Archive for September, 2008|Monthly archive page

SELAMAT IDUL FITRI 1429 H

shakehandsBagi masyarakat yang telah mengenal tradisi bersalaman, biasanya mereka melakukannya dengan maksud atau beberapa motivasi. Pertama, bersalaman untuk meminta maaf atas kesalahannya. Kedua, bersalaman untuk tanda persahabatan. Ketiga, bersalaman karena kedua belah pihak telah lama tak berjumpa. Keempat, bersalaman karena untuk mempererat tali silaturrahmi. Sejalan dengan motivasi di atas, dalam praktik keseharian, tradisi bersalaman demikian mengakar kuat dilakukan oleh anak kepada orang tua, murid kepada guru, bawahan kepada atasan, dan oleh masing-masing sahabat terdekat.

Tradisi bersalaman dalam kondisi demikian sangat dianjurkan oleh agama. Bahkan ada satu hadis yang menjelaskan tentang terampuninya dosa seseorang yang senantiasa memelihara tradisi bersalaman. ”Bila dua orang muslim saling berjumpa, lalu keduanya bersalaman, kata Nabi SAW, maka kedua orang itu akan diampuni dosanya sebelum keduanya berpisah.” Dari hadis ini dapat dipahami bahwa bersalaman dalam ajaran agama tak hanya menjadi tradisi. Lebih dari itu, ia telah dilegitimasi oleh nilai nilai agama yang syarat dengan muatan-muatan sakral (ibadah). Bagi yang melakukan kegiatan bersalaman, yang bersangkutan tidak hanya meraih rasa syahdu atau keasyikan yang diluapi kegembiraan, tetapi ia akan memperoleh pahala sekaligus terhapus dosanya.

Di Lebaran Idul Fitri ini, kita merasakan betapa semaraknya kegiatan bersalaman di tengah masyarakat. Di antara mereka memang ada yang dengan tulus dan ikhlas melakukan tradisi bersalaman ini. Mereka tanpa pandang bulu berbaur bersalaman baik dengan anak-anak, tua jompo, miskin dan kaya, dengan harapan dapat saling memaafkan, memperkuat dan membangun kembali tali ukhuwah dan persahabatan.

Di sela-sela kegembiraan dan keikhlasan umat Islam menjalankan tradisi bersalaman, ternyata masih banyak di antara kita yang menyalahgunakan tradisi tersebut. Bersalaman yang semula bernilai sakral diubah bentuk sehingga kehilangan maknanya. Ia tidak lagi menjadi media ibadah yang dapat mempercepat tali silaturrahmi, tapi menjadi alat kepentingan kelompok terentu untuk mengembangkan relasi yang menarik margin keuntungan. Tak pelak lagi, tradisi bersalaman menjadi sarat dengan muatan materi secara pandang bulu dan menjadi elit. Tradisi bersalaman dilakukan oleh kelompok ini dengan cara membawa parsel atau bingkisan yang berharga mahal, yang diberikan kepada orang yang sebenarnya tidak layak disantuni. Tradisi bersalaman yang demikian, jelas bertentangan dengan misi silaturahmi dan merusak sendi-sendi kebersamaan, karena sikap ini cenderung berpihak kepada kelompok kuat, sementara kaum lemah dilecehkan.

Di Indonesia saat ini,  masih terdapat umat yang mendambakan bantuan sosial dan sentuhan kasih, hendaknya tradisi bersalaman tidak berjalan memihak yang menyebabkan kaum kuat semakin besar kharismanya, sementara kaum kecil semakin terkucil.

Oleh: Drs. Fauzul Iman, M.A disitasi dari Republika
Image from here.

Advertisements

TETAP FIT SELAMA PUASA

Marhaban ya Ramadhan, kaum muslimin di segenap penjuru dunia telah memasuki bulan kemuliaan yakni bulan Ramadhan. Pada bulan ini kaum muslimin yang telah akil baligh diwajibkan untuk menunaikan ibadah yang isimewa yaitu ibadah puasa .

Puasa atau shiyam secara syar’i bermakna menahan diri dari makan dan minum serta hal-hal yang dapat membatalkan puasa mulai terbit fajar sampai Maghrib. Selama berpuasa tidak ada asupan makanan dan minuman sehingga adalah hal yang wajar jika kadang muncul rasa lemas dan merasa lapar.

Rasa lapar selama puasa tentu tidak dapat dihilangkan sama sekali dan bahkan ada hikmah yang terkandung di balik ‘rasa lapar’ tersebut yaitu menumbuhkan rasa empati, memupuk rasa peduli terhadap orang miskin yang laparnya hampir sepanjang waktu. Namun kita tentu menginginkan bahwa ibadah puasa tidak menghambat kita dalam beraktivitas dan tetap bersemangat. Untuk itu, kita perlu mengetahui beberapa kiat berikut ini.

Yang pertama, kesungguhan niat untuk berpuasa. Kualitas pekerjaan seseorang sangat ditentukan oleh kualitas niatnya. Begitu juga dengan berpuasa. Kita diminta untuk memasang niat sebelum berpuasa yang akan melahirkan sebuah dorongan kuat untuk melaksanakan puasa dalam arti yang utuh, yaitu bukan sekedar mengendalikan lapar dan haus sejak fajar hingga matahari terbenam, namun juga mengendalikan seluruh anggota diri kita dan hati kita untuk patuh kepada-Nya. Dari sini kita beranjak bahwa setiap aktifitas kita di dunia ini tidak boleh terlepas dari pemahaman kita akan mengharapkan keridhaan-Nya.

Kualitas niat merupakan ketetapan dan kesungguhan hati untuk melaksanakan sesuatu disandarkan pada Allah swt semata. Secara medis, niat merupakan bagian fungsi luhur yang akan memengaruhi kerja otak. Otaklah yang mengendalikan semua perangkat kerja di dalam tubuh. Niat yang berkualitas akan menghantarkan kita menggapai hikmah puasa seperti yang disebutkan dalam Al-Quran agar kaum mukminin tersebut dapat menjadi orang-orang yang bertaqwa (Q.S Al-Baqarah: 183); puasa itu sangat baik bagi kaum mukminin, jika dipelajari (Q.S Al-Baqarah: 184); agar kaum mukmin tersebut menjadi orang-orang yang bersyukur (Q.S. Al-Baqarah: 185); agar kaum mukminin tersebut menjadi kaum yang selalu berjalan di jalan yang lurus (Q.S Al Baqarah: 186); dan agar kaum mukminin tersebut menjadi kaum yang selalu terpelihara (dari berbuat kejahatan) (Al-Baqarah: 187).

Yang kedua, agar tetap bersemangat dalam beraktifitas saat puasa diperlukan pengetahuan tentang pengaturan makanan selama bulan ramadhan dan pengelolaan aktifitas selama berpuasa yang membantu kita tetap berdaya (fit). Yang membuat tubuh tetap fit adalah energi yang berasal dari makanan yang kita makan. Salah satu sumber energi yang efisien bagi tubuh adalah gula atau glukosa yang terdapat dalam darah. Setelah makan, bahan bakar yang kita konsumsi akan segera diolah di dalam sel untuk memenuhi kebutuhan energi. Oleh karena itu, jika gula darah rendah kita jadi lemas.

Satu jam setelah makan sahur kadar gula darah memuncak, kemudian menurun seiring dengan pengolahan gula menjadi bentuk simpanan bahan bakar (glikogen) oleh jaringan di hati. Dua jam kemudian, kadar kembali ke rentang puasa (antara 80 sampai 100 mg/dL). Pada saat ini, suplai energi diambil alih oleh hati dengan memecah glikogen hati menjadi gula. Ternyata glikogen hati dapat menjadi sumber gula darah untuk kebutuhan otak selama 12 jam sampai 16 jam. Dengan demikian, puasa Ramadhan yang hanya sekitar 14 jam tidaklah mengganggu kesehatan.

Sumber utama glukosa darah berasal dari makanan yang mengandung karbohidrat seperti nasi, gandum,singkong, jagung. Meskipun lemak dan protein dapat diubah menjadi energi akan tetapi energi jangka pendek yang terbaik berasal dari karbohidrat.

Dalam perencanaan makanan, jumlah asupan kalori sehari selama bulan puasa kira-kira sama dengan jumlah asupan kalori sehari-hari. Perlu diperhatikan, dari 2.500 Kalori yang kita butuhkan sehari 65 persen energi sebaiknya berasal dari karbohidrat. Sisanya, berasal dari lemak (30 persen) dan protein (15 persen).

Pembagian porsi makan yang dianjurkan adalah 40 persen dikonsumsi waktu makan sahur, 50 persen waktu berbuka, dan 10 persen malam sebelum tidur (sesudah shalat tarawih). Jangan lupa selalu mengkonsumsi makanan bergizi baik pada saat sahur atau berbuka puasa. Walaupun menu sederhana, yang penting mengandung lima unsur gizi lengkap seperti karbohidrat, protein, lemak,vitamin, dan mineral.

Hal yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa kita tinggal di wilayah tropis, disadari maupun tidak disadari tubuh kita cenderung lebih banyak kehilangan cairan. Kecukupan cairan perlu dipenuhi dengan minum tidak kurang dari 1500 ml (7-8 gelas) sehari, terdiri dari 2-3 gelas waktu sahur dan 5 gelas dari buka sampai sebelum tidur.

Makan sahur sebaiknya dilambatkan sebagaimana yang juga disunnahkan oleh Rasulullah. Pada saat ini, sangat dianjurkan menyediakan makanan yang mengandung serat sebab mampu memperlambat pengosongan lambung dan memperlambat penyerapan glukosa oleh usus.

Kita juga dapat melakukan aktifitas fisik sehari-hari dengan wajar. Jika ingin berolahraga maka dapat saja dilakukan dengan memperhatikan waktu, jenis, dan intensitasnya. Alternatif waktu terbaik untuk melakukan olahraga adalah jangan dilakukan menjelang waktu berbuka, dengan asumsi bahwa persediaan energi sudah mulai berkurang. Saat yang tepat dan lebih rasional untuk berolahraga adalah seusai shalat Tarawih.

Seperti diketahui bahwa kelebihan kalori dari makanan yang dikonsumsi akan disimpan, terutama sebagai lemak dalam jaringan lemak. Pada minggu-minggu pertama puasa asupan kalori biasanya menurun, sehingga banyak orang yang berhasil menurunkan berat badannya. Akan tetapi, perlu disadari bahwa asupan kalori kemudian meningkat secara bertahap bahkan satu minggu setelah hari raya lebaran. Itulah sebabnya sangat baik untuk menjaga agar ibadah ramadhan terpelihara dengan puasa sunah selanjutnya, misalnya dengan puasa syawal. Dengan niat yang baik diikuti pengelolaan asupan gizi yang baik pula Insyaallah kita akan bersemangat menjalankan ibadah nan agung ini. Selamat berpuasa.