Archive for the ‘High Altitude’ Category

HIGH ALTITUDE

Ketinggian tempat ternyata tidak hanya berhubungan dengan para pendaki gunung tapi juga berhubungan dengan para pemain sepakbola. Baru-baru ini FIFA mengeluarkan peraturan yang melarang dan meniadakan pertandingan sepakbola di dataran tinggi. Keputusan ini diambil setelah mendengar laporan Komisi Medikal tentang pentingnya kesehatan pemain dan fair play. Hal ini langsung ditanggapi pro dan kontra berbagai kalangan. Tidak tanggung-tanggung Evo Morales, Presiden Bolivia merupakan orang yang tidak setuju keluarnya pelarangan tersebut dan dia telah menggalang dukungan Internasional untuk menentang peraturan itu di sini dan di sini.

Bolivia merupakan negara yang paling berkepentingan atas keluarnya larangan tersebut karena sering menjamu tamunya di La Paz yang berada di ketinggian 3.600 meter di atas permukaan laut. Selain itu, negara seperti Ekuador (Quito, 2800 meter), Peru (Lima, 2950 meter), dan Kolumbia (Bogota, 2700 meter) juga akan terkena getahnya. Sejauh mana ketinggian suatu tempat berpengaruh terhadap kesehatan seseorang? Apa saja pengaruh ketinggian tempat bagi tubuh?

Ketinggian suatu tempat dari permukaan laut dapat diklasifikasikan menjadi ketinggian 1500 – 2500 m (5000-8000 ft) disebut Medium Altitude, di atas 2500-3500 m (8000 – 11500 ft) disebut High Altitude, 3500 – 5500 m (11500 – 18000 ft) merupakan Very High Altitude, ketinggian di atas 5500 m merupakan Extreme Altitude, dan diatas 8000 m merupakan Zero Death. Pada umumnya, ketinggian di bawah dari 2500 m (8000 ft) jarang menimbulkan gangguan kesehatan. Adapun gangguan kesehatan yang bisa ditimbulkan oleh karena high altitude ini dapat Anda lihat di sini.

Udara atmosfer sehari-hari yang kita hirup mengandung kurang lebih 21% (160 mmHg) oksigen. Semakin tinggi suatu tempat maka tekanan udara semakin turun, dan oksigen yang tersedia pun semakin “tipis”. Akibatnya, seseorang akan bekerja lebih keras untuk mendapatkan oksigen. Akan tetapi, tubuh kita mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap “ketersediaan” oksigen yang rendah yang disebut aklimatisasi. Proses ini berlangsung lambat biasanya memerlukan waktu dalam beberapa hari atau minggu.

Perubahan fisiologis tubuh yang terjadi selama berada di dataran tinggi merupakan bentuk kompensasi tubuh untuk beradaptasi dengan keadaan yang tidak biasa. Mekanisme itu dapat berupa hiperventilasi (bernapas cepat, lebih dalam, atau keduanya) sebagai upaya untuk mendapatkan oksigen lebih banyak dan pengeluaran karbondioksida. Kalau pada kondisi normal hiperventilasi terjadi pada saat kita beraktivitas (misalnya saat berolahraga), maka pada high altitude hiperventilasi terjadi walaupun dalam keadaan istirahat. Hiperventilasi “memaksa” ginjal untuk menyesuaikan diri dengan cara meningkatkan pengeluaran bikarbonat melalui urin dan hal ini mengikut sertakan cairan. Akibatnya, volume buang air kecil semakin banyak (diuresis).

Selain itu, level oksigen yang rendah merangsang ginjal untuk memproduksi Erithropoietin, dan selanjutnya merangsang sumsum tulang menghasilkan lebih banyak sel darah merah (polisitemia). Akan tetapi, keadaan ini justru kurang menguntungkan bagi tubuh karena peningkatan jumlah sel-sel darah merah menyebabkan darah menjadi kental (viskositas meningkat). Hal ini menimbulkan aliran darah di dalam pembuluh darah menjadi lambat, sehingga mempermudah terjadinya penyumbatan pembuluh darah (trombosis).

Apabila Anda berada di dataran tinggi tips berikut mungkin bermanfaat. Usahakan cukup cairan dengan minum sekitar 3-4 liter per hari. Makanlah makanan yang mengandung tinggi karbohidrat. Jangan beraktifitas berlebihan apabila Anda pertama kali berada di dataran tinggi. Terjaga lebih baik dari pada tidur sebab pernapasan menurun selama tidur, hal ini semakin menurunkan kesempatan memperoleh oksigen. Apabila tetap ingin tidur, lebih baik turun dulu ke tempat yang lebih rendah. Hindari tembakau, alkohol, dan obat penenang.

Image is adapted from here.

Advertisements