Archive for the ‘Psychic’ Category

I AM BACK BUT SORRY ONLY FOR A MINUTE

Hampir sebulan lebih tidak blogging tentu banyak momen yang terlewatkan. Terutama cerita dari teman-teman blogger. Saking lamanya tidak posting, saya hampir lupa dengan password. Bahkan, blog ini sempat diblokir karena dikenali sebagai spam blog. Saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah mampir dan memberikan apresiasi baik melalui komentar selama blog ini rehat. Dalam kesempatan bulan suci ini perkenankan saya menghaturkan maaf karena belum sempat mampir ke blog teman-teman. Berbicara tentang ‘maaf’, konon tiap orang mempunyai beragam latar yang membuat kata itu terlontar. Sebagai bentuk manifestasi ‘pengakuan’ kesalahan yang dilakukan, kata ini seyogyanya diucapkan dengan tulus dari hati. Bukan sekadar basa-basi. Kata maaf dapat di haturkan karena ketidaksengajaan yang berakibat fisik kepada orang lain. Ada orang yang melontarkannya ketika tak sengaja menyenggol orang lain, menginjak kaki orang lain, menubruk atau sampai menabrak orang lain. Tak dinyana, kekhilafan menuntut permintaan maaf dari pelaku. Kata maaf juga dihaturkan karena ketidaksengajaan atau bahkan kesengajaan (?) yang berakibat psikis kepada orang lain. Misalnya, membuat orang lain kebingungan, mangkel, malu, dan bahkan sakit hati. Kebiasaan meminta maaf merupakan perilaku yang tidak dibentuk sekejap, tapi melalui proses panjang segenap interaksi yang terjadi dalam keluarga mapun lingkungan sekitar. Berawal dari ’pembiasaan’ sampai akhirnya menjadi ’kebiasaan’ yang positif.

Selain meminta maaf, ada sikap yang lebih penting lagi yaitu memberi maaf. Meminta maaf menunjukkan jiwa yang besar, tapi memberi maaf membuat jiwa menjadi kaya. Robert D. Enright, periset tentang keampunan, menyatakan bahwa memberi maaf merupakan faktor signifikan dalam penyembuhan yang bersifat psikis. Perbuatan memaafkan berarti respon kemurahan hati seseorang terhadap orang yang telah menyakitinya. Dalam memaafkan, orang mengganti perasaan negatif, pikiran negatif, dan perilaku negatif terhadap orang yang berbuat salah kepadanya dengan perasaan, pikiran, dan perilaku yang positif.

Memaafkan orang lain yang telah berbuat sewenang-wenang merupakan sebuah sikap yang paling mulia di dalam ajaran agama. Sikap ini tidak akan bisa dilakukan kecuali oleh orang-orang yang bersih hatinya, dimana ia lebih menyukai kebaikan ketimbang membalas kejahatan orang tersebut. Allah berfirman:” Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (Q.S Ali Imran:134). Semoga kita semua mampu menjadi orang yang ‘kaya’ hati.

Advertisements

APA SALAH CANTIK?

Menjadi cantik bak seorang putri adalah harapan setiap wanita. Memiliki wanita yang cantik pun adalah impian setiap kaum pria. Berharap memiliki tubuh yang indah dan menawan adalah fitrah bagi setiap insan. Wanita yang cantik dicitrakan sebagai mereka yang memiliki bobot tubuh ideal, tinggi, wajah mulus bebas jerawat, berkulit putih, dan berambut lurus panjang. Wanita yang memilikinya dapat berbangga hati serta akan tersenyum lebar karena mereka disebut-sebut sebagai orang yang cantik. Akan tetapi, bagaimana dengan wanita yang berkulit gelap, bewajah pas-pasan, tidak tinggi, dan bahkan mungkin memiliki cacat secara fisik? Bisa jadi mereka akan “terluka” karena keadaan demikian telah dipersepsikan sebagai sebuah petaka.

Persepsi kecantikan yang dilihat secara physically terhadap wanita adalah langkah mundur . Karena hal demikian berarti memandang wanita sebagai objek untuk memuaskan orang yang memandangnya. Persepsi demikian berpotensi akan membangun sebuah masyarakat yang hanya sekedar menghargai “kulit” tetapi mengabaikan “isi”. Padahal sosok wanita terdahulu seperti Kartini atau Dewi Sartika, dikenal karena perjuangan mereka dalam memberikan kesempatan yang sama bagi wanita untuk memperoleh pendidikan. Paling tidak mereka mewakili sosok wanita Indonesia dulu yang lebih memperhatikan “tebar karya” ketimbang “tebar pesona”.

Media berperan menumbuhkan persepsi cantik secara massive melalui iklan-iklan produk kecantikan, sinetron, film, dan kontes-kontes kecantikan. Mereka berhasil mengaduk emosi pemirsa pada tataran yang hampir sempurna sehingga para wanita yang tadinya tercederai perasaannya pun secara membabi buta berusaha untuk menjadi cantik dengan berbagai cara mulai dari menggunakan krim pemutih, obat pelangsing, suntik silikon, sedot lemak, operasi plastik, dan lain-lain. Bahkan, demi ingin cantik, tidak jarang berusaha secara “irrasional” dengan membenamkan “implan” ke dalam tubuhnya melalui jasa seorang paranormal.

Seolah mereka kini serempak ingin mengatakan ”impossible is nothing!”. Produk-produk yang mengatasnamakan kecantikan pun pada tahun-tahun terakhir marak dikonsumsi. Padahal sebenarnya tidak ada produk-produk kecantikan yang seratus persen aman dan tidak memiliki efek samping. Bahkan, produk yang menggunakan bahan dari tanaman (bahan alam) sekalipun tetap mempunyai efek samping.

Produk pemutih kulit (skin lightening) misalnya, ini hanya efektif jika digunakan oleh orang-orang yang tidak banyak terpapar cahaya matahari dan harus dipergunakan terus-menerus. Namun, jika digunakan oleh seorang wanita yang sehari-harinya terpapar matahari, maka alih-alih ingin putih malah ”bencana” yang akan didapat. Efek samping dapat terjadi dari munculnya jerawat, kulit yang menghitam, atau malah sangat sensitif terhadap cahaya matahari (fotosensitif). Berlama-lama di bawah terik matahari akan membuat kulit memerah malah menghitam yang menjadi sulit dikembalikan ke warna asalnya.

Lantas salahkah mereka yang terlahir dalam keadaan yang dipersepsikan sebagai wanita cantik saat ini seperti Maudy Koesnaedy, Inneke Koesherawaty, Revalina S Temat, Aishwarya Rai, Maria Sharapova, Eva Mendez, dan juga para wanita yang ada di blogroll saya? Tentu akan sangat naif apabila ada orang yang menjawab ritoris ini dengan “ya”. Akan tetapi, keberadaan wanita yang memiliki keadaan yang berbeda dengan “mereka” yang saya sebutkan di atas tidak patut untuk diperlakukan secara diskriminatif bukan?

Semua manusia bagaimanapun dan dalam keadaan apapun berkesempatan yang sama untuk menjadi termulia karena kemuliaan seseorang dihadapan-Nya ditentukan oleh amal shaleh. Tuhan yang telah menciptakan manusia saja tidak mengukur kemuliaan kita dengan melihat dari wajah maupun bentuk rupa. Namun anehnya kadang kita manusia suka menentukan persepsi tersendiri tentang kriteria kecantikan. Lantas persepsi cantik menurut siapakah yang akan Anda pilih?

Image is adapted from here.

IS LAUGHTER THE BEST MEDICINE?

Sekitar 30 orang warga dari berbagai kalangan di Kota Solo, Minggu kemarin (6 Mei), tertawa bersama-sama di tengah jalan di depan Kantor Kalurahan Kadipiro, Solo. Warga yang sebagian merupakan ibu-ibu berusia lanjut terus berusaha mengumbar tawa selama setengah jam. Tangan mereka mengacungkan poster bertuliskan: Tertawa Itu Sehat. Tertawa itu Ibadah. Ada juga spanduk lain dari kertas semen bertuliskan From Solo with Laughs seperti yang telah ditulis dalam Tempo Interaktif dan media online Indosiar. Aksi itu tentu saja menarik perhatian masyarakat sekitar, pengunjung pun dibuat tersenyum. Anyway, setidaknya berita tersebut membuat saya ngeh akan adanya peringatan hari tertawa karena aksi tersebut kabarnya sebagai ekspresi atas peringatan Hari Tertawa Internasional. Wallahualam, apa yang melatarbelakangi sehingga setiap hari Minggu pertama di bulan Mei dijadikan sebagai Hari Tertawa Internasional. Biarlah itu menjadi urusan sejarawan. Yang pasti, siapapun yang lahir pada hari tersebut maka bersiap-siaplah untuk “ditertawakan”.

Tertawa merupakan aksi tubuh kita secara ritmis, bersuara, ekspiratoris, dan involunter sebagai respon fisiologis terhadap krisis (humor). Adanya suara yang lantas membedakan tertawa dengan tersenyum. Nada suara yang ditimbulkan mendadak dan bersifat dekresendo (mula-mula kuat kemudian melemah) dalam bentuk “he-he-he”, “ha-ha-ha”, atau “ho-ho-ho”. Pastilah setiap yang mengeluarkan suara menimbulkan bising. Nah, berdasarkan kebisingan ini tertawa terentang mulai dari terkikik-kikik sampai terbahak-bahak.

Pada saat tertawa terjadi kontraksi 15 otot wajah dan terjadi stimulasi otot zygomatikus mayor (zygomatic major muscle). Apabila tertawa lebih keras (tertawa terpingkal-pingkal), beberapa bagian tubuh seperti otot-otot lengan, tungkai, dan penyangga tubuh bahkan akan ikut terlibat. Sementara itu, saluran napas menjadi setengah membuka dan setengah tertutup, yang mengakibatkan pemasukan udara menjadi tidak teratur. Hal ini, membuat kita seperti megap-megap dan menimbulkan muka kemerah-merahan. Pada tertawa yang durasinya lebih lama bahkan bisa sampai mengeluarkan air mata.

Dalam ilmu gelotologi (ilmu yang mempelajari tentang humor dan tawa serta efeknya terhadap tubuh) dinyatakan bahwa tertawa mampu meningkatkan tekanan darah, meningkatkan detak jantung, merubah pernapasan, menurunkan level neurokimia tertentu, serta menyediakan jalan bagi sistem imun tubuh. Akan tetapi, tertawa tidak selalu merupakan terapi yang baik. Pada kasus tertentu tertawa dapat memicu serangan jantung atau stroke. Juga, bagi orang-orang yang baru menjalani operasi besar daerah perut, tidak dianjurkan untuk tertawa keras dulu sebab dapat menimbulkan robeknya jahitan. Perhatian juga dilakuan pada penderita dengan patah tulang iga. Tentu pada penderita tersebut, tertawa untuk sementara ditunda dulu. Tertawa yang berlebihan juga berisiko terlepasnya temporo-mandibular joint, yaitu sendi yang menyangga dagu. Dengan demikian, jangan menampilkan kelucuan-kelucuan di sekitar mereka kalau tidak ingin menimbulkan penderitaan baru.

Tertawa yang sehat apabila tertawa terjadi secara alami, spontan, dan tidak berlebih-lebihan sebagai respon terhadap keadaan krisis. Tertawa seperti ini yang menurut teori Inkongruitas, berupa respon terhadap suatu perubahan yang tidak terduga. Kondisi itu bisa tercetus dalam keadaan yang mengagetkan atau menyenangkan. Konkretnya, kalau Anda sedang serius mendengarkan sesuatu, tahu-tahu hasilnya tidak sesuai dengan apa yang Anda duga, Anda bisa tertawa terbahak-bahak.

Belakangan banyak orang tertawa bukan lantaran menunjukkan rasa senang, namun juga rasa sinis, benci, menghina, memperolok-olok lawan bicaranya, serta sifat jelek lainnya. Tertawa seperti ini justru menjadi “tidak sehat” karena tertawa muncul sebagai respon dari kesalahan, kebodohan, dan ketidakberuntungan yang terjadi pada orang lain. Orang yang menertawakan biasanya merasa superior dibandingkan orang yang ditertawakan. Apabila ini terjadi di ruang publik dan kita ikut di dalamnya, betapa ternyata tingkat “kesehatan psikis” kita mengkhawatirkan. Menurut Organisasi Kesehatan se-Dunia sehat tidak hanya fisik tapi juga sehat dalam arti mental (psikologik/psikiatrik), sehat dalam arti spiritual, dan sehat dalam arti sosial. Oleh karena itu, apabila ingin dikatakan sehat tertawalah Anda secara proporsional dan tidak berlebih-lebihan.

Image is adapted from here.

NEGARA PSIKOPAT

Kasus kekerasan yang terjadi di sekolah-sekolah AS kerap terjadi. Sepanjang tahun 2007 ini saja tidak kurang terjadi 25 kasus kekerasan. Sebelumnya, beberapa peristiwa menghebohkan yang pernah terjadi di sekolah adalah seperti yang dilakukan oleh Andre Kehoe di Bath, Michigan (1927) yang menewaskan 38 anak sekolah, 7 guru tewas, dan 61 orang terluka. Pada 1966, di Austin, Universitas Texas, seorang mahasiswa bernama Charles Whitman, menembaki mahasiswa 16 orang tewas, dan dia sendiri tewas oleh peluru polisi. Pada 20 April 1999, Eric Harris (18) dan Dylan Klebold (17) di Littleton, Colorado, menyerang sekolahnya di Columbine High School menyebabkan 13 orang tewas dan 24 lainnya terluka. Pada tanggal 2 Oktober 2006 Charles Carl Robert menyerang sebuah sekolah masyarakat Amish di Nickel Mines, Pennsylvania, dan menembaki 11 anak perempuan berusia 10-14 tahun, 5 di antaranya tewas. Robert lalu bunuh diri. Selengkapnya bisa lihat di sini dan di sini.

Kekerasan serupa tidak hanya terjadi di AS tapi juga di belahan dunia lainnya seperti di Skotlandia (1996) yang menewaskan 16 orang anak dan seorang guru, Israel (1997) yang menewaskan seorang anak sekolah, Aljajair (1998) seorang pelajar tewas, Thailand (2002) yang menewaskan 2 orang anak sekolah, Jerman (2002) yang menewaskan 14 orang guru dan dua orang pelajar, Rusia (2004) yang menewaskan sekitar 350 orang, dan Canada (2006) yang menewaskan satu orang.

Kasus Virginia Tech University termasuk tragedi penembakan di sekolah terburuk dalam sejarah AS. Betapa tidak, sebanyak 32 orang tewas dan 26 orang terluka dalam peristiwa tersebut. Profil singkat korban dapat dilihat di sini. Pelaku penembakan tersebut dilakukan satu orang bernama Cho Seung-hui (23 tahun), imigran yang berasal dari Korea Selatan. Si penembak melakukan aksinya pada waktu dan tempat yang berbeda. Lihat timeline ini. Insiden penembakan pertama kali terjadi pukul 07.15 waktu setempat di Asrama West Ambler Johnston. Dua orang tewas pada saat ini. Sekitar dua jam kemudian, terjadi lagi rentetan penembakan di ruang kuliah di Norris Hall. Di lokasi yang kedua ini 30 orang tewas terkena tembakan Cho Seung-Hui, dan dia juga mengakhiri hidupnya dengan menembakkan pistolnya ke kepala.

Kasus penembakan yang terjadi di kampus Virginia Tech University ini mengingatkan saya akan judul sebuah artikel di media online Kompas dan Republika ini. Sembari membaca artikel yang ini betapa mengagetkannya ternyata 3 dari 10 pria Amerika Serikat dan 1 dari 30 orang Inggris adalah psikopat. Kalau mengacuh pada data ini, tentu kita bertanya bagaimana pemimpin yang lahir dari negara-negara tersebut. Bukan tidak mungkin, pemimpin mereka adalah seorang psikopat.

Robert D. Hare menggambarkan seorang psikopat sebagai predator intraspesies yang menggunakan manipulasi, intimidasi, dan kekejaman untuk mengontrol lainnya dan untuk memuaskan kebutuhan egoisnya. Kurang waras dan sangat minim perasaan terhadap lainnya, mereka melakukan apa yang mereka inginkan dan melakukannya dengan darah dingin, melanggar norma sosial dan melebihi harapan tanpa sedikitpun rasa menyesal atau bersalah.

Hare dalam bukunya, Without Concience: the disturbing world of the psychopaths among us (1993) mengungkapkan, ada empat ciri utama seorang psikopat yakni karakter antisosial (antisocial), pribadi yang sulit diduga (borderline), pandai bersandiwara (histrionic), dan luar biasa egois (narcistic). Hare tegas-tegas mengategorikan keempat ciri ini sebagai kelainan kepribadian (personality dissorder). Sebagaimana gangguan kepribadian lainnya, psikopat bersifat pervasif, permanen, infleksibel, dan maladaptif.

Bagi yang belum pernah tinggal di luar negeri seperti saya, ada rasa khawatir berada di negara seperti itu. Apalagi kalau ternyata presiden atau perdana menteri-nya mempunyai kepribadian psikopat. Pada level Negara pun pasti khawatir punya “rekan” seperti ini. Bisa jadi, hal berbeda dirasakan mba Ninik atau mba Nia yang sudah mengetahui asam garam hidup di sana. Wajar kalau kita berandai-andai, apa jadinya dunia ini kalau orang-orang seperti itu masih bercokol memimpin?

Image is adapted from here.

KREDIBILITAS

Suatu hari ketika Imam Hasan Al-Basri sedang duduk di rumahnya yang sederhana datanglah utusan para budak dari kota Bashrah. Utusan tersebut berkata, “Ya Taqiyyuddin, majikan kami memperlakukan kami dengan buruk dan tidak berperikemanusiaan. Kami berharap pada khutbah Jumat yang akan datang Tuan bisa mengangkat permasalah yang kami alami. Supaya para pemilik budak melepaskan budak-budaknya dan tidak memperlakukan mereka dengan kejam.” Imam Hasan al-Bashri hanya diam tak berkomentar. Hari Jumat pun datang silih berganti, tetapi Imam Hasan al-Bashri tak juga berkhutbah sesuai dengan permintaan utusan para budak tadi. Barulah kemudian pada satu Jumat beliau menyinggung tentang keutamaan membebaskan budak dan dosa bagi mereka yang berbuat kejam terhadapnya. Ternyata khutbah tersebut banyak mendapat sambutan spontan dari para pemilik budak. Mereka bergegas membebaskan budak-budak mereka.

Akan tetapi peristiwa ini tidak membuat para budak merasa berterima kasih, tetapi mereka malah memprotes Hasan al-Basri karena khutbah itu disampaikan jauh hari setelah pengaduan mereka. Beliau pun menjawab,”Tahukah kalian mengapa aku menunda khutbah Jumatku itu?” ”Wallahualam,” jawab mereka. ”Aku menunda pembicaraanku tentang pembebasan budak, karena aku belum mempunyai uang untuk membeli budak. Setelah Allah SWT mengaruniaku uang untuk membeli budak, maka kemudian aku membebaskannya sesuai dengan tema pembicaraan ke dalam khutbah Jumat itu. Barulah kemudian aku memerintahkan orang lain untuk membebaskan budak mereka. Kaum muslimin akan menyambut seruan Rabbul ’alamin bila mereka melihat pembicaraan dan perbuatan sejalan!”

Demikian sekilas gambaran realitas sikap ulama di masa terdahulu. Lantas apakah realitas seperti Imam Hasan al-Basri dapat ditemukan di masa kini? Sebagian jika tidak mau dikatakan sebagian besar orang-orang saat ini justru berlomba-lomba untuk membaguskan kata-kata ketimbang keteladanan. Mulai dari pejabat pemerintah, anggota DPR , dan bahkan para dai sekalipun. Ummat kehilangan contoh yang baik untuk bisa dijadikan role model. Sehingga tidaklah mengherankan jika sebagian ummat juga lebih pintar berbicara ketimbang menerapkan apa yang dibicarakan.

Keselarasan antara perkataan dan perbuatan adalah perkara penting yang tidak bisa dianggap remeh. Islam mengajarkan agar kaum muslimin berhati-hati dengan apa yang diucapkannya. Sehingga adalah hal yang patut kita renungi bersama apa yang kita pikirkan setelah menyampaikan ceramah, pidato, pendapat, atau komentar kepada orang lain. Apakah kita masih berpikir:”Apakah retorika saya bagus dan memikat orang yang mendengarnya?” ”Apakah pidato saya akan membuat orang banyak terkagum-kagum?””Apakah komentar saya mampu menaikkan popularitas saya?””Apakah argumentasi saya akan menguntungkan partai atau jabatan saya?” Hasan al-Basri adalah salah satu mutiara yang hidup di masa lampau di mana sosok beliau patut untuk menjadi renungan bagi kita semua agar keteladanan tidak berakhir pada retorika.