Archive for June, 2007|Monthly archive page

HI HEELS

Sepatu hak tinggi (high heels, hi heels) saat ini seolah sudah menjadi bagian dari passion kaum hawa. Padahal high heel dulu tidak hanya dipakai baik wanita tapi juga kaum pria untuk melindungi pakaian dari kotoran di jalanan. Prototipe high heel awalnya berasal dari Turki, dibuat pertama kali pada tahun tahun 1400. Awalnya disebut chopine yang beralas datar. Penggunaan chopine ini tergantung keperluan. Semakin tebal lumpur di jalanan maka semakin tinggi sol sepatu yang dipergunakan. Menurut sejarah, chopine mempunyai ketinggian dari 20 cm sampai 46 cm. Saat itu, chopine tidak berbeda antara kiri dan kanan.

Chopine terus mengalami modifikasi baik tinggi atau bentuk. Desainer Italia pada abad ke-16 berhasil memodifikasi chopine dengan meninggalkan bentuknya yang kaku, tapi tetap memberi kesan tinggi bagi pemakai. Sepatu dibuat menjadi dua bagian, yang lebih rendah di bagian depan serta tinggi di bagian tumit. Model sepatu inilah yang selanjutnya diadopsi kalangan industri.

Setelah revolusi industri kehadiran sepatu pump mematahkan arogansi high heel. Pump merupakan bentuk sepatu dengan hak yang sangat rendah (low heel). Akan tetapi, low heel hanya berusia sejenak, high heel kembali menarik perhatian pada pertengahan abad ke-18. Raja Louis XIV yang hanya mempunyai tinggi 1.6 m khusus dibuatkan high heel dengan tinggi 12.7 cm. Saat itu, high heel menjadi lambang kebangsawanan, kekuasaan, dan kekayaan seseorang.

Memasuki abad ke-19 sepatu mulai dibuat berpasangan, kiri dan kanan. Bagian tumit dibuat lebih tinggi sekitar 15 cm, dan menggunakan material kayu atau gabus. Kalangan industri menamakannya chaussures a port atau sepatu jembatan, sebab adanya arkus (lengkung) yang terbuka, atau karena bunyi ’klik’ nya sepatu ini disebut chaussures a cric. Biasanya, hak sepatu pada pria dibuat lebih besar dan lebih berat. Akan tetapi, seperti halnya pada wanita sepatu dengan hak kecil dan sangat tinggi saat itu populer di kalangan pria. Pria Inggris yang menggunakan high heel biasanya harus menggunakan tongkat agar tidak jatuh.

Setelah perang dunia kedua, high heel kembali menemukan popularitasnya. Pada tahun 1950, model Stiletto mewarnai dunia fashion. Model ini mempunyai tinggi sekitar 10 cm (4 in) dengan ujung hak yang sangat kecil (pin point). Hal ini dimungkinkan karena high heel dibuat dari bahan logam yang sangat tipis yang menempel pada bahan sepatu yang terbuat dari kayu atau plastik. Saat ini para desainer sepatu terus melakukan eksperimen untuk bahan dan ornamen yang akan dilekatkan pada high heel.

Konon, high heel mampu memberikan highlight pada gaya berpakaian seseorang. Makin tinggi, makin outstanding. Produsen sudah ‘mati-matian’ memberikan value added pada high heel semisal memberikan bantalan yang lembut (soft cushing pad), material yang ringan, toe box yang terbuka dan luas, serta dengan memberikan tali (strappy) di bagian belakang. Akan tetapi, hal itu tidak lebih sekedar memberikan ‘rasa nyaman’ pada saat high heel tersebut dipakai tapi tidak untuk menghilangkan dampak buruk yang mungkin timbul kemudian. Today’s fashion can be tomorrow’s pain.

Sudah rahasia umum bahwa dunia medis tidak pernah berpihak pada high heel. Alasannya, tidak melulu hanya pada kaki tapi yang lebih penting justru efek negatif pada tubuh. High Heel menyebabkan posisi tubuh terdorong ke depan dan ini mendorong pusat beban juga berpindah ke depan. Akibatnya, poros panggul dan tulang belakang keluar dari deretan (alignment). Hal ini rawan menimbulkan cedera tulang belakang. Apalagi bagi orang yang pernah mengalami cedera semisal patah atau mempunyai kelainan semacam skoliosis sebaiknya tidak menggunakan high heel karena dapat memperparah kelainan yang sudah ada. Pada saat berjalan wanita yang menggunakan high heel menjadikan sendi lutut sebagai tumpuan utama. Pergeseran titik tumpu tubuh ini menyebabkan wanita lebih rentan mengalami osteoartritis yaitu peradangan sendi terutama pada sendi lutut dan panggul. Kedua keadaan ini yang sering terlepas dari perhatian karena ‘letak’ kelainannya yang ‘jauh’ dari kaki.

Sepatu disebut high heels apabila tinggi hak lebih dari 3.5 inchi. Akan tetapi, dampak negatif sudah dapat timbul walaupun tinggi hak 1 inchi. Dampak high heels pada kaki sangat banyak diantaranya Hammertoe (kapalan) merupakan perubahan bentuk jari kaki berupa penebalan kulit di atas jari (corn) atau di bawah telapak kaki (callus). Hal ini bisa menjadi masalah, bisa juga tidak. Pada saat jempol masuk ke dalam ruang depan sepatu yang sempit, maka sendi jari tersebut seperti ’tertinggal’, lama kelamaan sendi membesar di bagian bawah dan sisi bagian luar. Pembesaran sendi pada jempol inilah yang dinamakan bunion (hallux valgus). Awalnya, bunion tidak nyeri tapi selanjutnya dapat mengalami pembengkakan dan sangat nyeri. Selain itu, saraf pada kaki dapat tertarik menimbulkan iritasi saraf yang disebut neuromas (Morton’s neuromas). Hal ini disebabkan tekanan sepatu saat dipergunakan untuk berjalan.

Ruang sempit sepatu menimbulkan penekanan pada kuku, yang menyebabkan kuku masuk ke dalam kulit sekitarnya disebut onychocryptosis atau unguis inkarnatus. Keadaan ini sangat nyeri disertai pembengkakan pada jari kuku yang terkena. Yang paling sering biasanya kuku jari jempol. Unguis inkarnatus memerlukan obat antibitoika disertai operasi kecil dengan cara membuang sebagian atau seluruh kuku yang terinfeksi. Selain itu, bagian belakang sepatu yang keras dapat mengiritasi tumit dan menimbulkan pembesaran tulang tumit (calcaneus) yang juga disebut Haglund’s deformity. Pemakaian high heels menyebabkan urat besar yang menghubungkan otot betis pada tulang tumit(Tendon Achilles) menjadi tegang ini menimbulkan nyeri pada tumit (Achilles tendonitis). Pada umumnya kelainan yang muncul akibat penggunaan hi heels ini menimbulkan gejala nyeri, rasa tidak nyaman di kaki, dan selanjutnya perubahan bentuk kaki (deformitas).

Pengguna high heels memang sebagian besar para wanita walaupun tidak tertutup kemungkinan juga ada pria yang menggunakannya. Siapapun Anda, kalau saat ini belum ingin mengatakan: Say No to High Heels, maka tips berikut dapat dipertimbangkan.

Image is adapted from here.

Advertisements

APA SALAH CANTIK?

Menjadi cantik bak seorang putri adalah harapan setiap wanita. Memiliki wanita yang cantik pun adalah impian setiap kaum pria. Berharap memiliki tubuh yang indah dan menawan adalah fitrah bagi setiap insan. Wanita yang cantik dicitrakan sebagai mereka yang memiliki bobot tubuh ideal, tinggi, wajah mulus bebas jerawat, berkulit putih, dan berambut lurus panjang. Wanita yang memilikinya dapat berbangga hati serta akan tersenyum lebar karena mereka disebut-sebut sebagai orang yang cantik. Akan tetapi, bagaimana dengan wanita yang berkulit gelap, bewajah pas-pasan, tidak tinggi, dan bahkan mungkin memiliki cacat secara fisik? Bisa jadi mereka akan “terluka” karena keadaan demikian telah dipersepsikan sebagai sebuah petaka.

Persepsi kecantikan yang dilihat secara physically terhadap wanita adalah langkah mundur . Karena hal demikian berarti memandang wanita sebagai objek untuk memuaskan orang yang memandangnya. Persepsi demikian berpotensi akan membangun sebuah masyarakat yang hanya sekedar menghargai “kulit” tetapi mengabaikan “isi”. Padahal sosok wanita terdahulu seperti Kartini atau Dewi Sartika, dikenal karena perjuangan mereka dalam memberikan kesempatan yang sama bagi wanita untuk memperoleh pendidikan. Paling tidak mereka mewakili sosok wanita Indonesia dulu yang lebih memperhatikan “tebar karya” ketimbang “tebar pesona”.

Media berperan menumbuhkan persepsi cantik secara massive melalui iklan-iklan produk kecantikan, sinetron, film, dan kontes-kontes kecantikan. Mereka berhasil mengaduk emosi pemirsa pada tataran yang hampir sempurna sehingga para wanita yang tadinya tercederai perasaannya pun secara membabi buta berusaha untuk menjadi cantik dengan berbagai cara mulai dari menggunakan krim pemutih, obat pelangsing, suntik silikon, sedot lemak, operasi plastik, dan lain-lain. Bahkan, demi ingin cantik, tidak jarang berusaha secara “irrasional” dengan membenamkan “implan” ke dalam tubuhnya melalui jasa seorang paranormal.

Seolah mereka kini serempak ingin mengatakan ”impossible is nothing!”. Produk-produk yang mengatasnamakan kecantikan pun pada tahun-tahun terakhir marak dikonsumsi. Padahal sebenarnya tidak ada produk-produk kecantikan yang seratus persen aman dan tidak memiliki efek samping. Bahkan, produk yang menggunakan bahan dari tanaman (bahan alam) sekalipun tetap mempunyai efek samping.

Produk pemutih kulit (skin lightening) misalnya, ini hanya efektif jika digunakan oleh orang-orang yang tidak banyak terpapar cahaya matahari dan harus dipergunakan terus-menerus. Namun, jika digunakan oleh seorang wanita yang sehari-harinya terpapar matahari, maka alih-alih ingin putih malah ”bencana” yang akan didapat. Efek samping dapat terjadi dari munculnya jerawat, kulit yang menghitam, atau malah sangat sensitif terhadap cahaya matahari (fotosensitif). Berlama-lama di bawah terik matahari akan membuat kulit memerah malah menghitam yang menjadi sulit dikembalikan ke warna asalnya.

Lantas salahkah mereka yang terlahir dalam keadaan yang dipersepsikan sebagai wanita cantik saat ini seperti Maudy Koesnaedy, Inneke Koesherawaty, Revalina S Temat, Aishwarya Rai, Maria Sharapova, Eva Mendez, dan juga para wanita yang ada di blogroll saya? Tentu akan sangat naif apabila ada orang yang menjawab ritoris ini dengan “ya”. Akan tetapi, keberadaan wanita yang memiliki keadaan yang berbeda dengan “mereka” yang saya sebutkan di atas tidak patut untuk diperlakukan secara diskriminatif bukan?

Semua manusia bagaimanapun dan dalam keadaan apapun berkesempatan yang sama untuk menjadi termulia karena kemuliaan seseorang dihadapan-Nya ditentukan oleh amal shaleh. Tuhan yang telah menciptakan manusia saja tidak mengukur kemuliaan kita dengan melihat dari wajah maupun bentuk rupa. Namun anehnya kadang kita manusia suka menentukan persepsi tersendiri tentang kriteria kecantikan. Lantas persepsi cantik menurut siapakah yang akan Anda pilih?

Image is adapted from here.

BE A REAL MAN

Pada saat kita menghadirkan buah hati di tengah keluarga maka selanjutnya kita akan berusaha memberikan kesempatan kepada buah hati itu untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Peran orang-orang di sekitar keluarga amat penting. Hal itu tidak hanya pada bagaimana sang ibu menyediakan waktu luangnya untuk sang buah hati akan tetapi sejauh mana sang bapak juga mampu menjamin ketersediaan waktu luang tersebut.

Perencanaan keluarga kapan untuk memiliki anak kembali, menjadi hal yang penting untuk dikomunikasikan. Pengaturan jarak kehamilan merupakan salah satu usaha agar proses mendidik dan merawat anak secara jasmani dan ruhani cukup terperhatikan. Apalagi, jarak antara dua kehamilan yang terlalu dekat sering menimbulkan efek kurang baik pada kesehatan ibu dan bayi. Ini bukan hanya menjadi tanggungjawab (responsibility) isteri tapi juga suami.

Sudahkah para pria mengawalinya dengan sebuah pertanyaan yang lebih bermartabat. “KB apa yang akan kita pergunakan nanti?” Bukankah kita lebih sering mengeluarkan sebuah pertanyaan kolot, “Kamu ingin pake KB apa?” “Suntik”,”Pil”, atau “Spiral”. Pilihan-pilihan represif yang menyudutkan wanita pada kondisi sine qua non. Tidak boleh tidak.

Pernahkah membayangkan Anda berada pada posisi mereka dengan menghabiskan waktu di ruang-ruang tunggu klinik kesehatan untuk antri mendapatkan suntik KB. Atau, membayangkan diri Anda tiap hari untuk minum pil atau tubuh kita ditanami sebuah “implan” selama bertahun-tahun? Tidak jarang kita mendengar gumaman yang diselingi canda para isteri,”giliran enaknya bersama tapi giliran sakitnya dipikul sendiri.” Bisa jadi, itu merupakan luapan perasaan untuk mengharapkan kepedulian (respect) dari suami.

Sudah saatnya pria menempatkan diri sebagai pihak yang “memulai”. Anggapan bahwa kontrasepsi hanyalah masalah wanita selayaknya sudah ditinggalkan. Bukankah pria sejati tidak mengenal istilah menerima saja (passivity), bahkan senantiasa menjaga keseimbangan antara kasih sayang (affection) dan penghargaan (appreciative) terhadap keluarganya?

Fakta yang cukup mencengangkan adalah metode kontrasepsi tradisional menempati urutan teratas di negara-negara maju. Fakta ini mengisyaratkan kepada kita selain partisipasi aktif juga “pandangan” para pria di negara-negara maju terhadap metode tradisional yang dipergunakan dalam kontrasepsi adalah positif. Selain itu, metode kontrasepsi tradisional dapat menjadi pintu masuk sekaligus solusi para suami dalam melakukan deal kontrasepsi ini dengan isteri.

Metode kontrasepsi tradisional ini tidak perlu alat dan meliputi sanggama terputus (coitus interruptus atau withdrawl) dan sistem kalender (periodic abstinence atau rhythm methods). Kelebihan cara ini dapat dikombinasi, yaitu apabila Anda “terlanggar” atau raga-ragu terhadap waktu subur isteri, maka Anda dapat melakukan withdrawl. Namun, metode demikian kurang populer di negeri ini, walaupun termasuk metode yang aman dan minus efek samping. Sudah sepatutnya suami proaktif dalam upaya mengatur kelahiran bukan hanya menggantungkan persoalan tersebut hanya kepada isteri. Don’t you want to be a real man?

Image is adapted from here.

HIGH ALTITUDE

Ketinggian tempat ternyata tidak hanya berhubungan dengan para pendaki gunung tapi juga berhubungan dengan para pemain sepakbola. Baru-baru ini FIFA mengeluarkan peraturan yang melarang dan meniadakan pertandingan sepakbola di dataran tinggi. Keputusan ini diambil setelah mendengar laporan Komisi Medikal tentang pentingnya kesehatan pemain dan fair play. Hal ini langsung ditanggapi pro dan kontra berbagai kalangan. Tidak tanggung-tanggung Evo Morales, Presiden Bolivia merupakan orang yang tidak setuju keluarnya pelarangan tersebut dan dia telah menggalang dukungan Internasional untuk menentang peraturan itu di sini dan di sini.

Bolivia merupakan negara yang paling berkepentingan atas keluarnya larangan tersebut karena sering menjamu tamunya di La Paz yang berada di ketinggian 3.600 meter di atas permukaan laut. Selain itu, negara seperti Ekuador (Quito, 2800 meter), Peru (Lima, 2950 meter), dan Kolumbia (Bogota, 2700 meter) juga akan terkena getahnya. Sejauh mana ketinggian suatu tempat berpengaruh terhadap kesehatan seseorang? Apa saja pengaruh ketinggian tempat bagi tubuh?

Ketinggian suatu tempat dari permukaan laut dapat diklasifikasikan menjadi ketinggian 1500 – 2500 m (5000-8000 ft) disebut Medium Altitude, di atas 2500-3500 m (8000 – 11500 ft) disebut High Altitude, 3500 – 5500 m (11500 – 18000 ft) merupakan Very High Altitude, ketinggian di atas 5500 m merupakan Extreme Altitude, dan diatas 8000 m merupakan Zero Death. Pada umumnya, ketinggian di bawah dari 2500 m (8000 ft) jarang menimbulkan gangguan kesehatan. Adapun gangguan kesehatan yang bisa ditimbulkan oleh karena high altitude ini dapat Anda lihat di sini.

Udara atmosfer sehari-hari yang kita hirup mengandung kurang lebih 21% (160 mmHg) oksigen. Semakin tinggi suatu tempat maka tekanan udara semakin turun, dan oksigen yang tersedia pun semakin “tipis”. Akibatnya, seseorang akan bekerja lebih keras untuk mendapatkan oksigen. Akan tetapi, tubuh kita mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap “ketersediaan” oksigen yang rendah yang disebut aklimatisasi. Proses ini berlangsung lambat biasanya memerlukan waktu dalam beberapa hari atau minggu.

Perubahan fisiologis tubuh yang terjadi selama berada di dataran tinggi merupakan bentuk kompensasi tubuh untuk beradaptasi dengan keadaan yang tidak biasa. Mekanisme itu dapat berupa hiperventilasi (bernapas cepat, lebih dalam, atau keduanya) sebagai upaya untuk mendapatkan oksigen lebih banyak dan pengeluaran karbondioksida. Kalau pada kondisi normal hiperventilasi terjadi pada saat kita beraktivitas (misalnya saat berolahraga), maka pada high altitude hiperventilasi terjadi walaupun dalam keadaan istirahat. Hiperventilasi “memaksa” ginjal untuk menyesuaikan diri dengan cara meningkatkan pengeluaran bikarbonat melalui urin dan hal ini mengikut sertakan cairan. Akibatnya, volume buang air kecil semakin banyak (diuresis).

Selain itu, level oksigen yang rendah merangsang ginjal untuk memproduksi Erithropoietin, dan selanjutnya merangsang sumsum tulang menghasilkan lebih banyak sel darah merah (polisitemia). Akan tetapi, keadaan ini justru kurang menguntungkan bagi tubuh karena peningkatan jumlah sel-sel darah merah menyebabkan darah menjadi kental (viskositas meningkat). Hal ini menimbulkan aliran darah di dalam pembuluh darah menjadi lambat, sehingga mempermudah terjadinya penyumbatan pembuluh darah (trombosis).

Apabila Anda berada di dataran tinggi tips berikut mungkin bermanfaat. Usahakan cukup cairan dengan minum sekitar 3-4 liter per hari. Makanlah makanan yang mengandung tinggi karbohidrat. Jangan beraktifitas berlebihan apabila Anda pertama kali berada di dataran tinggi. Terjaga lebih baik dari pada tidur sebab pernapasan menurun selama tidur, hal ini semakin menurunkan kesempatan memperoleh oksigen. Apabila tetap ingin tidur, lebih baik turun dulu ke tempat yang lebih rendah. Hindari tembakau, alkohol, dan obat penenang.

Image is adapted from here.