Archive for the ‘Student’ Category

SELAMAT DATANG SEJAWAT


Setelah sekian lama akhirnya penantian itu tiba juga: menjadi dokter!. Perasaan senang pasti dirasakan oleh 16 orang adik-adik yang dinyatakan lulus pada yudisium dokter kali ini. Perasaan senang, suka, sedih, haru, plong haru biru menjadi satu. Dada mereka membuncah dan tawa-lepas sumringah. Kaki terasa ringan, melangkah enak mengikuti badan. Kelelahan setelah sekian lama menjalani rutinitas koasisten-jaga malam, laporan pagi, visite, jaga poliklinik, laporan kasus, dan ujian kasus-seolah hilang tak berbekas.

Seperti diketahui, untuk mendapatkan gelar dokter (umum), seorang mahasiswa kedokteran (yang telah bergelar Sarjana Kedokteran) harus terlebih dulu menjalani pendidikan profesi selama kurang lebih 2 tahun di rumah sakit. Di sini mereka ditempa tidak hanya pada “ranah terukur” (pengetahuan, keterampilan medik, dan sikap) tapi juga “ranah tak terukur” berupa pengalaman ‘hidup’ hasil interaksi dengan dokter, pasien, peserta koasisten lain, perawat, bidan, petugas administrasi, sanitarian, ahli gizi, dan lain-lain sampai cleaning service. Tak bisa dibantah, selama interaksi tersebut kadang timbul gesekan-gesekan yang terjadi. Itu hal yang lumrah, dan justeru itulah asam-garamnya. Pada situasi ini ada beberapa mahasiswa yang “menyerah” tapi jumlahnya tidak banyak.

Setelah yudisium, mereka akan memasuki ”real life” sebagai dokter. Mereka akan terjun ke dunia kerja yang tentu tidak semanis Dewi Yull dan lambat laun mereka akan mengetahui mengapa dokter Sartika hanya ”hidup” dalam sinetron. Saat ini tugas mulia dokter untuk mengurangi penderitaan dan memperpanjang harapan hidup pasien berhadapan dengan kompleksitas sistem yang telah terbangun. Dalam menangani pasien, dokter akan berhadapan dengan 2 kelompok penderita yaitu pertama penderita yang berpenghasilan rendah dengan pola penyakit didominasi oleh infeksi, malnutrisi, serta penyakit akibat environment dan personal hygine yang rendah. Kelompok ini sangat mendambakan adanya pelayanan kesehatan yang terjangkau dan mereka tidak menuntut teknologi yang canggih. Kelompok ini menempatkan pusat-pusat pelayanan kesehatan milik pemerintah sebagai prioritas pertama yang didatangi. Kalau kebijakan pemerintah masih menempatkan dokter sebagai ujung tombak pelayanan primer, tak dinyana masyarakat seperti itulah yang mayoritas akan dihadapi.

Kelompok kedua, merupakan sebagian kecil masyarakat yang berpenghasilan tinggi dengan status kesehatan dan pola penyakit mirip dengan negara maju seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, diabetes mellitus, obesitas, dan penyakit gangguan metabolik lainnya. Kelompok kedua ini diestimasi sebesar 2.5-5% dari penduduk Indonesia. Profil kelompok ini adalah masyarakat yang relatif berpendidikan tinggi, terkonsentrasi di kota besar, menuntut pelayanan yang berkualitas tinggi dengan teknologi mutakhir, kritis, dan sadar serta menghargai kesehatan. Masyarakat anggota kelompok ini menjadikan dokter spesialis, rumah sakit swasta, bahkan rumah sakit luar negeri sebagai alternatif pertama. Rasanya, dokter umum sangat kecil kemungkinan berinteraksi dengan masyarakat kelompok ini. Akan tetapi, siapapun kelompok masyarakat yang menjadi pasiennya, sine qua non seorang dokter yang bekerja pada institusi pelayanan primer harus mampu berperan sebagai care provider, decision maker, communicator, community leader, dan manager. Selamat datang sejawat! Selamat memasuki dunia nyata!

Advertisements

PERS KAMPUS

Di era teknologi informasi sekarang, pers kampus (baca=media tulis) masih diperlukan. Hal ini dilandasi oleh karena dia mempunyai kelebihan dalam hal sifatnya yang ”liat”. Dapat dibaca di kantin, di lobi, di koridor, atau dimanapun. Bahkan dapat diselipkan di antara diktat-diktat kuliah. Tulisan ini hanya sekedar sumbangsih (boleh dikatakan romantisme penulis) terhadap dunia tulis menulis masa lalu untuk para mahasiswa kedokteran yang ingin (mau) atau sedang mengelola sebuah penerbitan (buletin, majalah, dan lain-lain). Salah satu keterbatasan mahasiswa kedokteran adalah keterbatasan waktu untuk berkiprah di ekskul apalagi dunia pers mahasiswa yang akan menyita waktu yang tidak sedikit.

Menurut saya, kehadiran pers kampus dimana-mana apapun bentuknya-majalah atau koran-menurut pengelolanya, untuk membina komunikasi diantara segenap civitas akademika. Walaupun dengan berbagai macam atribut yang selalu melekat: ditangani seadanya berdasarkan kemampuan yang ada dengan satu atau beberapa orang aktivis,biasanya yang mempunyai bakat sastra atau menulis minimal punya semangat ”bersibuk-sibuk”, dan jadwal terbit yang ”Senin-Kamis”. Semangat tersebut seringkali kabur ketika ditemukan bahwa pers kampus tidak sekedar kumpul-kumpul dan begadang untuk membicarakan topik yang bisa menjadi kejutan bagi pembaca, tidak sekedar romantisme para pengelolanya, dan tidak sekedar repotnya mencari korban siapa yang mau menulis.

Pola isinya pun hampir seragam: artikel asal jadi, termasuk karangan yang diharapkan menjadi karangan ilmiah, kebanggaan kampus, puisi, cerpen, laporan kegiatan, dan tidak ketinggalan sentuhan humor melalui joke-joke atau beberapa kartun amatiran. Selanjutnya, tidak lupa tajuk dan daftar pengelola walau hanya sekedar numpang tenar lengkap sampai penasehat atau pengawas. Akhirnya, suguhan yang disajikan apapun bentuknya; majalah atau koran tidak lebih dari pseudoevent.

Seandainya keinginan para pengelola tanpa mempersoalkan darimana dana diperoleh untuk meningkatkan hubungan komunikasi dalam kampus, tidak pelak keterlibatan seluruh mahasiswa mutlak diperlukan. Barangkali, pertama-tama dengan menyediakan tempat dimana berbagai pemikiran mahasiswa bisa dimunculkan: surat pembaca, wawancara dengan rektorat atau dekanat tentang pengembangan kampus dan hambatannya, permasalahan sosial kemasyarakatan, dan tentang politik nasional atau internasional (misalnya, pemilu multipartai di negeri ini). Di era sekarang tidak relevan kiranya apabila kita menampilkan wajah pers kampus dengan manis penuh sensor.

Selain itu, artikel dan topik dapat dipilih menyangkut soal yang memang merupakan pergumulan mahasiswa seperti kehidupan mahasiswa kos jauh dari keluarga, mahasiswa berkeluarga, kesempatan dan peluang kerja, kelengkapan fasilitas kampus, sistem perkuliahan dan pembeljaran, dan lain-lain. Memotret dunia kampus sebagai Indonesia mini, misalnya tenatu sangat menantang. Banyak masalah yang menyangkut soal ketidakadilan, hak asasi, kesewenang-wenangan dan lain-lain terjadi dalam kampus. Dengan demikian, pers kampus diharapkan tampil dalam form yang serius, dalam pengertian bukan lagi pers kampus yang ”asal buat”, ”asal terbit”, apalagi ”asal ada”. Keseriusan inilah yang lebih lanjut lantas membedakannya dengan majalah dinding, komik, selebaran gelap, buletin kegiatan, dan jenis publikasi yang berkatagori ”tidak serius” lainnya.