Archive for the ‘Contraception’ Category

BE A REAL MAN

Pada saat kita menghadirkan buah hati di tengah keluarga maka selanjutnya kita akan berusaha memberikan kesempatan kepada buah hati itu untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Peran orang-orang di sekitar keluarga amat penting. Hal itu tidak hanya pada bagaimana sang ibu menyediakan waktu luangnya untuk sang buah hati akan tetapi sejauh mana sang bapak juga mampu menjamin ketersediaan waktu luang tersebut.

Perencanaan keluarga kapan untuk memiliki anak kembali, menjadi hal yang penting untuk dikomunikasikan. Pengaturan jarak kehamilan merupakan salah satu usaha agar proses mendidik dan merawat anak secara jasmani dan ruhani cukup terperhatikan. Apalagi, jarak antara dua kehamilan yang terlalu dekat sering menimbulkan efek kurang baik pada kesehatan ibu dan bayi. Ini bukan hanya menjadi tanggungjawab (responsibility) isteri tapi juga suami.

Sudahkah para pria mengawalinya dengan sebuah pertanyaan yang lebih bermartabat. “KB apa yang akan kita pergunakan nanti?” Bukankah kita lebih sering mengeluarkan sebuah pertanyaan kolot, “Kamu ingin pake KB apa?” “Suntik”,”Pil”, atau “Spiral”. Pilihan-pilihan represif yang menyudutkan wanita pada kondisi sine qua non. Tidak boleh tidak.

Pernahkah membayangkan Anda berada pada posisi mereka dengan menghabiskan waktu di ruang-ruang tunggu klinik kesehatan untuk antri mendapatkan suntik KB. Atau, membayangkan diri Anda tiap hari untuk minum pil atau tubuh kita ditanami sebuah “implan” selama bertahun-tahun? Tidak jarang kita mendengar gumaman yang diselingi canda para isteri,”giliran enaknya bersama tapi giliran sakitnya dipikul sendiri.” Bisa jadi, itu merupakan luapan perasaan untuk mengharapkan kepedulian (respect) dari suami.

Sudah saatnya pria menempatkan diri sebagai pihak yang “memulai”. Anggapan bahwa kontrasepsi hanyalah masalah wanita selayaknya sudah ditinggalkan. Bukankah pria sejati tidak mengenal istilah menerima saja (passivity), bahkan senantiasa menjaga keseimbangan antara kasih sayang (affection) dan penghargaan (appreciative) terhadap keluarganya?

Fakta yang cukup mencengangkan adalah metode kontrasepsi tradisional menempati urutan teratas di negara-negara maju. Fakta ini mengisyaratkan kepada kita selain partisipasi aktif juga “pandangan” para pria di negara-negara maju terhadap metode tradisional yang dipergunakan dalam kontrasepsi adalah positif. Selain itu, metode kontrasepsi tradisional dapat menjadi pintu masuk sekaligus solusi para suami dalam melakukan deal kontrasepsi ini dengan isteri.

Metode kontrasepsi tradisional ini tidak perlu alat dan meliputi sanggama terputus (coitus interruptus atau withdrawl) dan sistem kalender (periodic abstinence atau rhythm methods). Kelebihan cara ini dapat dikombinasi, yaitu apabila Anda “terlanggar” atau raga-ragu terhadap waktu subur isteri, maka Anda dapat melakukan withdrawl. Namun, metode demikian kurang populer di negeri ini, walaupun termasuk metode yang aman dan minus efek samping. Sudah sepatutnya suami proaktif dalam upaya mengatur kelahiran bukan hanya menggantungkan persoalan tersebut hanya kepada isteri. Don’t you want to be a real man?

Image is adapted from here.

Advertisements