Archive for September, 2007|Monthly archive page

I AM BACK BUT SORRY ONLY FOR A MINUTE

Hampir sebulan lebih tidak blogging tentu banyak momen yang terlewatkan. Terutama cerita dari teman-teman blogger. Saking lamanya tidak posting, saya hampir lupa dengan password. Bahkan, blog ini sempat diblokir karena dikenali sebagai spam blog. Saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah mampir dan memberikan apresiasi baik melalui komentar selama blog ini rehat. Dalam kesempatan bulan suci ini perkenankan saya menghaturkan maaf karena belum sempat mampir ke blog teman-teman. Berbicara tentang ‘maaf’, konon tiap orang mempunyai beragam latar yang membuat kata itu terlontar. Sebagai bentuk manifestasi ‘pengakuan’ kesalahan yang dilakukan, kata ini seyogyanya diucapkan dengan tulus dari hati. Bukan sekadar basa-basi. Kata maaf dapat di haturkan karena ketidaksengajaan yang berakibat fisik kepada orang lain. Ada orang yang melontarkannya ketika tak sengaja menyenggol orang lain, menginjak kaki orang lain, menubruk atau sampai menabrak orang lain. Tak dinyana, kekhilafan menuntut permintaan maaf dari pelaku. Kata maaf juga dihaturkan karena ketidaksengajaan atau bahkan kesengajaan (?) yang berakibat psikis kepada orang lain. Misalnya, membuat orang lain kebingungan, mangkel, malu, dan bahkan sakit hati. Kebiasaan meminta maaf merupakan perilaku yang tidak dibentuk sekejap, tapi melalui proses panjang segenap interaksi yang terjadi dalam keluarga mapun lingkungan sekitar. Berawal dari ’pembiasaan’ sampai akhirnya menjadi ’kebiasaan’ yang positif.

Selain meminta maaf, ada sikap yang lebih penting lagi yaitu memberi maaf. Meminta maaf menunjukkan jiwa yang besar, tapi memberi maaf membuat jiwa menjadi kaya. Robert D. Enright, periset tentang keampunan, menyatakan bahwa memberi maaf merupakan faktor signifikan dalam penyembuhan yang bersifat psikis. Perbuatan memaafkan berarti respon kemurahan hati seseorang terhadap orang yang telah menyakitinya. Dalam memaafkan, orang mengganti perasaan negatif, pikiran negatif, dan perilaku negatif terhadap orang yang berbuat salah kepadanya dengan perasaan, pikiran, dan perilaku yang positif.

Memaafkan orang lain yang telah berbuat sewenang-wenang merupakan sebuah sikap yang paling mulia di dalam ajaran agama. Sikap ini tidak akan bisa dilakukan kecuali oleh orang-orang yang bersih hatinya, dimana ia lebih menyukai kebaikan ketimbang membalas kejahatan orang tersebut. Allah berfirman:” Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (Q.S Ali Imran:134). Semoga kita semua mampu menjadi orang yang ‘kaya’ hati.

Advertisements