Archive for the ‘Biological Clock’ Category

BODY’S BIOLOGICAL CLOCK

Irama sirkadian merupakan perubahan fisik dan mental yang terjadi secara teratur setiap hari. Irama tersebut dikontrol oleh body’s biological clock yang terletak dan merupakan bagian dari otak dinamakan suprachiasmatic nucleus (SCN) yaitu bundel saraf (mengandung sepuluh ribuan sel saraf) berada di persilangan dua jaras saraf mata, berposisi sekitar 3 cm di bawah mata. Irama tersebut sampai saat ini diketahui berbeda-beda baik untuk keadaan tidur, terjaga, lapar, kepekaan terhadap obat, rasa nyeri, dan seks.

Tubuh manusia termasuk makhluk yang terjaga waktu siang (diurnal) dan cenderung tidur apabila malam. Akan tetapi, tubuh manusia bisa “diset” menjadi makhluk yang terjaga pada malam hari (nocturnal), seperti terjadi pada pekerja malam, atau yang pekerjaanya bergilir pada malam hari. Apabila terjadi perubahan irama kegiatan tubuh manusia, umumnya hanya perlu waktu sehari dua untuk menyesuaikan diri, kemudian berlangsung pulih seperti sediakala. Hal ini juga dapat kita temui pada orang-orang yang melintasi dua tempat yang mempunyai zona waktu yang berbeda. Tubuh mendadak mengalami perubahan akibat reaksinya dengan lingkungan di luar yang mendadak berubah dari malam jadi siang. Dengan demikian, irama tubuh berubah yang semestinya waktu tidur jadi waktu terjaga, dan sebaliknya. Keluhan yang mungkin timbul akibat perubahan mendadak itu apa yang kita kenal sebagai jetlag. Contoh, jika Anda (orang Palembang) melakukan perjalanan ke Menado. Di Menado, Anda akan merasa mengantuk saat alarm pagi hari berbunyi pada pukul 07.00 WIT, sebab jam tubuh Anda masih pukul 05.00 WIB.

Pada pagi hari produksi endhorphin tubuh sedang tinggi-tingginya, sehingga minum kopi tubruk bapak ini tidak terasa lebih panas di bandingkan sore hari. Selanjutnya, sekitar jam 11.00-an, daya ingat dan intelektual memuncak, sehingga pekerjaan yang memerlukan otak, bagus hasilnya jika dikerjakan pada jam-jam tersebut. Anda akan banyak kehilangan kesempatan baik apabila pada waktu tersebut lebih banyak dihabiskan di tempat tidur alias tidur.

Menjelang pulang kantor, metabolisme tubuh mulai berubah, sehingga sistem saraf otonom lebih bergiat dibanding jam-jam sebelumnya. Banyak berkeringat, napas agak berat, dan darah mengalir lebih deras ke kulit wajah merupakan bagian dari jam-jam menjelang pulang kerja. Detak jantung lebih kuat, sehingga perlu waspada jika berada dalam situasi stres atau berkontak dan berinteraksi dengan orang lain. Pada saat ini, apabila kita berada di tempat umum seperti dalam alat transpor semacam bus umum, mikrolet, dan kereta api tidak jarang berpandangan mata saja menjadi tatapan curiga, setiap percakapan bernada garang, dan penciuman kita menjadi sangat sensitif terhadap aroma keringat “tetangga” dibanding aroma keringat sendiri. Hal ini semakin membuat kita lebih sering menahan napas. Akibatnya, kadar karbondioksida dalam pembuluh darah makin tinggi sehingga membuat kita makin mual, “pusing”, bahkan kadang sampai muntah.

Pada sore hari menjelang waktu maghrib aneka hormonal tubuh mengalir dalam darah, tekanan darah harian mencapai level puncaknya, dan emosi mudah meledak. Waspada, jangan cari gara-gara atau perkara dengan siapa pun. Sebaiknya, tahan berbicara sebab pada jam-jam ini salah paham bikin gampang marah. Pada waktu-waktu begini sebaiknya kita sudah mandi. Dengan begitu badan terasa segar dan ‘hawa’ dingin diharapkan mampu membuat hati kita menjadi cool.

Menjelang tidur, sekitar pukul 23.00-an tubuh dalam kondisi sudah pada level paling lemah. Dalam kondisi ini tenaga sudah hampir habis. Tidur merupakan pilihan bijak. Akan tetapi, pada saat tengah malam sampai dinihari mesin tubuh bekerja paling lamban. Pasokan darah dan oksigen ke organ-organ tubuh jauh berkurang. Oleh karena itu, untuk mengembalikan pasokan yang optimal sangat dianjurkan bangun pada waktu-waktu tersebut (sepertiga malam) untuk melaksanakan aktifitas bermanfaat misalnya shalat malam. Selamat mencoba.

Other Source from here.

Image adapted from here.

Advertisements