dengan cemburu pasangan yang berlebihan hingga membuat pasangan sangat merasa ”tidak nyaman” apakah termasuk tindak kekerasan psikis?

DV adalah masalah yang kompleks. Hemat saya, banyak faktor yang mendorongnya antara lain faktor keimanan, tingkat pendidikan, dan ekonomi. Penyelesaiannya belum tuntas hanya dengan membuat instrumen hukum. Di tengah maraknya pemberitaan yang menggambarkan institusi keluarga yang kian rapuh, tentu kita berharap dan berupaya agar tidak menjadi bagian dari kerapuhan tersebut.

Image is adapted from here.

Advertisements

EAR FOREIGN BODY

Demam spiderman terjadi di mana-mana. Walaupun tidak sampai membuat temperatur tubuh naik, kehadirannya cukup membuat enthusiast mba ini, mba ini , mba ini, dan bahkan mba yang ini sudah “terjangkit” sampai 2 kali. Apabila mba ini ingin menanyakan apakah versi DVD ada release-nya, mungkin bisa konfirmasi dengan mas ini atau mas ini. Akan tetapi, opini mba ini cukup menghibur bagi orang seperti saya yang tidak (belum) menonton filem ini.

Kalau spider “palsu” mampu membuat orang menjadi “fever”, maka spider “asli” ini betul-betul membuat Jesse Courtney , seorang anak laki-laki berusia 9 tahun, “meriang” bahkan sampai pingsan. Betapa tidak, sepasang spider berhasil masuk dan ngendon di dalam telinganya bahkan sepasang spider itu sempat membuat jaring. Entah bagaimana spider itu berhasil masuk ke dalam telinga anak itu, tak ayal membuat panik ibunya dan segera membawanya ke dokter. Beruntung dokter berhasil mengeluarkannya dari dalam telinga anak itu, dan spider seukuran penghapus pensil itu ditemukan sudah dalam kondisi mati dan spider satunya juga mati walaupun sempat hidup beberapa saat setelah dikeluarkan.

Dalam dunia medis spider tersebut dinamakan Foreign Body (FB) atau Corpus Alienum (sering disingkat dengan “Corpal”). FB merupakan benda asing di dalam (rongga) tubuh, yang dalam kondisi normal seharusnya tidak ada. FB bisa terdapat di mana saja, mulai dari lapisan kulit, tulang, mata, saluran pernapasan, saluran pencernaan, dan telinga. Benda asing tersebut bermacam-macam mulai dari yang mati sampai yang hidup. Pada kejadian di atas, benda asingnya adalah dua ekor laba-laba yang masuk ke dalam liang telinga.

FB dalam telinga memang tidak mengancam nyawa tetapi membuat penderita merasa tidak enak sampai merasa sangat nyeri. Jangankan anak-anak, orang dewasa pun bisa dibuatnya menangis. FB yang hidup seperti serangga akan senantiasa bergerak di dalam telinga, karena dia juga berusaha untuk mencari jalan keluar. Apabila serangga tersebut bergerak lebih ke dalam maka akan berisiko menyentuh gendang telinga (membrana tymphani=eardrum). Hal inilah yang menimbulkan nyeri. Selain itu, gesekan pada lubang telinga menimbulkan iritasi dan adanya benda asing yang menutup liang telinga membuat telinga tersebut seperti ”tersumbat”.

Apabila Anda mengalami hal seperti itu maka jangan panik, segeralah miringkan kepala Anda dimana telinga yang kemasukan FB tersebut berada di bawah. Tindakan ini dilakukan, dengan harapan FB akan gugur mengikuti gravitasi. Apabila tindakan ini tidak berhasil mengeluarkan benda tersebut, maka segeralah bawa ke fasilitas pelayanan kesehatan. Selama diperjalanan sedapat mungkin posisi kepala Anda tetap miring. Jangan sekali-sekali Anda mencoba mengorek-orek telinga Anda dengan jari atau benda apapun. Tindakan itu menyebabkan FB semakin terdorong ke dalam, dan FB semakin sulit untuk dikeluarkan. Apabila fasilitas kesehatan jauh dari tempat tinggal maka Anda dapat memberikan minyak imersi atau minyak goreng dengan cara meneteskannya. Paling tidak tindakan ini dapat membuat lemes dan mematikan serangga tersebut. Selanjutnya, untuk mengeluarkannya Anda tetap harus membawanya ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Image is adapted from here.

IS LAUGHTER THE BEST MEDICINE?

Sekitar 30 orang warga dari berbagai kalangan di Kota Solo, Minggu kemarin (6 Mei), tertawa bersama-sama di tengah jalan di depan Kantor Kalurahan Kadipiro, Solo. Warga yang sebagian merupakan ibu-ibu berusia lanjut terus berusaha mengumbar tawa selama setengah jam. Tangan mereka mengacungkan poster bertuliskan: Tertawa Itu Sehat. Tertawa itu Ibadah. Ada juga spanduk lain dari kertas semen bertuliskan From Solo with Laughs seperti yang telah ditulis dalam Tempo Interaktif dan media online Indosiar. Aksi itu tentu saja menarik perhatian masyarakat sekitar, pengunjung pun dibuat tersenyum. Anyway, setidaknya berita tersebut membuat saya ngeh akan adanya peringatan hari tertawa karena aksi tersebut kabarnya sebagai ekspresi atas peringatan Hari Tertawa Internasional. Wallahualam, apa yang melatarbelakangi sehingga setiap hari Minggu pertama di bulan Mei dijadikan sebagai Hari Tertawa Internasional. Biarlah itu menjadi urusan sejarawan. Yang pasti, siapapun yang lahir pada hari tersebut maka bersiap-siaplah untuk “ditertawakan”.

Tertawa merupakan aksi tubuh kita secara ritmis, bersuara, ekspiratoris, dan involunter sebagai respon fisiologis terhadap krisis (humor). Adanya suara yang lantas membedakan tertawa dengan tersenyum. Nada suara yang ditimbulkan mendadak dan bersifat dekresendo (mula-mula kuat kemudian melemah) dalam bentuk “he-he-he”, “ha-ha-ha”, atau “ho-ho-ho”. Pastilah setiap yang mengeluarkan suara menimbulkan bising. Nah, berdasarkan kebisingan ini tertawa terentang mulai dari terkikik-kikik sampai terbahak-bahak.

Pada saat tertawa terjadi kontraksi 15 otot wajah dan terjadi stimulasi otot zygomatikus mayor (zygomatic major muscle). Apabila tertawa lebih keras (tertawa terpingkal-pingkal), beberapa bagian tubuh seperti otot-otot lengan, tungkai, dan penyangga tubuh bahkan akan ikut terlibat. Sementara itu, saluran napas menjadi setengah membuka dan setengah tertutup, yang mengakibatkan pemasukan udara menjadi tidak teratur. Hal ini, membuat kita seperti megap-megap dan menimbulkan muka kemerah-merahan. Pada tertawa yang durasinya lebih lama bahkan bisa sampai mengeluarkan air mata.

Dalam ilmu gelotologi (ilmu yang mempelajari tentang humor dan tawa serta efeknya terhadap tubuh) dinyatakan bahwa tertawa mampu meningkatkan tekanan darah, meningkatkan detak jantung, merubah pernapasan, menurunkan level neurokimia tertentu, serta menyediakan jalan bagi sistem imun tubuh. Akan tetapi, tertawa tidak selalu merupakan terapi yang baik. Pada kasus tertentu tertawa dapat memicu serangan jantung atau stroke. Juga, bagi orang-orang yang baru menjalani operasi besar daerah perut, tidak dianjurkan untuk tertawa keras dulu sebab dapat menimbulkan robeknya jahitan. Perhatian juga dilakuan pada penderita dengan patah tulang iga. Tentu pada penderita tersebut, tertawa untuk sementara ditunda dulu. Tertawa yang berlebihan juga berisiko terlepasnya temporo-mandibular joint, yaitu sendi yang menyangga dagu. Dengan demikian, jangan menampilkan kelucuan-kelucuan di sekitar mereka kalau tidak ingin menimbulkan penderitaan baru.

Tertawa yang sehat apabila tertawa terjadi secara alami, spontan, dan tidak berlebih-lebihan sebagai respon terhadap keadaan krisis. Tertawa seperti ini yang menurut teori Inkongruitas, berupa respon terhadap suatu perubahan yang tidak terduga. Kondisi itu bisa tercetus dalam keadaan yang mengagetkan atau menyenangkan. Konkretnya, kalau Anda sedang serius mendengarkan sesuatu, tahu-tahu hasilnya tidak sesuai dengan apa yang Anda duga, Anda bisa tertawa terbahak-bahak.

Belakangan banyak orang tertawa bukan lantaran menunjukkan rasa senang, namun juga rasa sinis, benci, menghina, memperolok-olok lawan bicaranya, serta sifat jelek lainnya. Tertawa seperti ini justru menjadi “tidak sehat” karena tertawa muncul sebagai respon dari kesalahan, kebodohan, dan ketidakberuntungan yang terjadi pada orang lain. Orang yang menertawakan biasanya merasa superior dibandingkan orang yang ditertawakan. Apabila ini terjadi di ruang publik dan kita ikut di dalamnya, betapa ternyata tingkat “kesehatan psikis” kita mengkhawatirkan. Menurut Organisasi Kesehatan se-Dunia sehat tidak hanya fisik tapi juga sehat dalam arti mental (psikologik/psikiatrik), sehat dalam arti spiritual, dan sehat dalam arti sosial. Oleh karena itu, apabila ingin dikatakan sehat tertawalah Anda secara proporsional dan tidak berlebih-lebihan.

Image is adapted from here.

BINGE EATING

Merujuk kepada teori Maslow, makan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia agar dia dapat bertahan. Bahkan tangisan kedua bayi baru lahir, selain untuk “mengembangkan” paru, dapat juga bermakna keinginan untuk “makan” yang direspon dengan memberikan Air Susu Ibu (ASI) atau dengan Penganti Air Susu Ibu (PASI). Pada saat ini, bayi mulai belajar bagaimana dia diperlakukan sebagai “interpretasi” ibu dari keadaan “emosi” atau kondisi “fisik” seperti dingin, panas, gatal dan sebagainya yang dialaminya.

Kita sudah sering mendengar perihal anoreksia dan bulimia, akan bagaimana dengan Binge Eating ? Masih banyak yang belum kita ketahui bukan? Benar, fakta dan data tentang ini banyak yang belum terungkap. Akan tetapi, di AS Binge Eating sudah melebihi prevalensi bulimia dan anoreksia. Laporan studi dalam majalah Biological Psychiatry menunjukkan bahwa survey nasioanl di AS yang meneliti kesehatan mental pada lebih dari 9000 orang selama 2 tahun ini, menemukan adanya 3.5% wanita dan 2% pria yang mengaku pernah mengalami keinginan makan berlebih pada suatu saat dalam hidup mereka.

Berbeda dengan bulimia, gejala yang ditemui pada Binge Eating adalah makan pada suatu periode tertentu, dengan jumlah yang lebih banyak dan lebih cepat daripada kebanyakan orang, hingga ia merasa benar-benar sangat kenyang (uncomfortably full). Setelah itu, muncul perasaan bersalah tapi dia tidak ingin memuntahkannya atau menggunakan obat pencahar seperti yang terjadi pada penderita bulimia. Gangguan ini tidak hanya kebiasaan makan berlebih, tapi penderita juga tidak mampu mengontrol dan tidak mempunyai daya untuk menghentikan kebiasaan tersebut. Bahkan mereka menggambarkan makanan sebagai “teman”, sehingga berat badan mengalami kenaikan drastis yang berujung pada obesitas.

Penyebab gangguan ini masih belum diketahui pasti. Walter W. Hamburger mengungkapkan, Binge Eating disebabkan ketidakmampuan untuk mengatasi masalah-masalah hidup secara praktis. Ketidakmampuan tersebut biasanya dalam pengendalian emosi, pemrosesannya, serta mengatasinya. Hal ini dapat terjadi karena terhambatnya proses perkembangan mental seseorang sehingga ia lebih nyaman menggunakan mekanisme adaptasi yang biasa digunakannya pada fase perkembangan yang lebih dini, yaitu fase oral (fase di saat seseorang mengatasi problem hidupnya terutama dengan mulut, biasanya pada usia antara 0-18 bulan). Mekanisme defensif yang digunakan adalah introyeksi, yaitu memasukkan suatu objek ke dalam struktur psikis individu yaitu objek yang bersifat kongkrit berupa makanan saat mereka merasakan stres, sedih, terluka, atau marah. Mereka merasa nyaman dan rileks setelah melampiaskan melalui makanan.

Penanganan Binge Eating harus dilakukan secara menyeluruh, dengan tujuan utama mengontrol berat badan. Terapi yang diberikan dalam bentuk psikoterapi, seperti cognitive-behavioral therapy cukup membantu untuk memonitor dan mengubah kebiasaan makan ketika mereka mengalami situasi sulit. Selain itu, psikoterapi interpersonal membantu orang berinteraksi sosial dengan teman, keluarga, dan memberi dukungan untuk mengatasi masalah tersebut. Pada titik ini, pengalaman spiritual bisa dimasukkan dengan memberikan pengalaman tokoh yang bisa diteladani. Nabi Muhammad SAW misalnya, dia hanya makan pada saat lapar dan berhenti sebelum kenyang. Sementara itu, terapi medikasi hanya diberikan untuk mengatasi depresi dan mengurangi episode binge.

Image is adapted from here.