Archive for March, 2007|Monthly archive page

OBAT BERMEREK

Postingan ini sebenarnya sebuah komentar yang saya berikan sebagai tanggapan terhadap tulisan tentang Penggunaan Istilah Obat Generik dan Obat Paten yang bisa Anda lihat di sini. Akan tetapi, setelah berulang kali gagal (mungkin terlalu panjang kali, ya?) maka saya memutuskan untuk memostingkannya. Sebelumnya, tulisan ini sebagian sudah saya kirimkan melalui e-mail kepada Priyadi. Hal ini semata-mata tanggung jawab sebagai praktisi yang bersentuhan dengan bidang yang dia tulis. Tentu, tidak ada maksud lain selain untuk mencari titik temu. Membiarkannya pada floatting area bisa menjadi diskursus bukan?

Menurut saya, karena mengklarifikasi istilah Paten dengan menggunakan perspektif hukum (UU tentang Paten) seharusnya dia menyertakan juga UU No 15 tahun 2001 tentang Merek. Undang-undang tersebut berada satu paket dalam Kompilasi UU RI di bidang Hak Kekayaan Intelektual. Untuk informasi lebih lengkap anda bisa mengunjungi Ditjen HKI di sini. Akibatnya, kita bisa terkecoh dengan kata “paten” dan kata “merek” dan melahirkan “usulan”penggantian istilah “obat paten” dengan “obat bermerek” yang menjerumuskannya ke dalam lubang kesalahan baru.

Seperti halnya Paten, maka Merek pun mempunyai “jangka waktu perlindungan hukum”. Bahkan, waktunya bisa lebih pendek dari masa perlindungan Paten. Berdasarkan UU No 15 merek terdaftar mendapat perlindungan hukum untuk jangka waktu 10 tahun dan berlaku surut sejak tanggal penerimaan permohonan merek bersangkutan. Nah, kalau menyebut suatu obat yang off patent sebagai obat bermerek, tentu tidak tertutup kemungkinan merek obat tersebut juga off certificate, bukan? Tentu akan menimbulkan pertanyaan apakah masih bisa disebut sebagai ”obat bermerek”?

Pemahaman saya tentang obat bermerek beranjak pada obat ethical (resep) dimana obat bisa disebut sebagai branded original drug, branded generic drug, dan untuk kondisi Indonesia ada istilah obat generik bermerek atau berlogo (OGB). Oleh sebab itu, saya menyimpulkan semua obat bermerek.

Untuk mengetahui apakah suatu invensi (penemuan) sudah berpaten atau tidak dan suatu merek sudah terdaftar atau tidak di Indonesia, dapat ditelusuri melalui Ditjen HKI. Di bawah Departemen Hukum dan perundang-undangan ada 2 buah direktorat yang berbeda yaitu direktorat paten dan direktorat merek. Sementara di luar negeri dapat melalui US Patent and Trademark Office, Japan Patent Office, dan European Patent Office. Karena pemerintah Indonesia termasuk negara yang menandatangani Final Act Embodying the Result of the Uruguay Round of Multilateral Trade Negotiations, yang mencakup Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPS), sudah tentu Indonesia juga mengakui paten dari negara yang ikut dalam perjanjian tersebut.

Pada kasus ini dicontohkan Norvasc (di akhir menggunakan huruf c), ini merupakan merek obat yang mengandung AMLODIPINE BESYLATE, yang beredar di United State dan beberapa negara belahan amerika yang lain. Merek ini sudah terdaftar pada US Paten dengan Serial Number 73659611. Selengkapnya lihat di sini. Oleh Pfizer, perusahaan yang memproduksinya, di Indonesia di beri merek Norvask (di akhir menggunakan huruf k). Dalam US Patent dapat diketahui bahwa yang menjadi invensi (penemuan) yang dipatenkan salah satunya adalah “Pharmaceutically Acceptable Salts”. Selengkapnya dapat Anda lihat di sini. Spesifikasi paten yang tercantum dalam abstrak adalah:“Improved pharmaceutical salts of amlodipine, particularly the besylate salt, and pharmaceutical compositions thereof. These salts find utility as anti-ischaemic and anti-hypertensive agents”. Selengkapnya dapat Anda lihat di sini. Jadi, yang menjadi paten-nya adalah AMLODIPINE BESYLATE, salah jenis garam amlodipine yang berkhasiat untuk antihipertensi dan antiiskemik.

Nah, AMLODIPINE BESYLATE ini diketahui sebagai nama zat yang terkandung dalam Norvask. Kalau zat yang terkandung tersebut dijadikan merek (merek dalam pengertian umum, bukan merek dalam perspektif UU NO 15) maka dia dinamakan Obat Generik. Tentu, obat seperti ini dapat diproduksi setelah masa perlindungan atas paten produk-nya sudah kadaluarsa. Biasanya di Indonesia obat ini diproduksi oleh perusahaan farmasi milik pemerintah.

Selain itu, apabila obat generik tersebut diberi LOGO (merek Generik) maka dinamakan Obat Generik Berlogo/Bermerek. Obat seperti ini dapat diproduksi oleh perusahaan farmasi swasta. Dengan kata lain, semua obat generik dapat merupakan obat yang bermerek dan tidak semua obat bermerek merupakan obat generik.

Pemerintah Indonesia mengakui paten dari AMLODIPINE BESYLATE ini, karena terikat dalam perjanjian TRIP yang telah saya disebutkan di atas (paten produk dan merek ini harus terlebih dulu diregistrasi di Indonesia sesuai dengan hak prioritas). Dengan demikian, AMLODIPINE BESYLATE baru bisa dipergunakan oleh perusahaan farmasi lain apabila masa perlindungannya tersebut sudah habis. Di Indonesia saat ini ada satu merek obat yang juga mengandung AMLODIPINE BESYLATE yaitu TENSIVASK (diproduksi Dexa Medika). Hal ini dibenarkan UU, apabila memang pemilik paten-nya, dalam hal ini Pfizer telah mengadakan suatu perjanjian tertulis dengan pihak Dexa Medika. Tidak mengherankan pada setiap brosur promosi TENSIVASK terdapat tulisan “BAHAN BERKHASIAT DARI PFIZER”. Apabila ada obat lain yang mengandung zat tersebut tapi sebelumnya tidak ada perjanjian tertulis dengan pemegang paten, maka ini dapat menimbulkan konsekuensi hukum.

Saat ini ada obat yang mengandung AMLODIPINE MALEATE (salah satu turunan amlodipine) yang beredar di Indonesia dengan nama dagang AMDIXAL (diproduksi oleh SANDOZ). Apabila obat ini mempunyai paten dan mereknya sudah terdaftar maka sudah pasti ini dinamakan obat berpaten dan bermerek. Akan tetapi, masyarakat sering menyederhanakannya menjadi “obat berpaten” atau “obat paten”. Kalau tidak maka bisa dikatagorikan sebagai “obat me too”, suatu istilah “halus” yang berkembang di kalangan marketing farmasi untuk “obat tiruan”.

Istilah yang berkembang seperti “obat berpaten”, “obat generik” atau juga “obat me too” kental beraroma bisnis. Media sangat berperan dalam menimbulkan simpisitas istilah ini. Obat paten (saya setuju pengunaan istilah berpaten) merupakan obat yang paten produk-nya masih berlaku sesuai dengan ketentuan UU tentang Paten, sementara obat generik menggunakan “merek” berupa zat yang terkandung di dalamnya. Akibatnya, kata “bermerek” tentu tidak tepat untuk menggantikan kata “berpaten”. Tentu juga tidak lucu kalau saat ini kita harus menyebut Norvask dengan “obat bermerek yang memiliki paten”, dan setelah bulan September 2007 nanti kita harus menyebutnya dengan “Obat bermerek yang pernah memiliki paten”, bukan?

Advertisements

MATEMATIKA ITU ‘MENYEHATKAN’

Matematika sering jadi momok bagi sebagian besar anak sekolah. Tidak hanya sekolah dasar, bahkan saat kuliah pun mahasiswa sering dibuat mumet dengan pelajaran yang satu ini.

Kalo Anda telah menemukan langkah kunci, ternyata matematika tidaklah serumit yang dibayangkan orang. Dia akan menjadi sesuatu yang mengasyikkan. Misalnya, penyelesaian persamaan aljabar di bawah ini yang imejnya telah saya modifikasi dari sini.


Kalau Anda disuguhi soal yang saya sitasi dari sini, pasti gak banyak makan waktu untuk menyelesaikannya. Anda hanya butuh 2 kali gerakan tangan.


Apalagi untuk soal berikut yang diambil dari sini, Anda pasti tidak sulit menemukan x, bukan?


Prosesor paling canggih pun tidak akan mampu menyamai kecepatan berpikir Anda bila menyelesaikan soal matematika yang disitasi dari sini. Dalam waktu sepersekian detik Anda pasti sudah menemukan jawabnya.


Atau, soal limit yang diambil dari sini akan memberikan pelajaran penting bahwa contoh soal tidak selalu dapat dijadikan acuhan.

Matematika juga bisa untuk having fun dengan teman. Ini tentu mengasyikkan dan lebih bermutu dibandingkan dengan sinetron Indonesia. Anda bisa mengambil salah satu bulan pada penanggalan masehi. Misalnya, bulan Maret 2007. Pilihlah 3 hari kedepan, lalu diikuti angka yang ada di bawahnya 3 baris dan 3 kolom sehingga seperti membentuk bangun bujur sangkar. Nah, penjumlahan seluruh angka yang ada dalam bujur sangkar tersebut akan sama dengan bilangan terkecil di tambahkan dengan 8 lalu hasilnya dikalikan dengan 9. Lihat kalender berikut yang telah difotoshopikasi dari sini.


Kalau Anda berminat berikut akan saya berikan sedikit ilustrasi. Misalnya, jumlah seluruh bilangan yang membentuk bujur sangkar (blue line) tersebut adalah 126, yang sama dengan hasil dari 6 (bilangan terkecil) ditambah 8, lalu dikalikan 9. Nah, Anda bisa maen tebak-tebakkan dengan teman bukan?

Asyiknya matematika itu kadang terletak pada ”kerumitannya”. Dia bisa menjadi olahraga bagi otak Anda. Silakan perhatikan 2 bangun segi tiga di bawah yang terdiri dari bangun-bangun kecil yang sama dan sebangun. Mulailah ‘berolahraga’ dengan mengamati bangun-bangun tersebut dan carilah dari mana celah itu berasal?. Saran saya Anda harus hati-hati karena salah-salah bisa mati penasaran oleh pics yang diadaptasi dari sini:

PEKAN APES

Dua pekan kemarin saya mengalami 3 peristiwa yang saya anggap apes. Apes pastilah peristiwa yang tidak menyenangkan, seperti halnya Mensesneg saat ini yang tersandung kasus AFIS (Automatic Identification Fingerprint System). Tentu bukan apes bagi the apes ini. Apes yang pertama (apes yang ironi) adalah saat saya kedatangan pasien seorang ibu yang datang bersama anaknya seorang nona. Ibu tersebut mengeluh demam, nyeri tenggorokan, dan tidak bisa menelan. Saya pun menyarankan kepada ibu tersebut untuk rawat inap oleh karena saya lihat kedua amandel-nya mengalami peradangan akut disertai detritus yang menyebabkannya sulit untuk makan/minum karena nyeri. Saya pun mengkonsultasikan kepada dokter spesialis THT. Setelah memeriksa pasien, dokter spesialis menyatakan bahwa pasien harus dirawat untuk menghindari kemungkinan komplikasi yang timbul. Akan tetapi, sang anak menolak. Dengan ketus dia berkata, ”Bapak saya masih dalam pesawat”! Mendengar hal itu, dokter spesialis THT pun meninggalkan ruangan. Lalu, nona itu meminta senter kepada perawat untuk memeriksa sendiri amandel ibunya. “Amandel ibu saya gak begitu rapat mengapa diinapkan”, ketusnya lagi.Saya pun berusaha untuk tenang menghadapi orang seperti ini. Pasien menolak untuk dirawat inap adalah hal biasa dan sering terjadi. Bagi saya hal itu tidak masalah dan menjadi hak pasien dan keluarganya. Yang agak ganjil adalah gaya penolakan nona tersebut yang terkesan “arogan”.

Saya mencoba bertanya baik-baik dengan nona ini. “Mbak ini, dokter atau mahasiswa kedokteran”? Mendengar pertanyaan saya, dia agak kaget dan seperti kena “skak”. Dia pun dengan pelan menjawab,” Saya mahasiswa kedokteran”.

Jawaban ini tidak mengagetkan bagi saya, karena saya sudah menangkap sinyalnya sedari tadi. Saya punya kesempatan berbicara. “Kalau Mba gak mau ibunya nginep gak apa-apa. Anda sudah berkesempatan bertemu dokter ahli dan sudah mengetahui sendiri alasan mengapa ibu Anda harus diinapkan. Keputusan tetap ditangan Anda”. Saya bertanya sekali lagi,”Apakah tetap akan membawa Ibu Anda pulang”? Keraguan tampak menyelimuti nona tersebut. Dia menuju pembaringan ibunya dan tampak terdengar percakapan sayup-sayup. Nona itu pun berkata,”Biar saya bawa pulang aja, Dok”. Nadanya kini lebih pelan nyaris tak kedengaran. Segera saya sodorkan form surat penolakan perawatan yang harus ditandatanganinya (karena sepertinya ibunya menyerahkan segala urusan dengan anaknya yang calon dokter ini). Saya masih sempat menangkap mukanya merah padam saat menandatangani surat penolakan tersebut.

Apes yang kedua (apes yang tolol) adalah saat kedatangan pasien seorang anak berusia sekitar 5 tahun. Menurut Bapaknya, sudah tiga hari ini batuk. Gak ada demam atau keluhan lainnya. Hanya batuk. Itupun sekali-sekali aja. Sedari tadi Bapaknya ngebet, ingin anaknya dirawat inap aja. Dia beralasan batuknya gak sembuh-sembuh walaupun dia sudah membawa anaknya berobat ke dokter spesialis anak.

Dia ngotot memasukkan anaknya, walaupun tanpa indikasi medis untuk rawat inap.Dia berkata,“Saya anggota DPR”.”Saya pake uang sendiri, berapapun saya bayar!” katanya lagi.

Saya paling malas kalau harus perang urat saraf seperti itu. Saya melaksanakan pekerjaan sesuai standar profesi saya. Oleh karena itu, saya sarankan untuk rawat jalan, sementara sang bapak menginginkan terapi rawat inap. Nah, ini artinya gak klop khan? Dia memesan kamar “wah“ super vip. Ujung-ujungnya ternyata pake uang rakyat juga alias asuransi. Gratis. Padahal menurut undang-undang ini termasuk kejahatan asuransi. Nah, lho.

Apes yang ketiga (apes yang konyol) adalah saat saya kedatangan pasien seorang pesepakbola sebuah klub divisi II yang sedang mengikuti even lokal di Banjarmasin.

Orangnya tinggi, hitam legam, dan berambut gimbal. Saya kira dia Didier Drogba. Habis mirip banget dengan pesepakbola asal Pantai Gading tersebut. Ternyata, dia orang Liberia yang hanya mengerti bahasa ibunya dan sedikit-sedikit bahasa Perancis.

Dia ditemani seorang temannya, juga pesepakbola, asal Brazil yang juga hanya mengerti bahasa ibunya. Saya ngedumel juga (dalam hati sih), “Koq nekat bener 2 makhluk ini”. Akhirnya, bisa ditebak terjadilah komunikasi tarzan. Dia mengarahkan jari telunjuknya ke pantat. “Injection”! suara beratnya muncul. “What’s injection for”? tanya saya. Dia pun lantas melakukan gerakan stepovers (gerakan berlari-lari di atas bola yang sering dipergunakan untuk mengecoh lawan). “Doping”!, “Doping”! kata temannya yang Brazil itu. Saya pun paham bahwa dia ingin diberi obat yang dapat membuat dia tampil bertenaga pada pertandingan besok hari. Walau even selevel divisi II ini tak bakalan ada tes doping, saya berkeras tidak memberikan obat yang terkatagori doping seperti terdapat dalam list obat doping yang dikeluarkan WADA.

Sebuah profesi mempunyai etika tertentu dalam menjalankan pekerjaannya. Pada tiga kejadiannya di atas betapa arogansi menjelma dalam bentuk yang berbeda. Perasaan superioritas yang diperankan oleh tiga pelaku utama di atas menggiring sebuah profesi ke dalam situasi yang rumit. Disadari atau tidak, mereka telah “menyandera” dan “menggiring” dokter ke jurang profesional crime.

Image is adapted from here

BEING A GOOD PARENT

Setiap orang tua pasti menginginkan agar anaknya menjadi anak yang shalih. Keinginan tersebut merupakan hal yang wajar mengingat anak shalih tersebut investasi terbesar bagi kehidupan dunia dan akhirat. Anak yang shalih tidak mungkin menyia-nyiakan orang tuanya. Anak yang shalih tidak mungkin membangkang perintah yang baik dari orang tuanya. Anak yang shalih-lah yang selalu mengaliri doa-doa untuk orang tuanya yang sudah tiada. Hanya saja harapan yang besar itu kadang tidak diikuti dengan usaha yang besar oleh para orang tua, bahkan tidak sedikit orang tua yang “durhaka” terhadap anaknya.

Petikan kalimat di atas merupakan penggalan tausyiah yang disampaikan oleh seorang ustaz pada acara “Aqiqah dan Tasmiyah” yang diselenggarakan oleh salah seorang kerabat hari Minggu kemarin. Apa yang disampaikan oleh ustadz tersebut memiliki daya tarik tersendiri bagi saya, karena selama ini yang sering saya dengar adalah contoh-contoh perilaku durhaka anak terhadap ortu. Namun kali ini materi yang disampaikan beliau mampu membuat saya merenung apakah saya telah menjadi orang tua yang baik bagi anak saya? Atau, jangan-jangan saya termasuk ortu yang “durhaka” terhadap anak.

Ustadz tersebut kemudian memaparkan salah satu perilaku durhaka orang tua terhadap anak diantaranya tidak memberikan pendidikan yang baik kepada anak kita. Pendidikan yang baik bukan hanya sekedar menyekolahkan mereka di sebuah sekolah yang bermutu.Namun memberikan contoh yang baik kepada anak kita. Ortu sebagai role model bagi anaknya. Apa yang dilakukan kedua orang tuanya akan dilihatnya dan terbenak dalam memorinya. Jangan harap anak akan bisa shalat tepat waktu, kalo ortunya saat waktu shalat tiba masih asyik menghabiskan waktunya di depan televisi untuk menonton sinetron. Jangan berharap anak bisa bertutur kata yang baik dan lembut, kalau kedua ortunya sering membentak dan mengeluarkan kata-kata tak pantas. Ketika mereka masih berada pada usia emas berapa kalikah dalam sehari kita membentak mereka dengan kata ”Diam!” atau ”Jangan nakal Kamu!”

Tausyiah tersebut cukup membuat saya untuk merenung. Apakah selama ini saya sudah maksimal dalam mendidik anak-anak saya? Anak adalah merupakan amanah dari Allah, kelak kita akan dimintai pertanggungjawabannya di sisi-Nya. Memelihara amanah memang tidaklah mudah tapi bukan berarti itu menjustifikasi kita untuk ”seadanya” memelihara anak. Kita harus berusaha optimal dalam menjaga amanah tersebut pada lingkaran yang masih bisa kita kuasai. Bagaimana hasilnya itu adalah urusan Allah, karena Allah hanya akan menilai apa yang diusahakan manusia. Allah tidak memberi balasan yang kecil untuk orang-orang yang menjaga amanah. Allah menjanjikan Jannatul Firdaus untuk mereka yang memelihara amanah.

Maafkan kami Nak, jika selama ini kami lalai dalam mendidik kalian. Terima kasih telah banyak memberikan pelajaran pada kami orang tua kalian tentang kedalaman makna kesabaran, ketulusan, pengorbanan, dan kasih sayang.