IBU, TERIMA KASIH UNTUK TETAP MENJADI IBU

soulderoffortuneIbu adalah sosok yang sarat dengan pengorbanan, ketulusan, dan kasih sayang. Kesediaan mereka berkorban untuk melahirkan setelah mengandung selama sembilan bulan dengan perut yang buncit dan keadaan lelah yang bertambah-tambah. Dalam keadaan tidur yang tidak nyenyak, menanti kelahiran dari jam ke jam, menit ke menit dengan penuh rintihan dan erangan rasa sakit serta bertaruh nyawa sebagai perjuangan untuk memberikan jalan kehidupan bagi anaknya. Penantian itu bagaikan menunggu antrian memasuki syurga. Dan dikala melahirkan, kebesaran Allah telah menyelimuti ibu dan anak.

Islam telah menganugerahkan kedudukan mulia kepada perempuan yang menjadi ibu, “Bersungguh-sungguhlah dalam berbakti kepada ibumu, karena sesungguhnya surga itu berada di bawah kedua kakinya”, demikian disebutkan dalam hadits Nabi Muhammad SAW. Wanita yang bertarung nyawa saat melahirkan anaknya di beri pahala setara pahala mujahid. Mereka yang menanggung risiko kematian saat melahirkan diberi pahala setara pahala syuhada. Islam juga mengajarkan Ibu sebagai sosok pertama yang harus dihormati anak sebelum ayah seperti digambarkan saat Rasulullah di tanya sahabat siapa orang yang wajib kita hormati pertama kali. Beliau menjawab “ibumu”, “ibumu”, “ibumu” sampai 3 kali baru “bapakmu”.

Islam juga menempatkan posisi dan peran Ibu sebagai tugas utama kaum perempuan. Bahkan untuk menjamin terlaksananya peran ini Islam menetapkan beberapa hukum khusus bagi perempuan, misalnya kebolehan untuk meninggalkan puasa sewaktu hamil dan menyusui, berhenti puasa dan shalat ketika haid dan nifas, hanya boleh digauli suami dalam keadaan suci dari haid dan nifas, penundaan uqubat (sanksi) bagi ibu hamil dan menyusui, serta memberikan hak pengasuhan kepada ibu selama anak masih kecil.

Namun, saat ini kita melihat adanya kecenderungan pada sebagian kaum perempuan yang merasa inferior ketika ‘berprofesi’ sebagai ibu (rumah tangga) saja. Bahkan mungkin kini profesi itu dianggap sebagai bentuk ketidakadilan bagi kaum perempuan. Profesi ibu yang hanya bergelut dalam sektor domestik dianggap tidak bernilai, jauh dari penghargaan dan aktualisasi diri. Sehingga berperan di sektor publik atau menjadi wanita karier yang memberikan penghargaan dalam bentuk materi dan status dianggap lebih menguntungkan bagi kaum perempuan dibandingkan jika harus menghabiskan hari-harinya hanya dengan urusan ‘dapur’, ‘sumur’, dan ‘kasur’? Tidaklah mengherankan jika sekarang juga terdapat anggapan bahwa hanya berada di rumah bersama anak-anak sebagai sebuah penjajahan bagi kaum perempuan dan menjadi Ibu bukanlah jati diri perempuan.

Sebagai seorang laki-laki saya bukanlah seorang yang anti wanita karier, namun bagi saya pengorbanan seorang Ibu tidak akan bisa dibandingkan dengan apapun dan tak akan pernah tergantikan apalagi diabaikan. Keberadaan Ibu sebagai sosok yang memiliki peranan penting dan tak akan tertandingi adalah realitas yang tidak dapat terbantahkan sepanjang sejarah kehidupan manusia. Sulit untuk menafikan pendapat yang mengatakan bahwa Ibu adalah sekolah yang utama dan pertama bagi anak-anaknya.

Ibu adalah sosok yang sangat dekat, sosok yang pertama kali berinteraksi dengan anak sejak masih dalam kandungan. Bukankah perasaan ibu dikala kehamilan berpengaruh langsung kepada anak? Bukankah detak jantung ibu dirasakan oleh janin? Ketentraman seorang ibu ketika hamil berpengaruh kepada ketenangan janin. Bukankah perkataan yang keluar dari mulut seorang ibu adalah doa dan harapan bagi anak-anaknya? Ketika menyusui, bukankah ibu telah mengajarkan rasa aman? Tatkala menidurkan anak dalam buaian bukankah ibu telah mengajarkan kasih sayang? Saat ibu melatih anak berjalan bukankah ibu telah mengajarkan semangat untuk berjuang? Saat menangani perselisihan anak bukankah ibu mengajarkan keadilan? Ibupun menjadi pendidik yang paling penting agar anaknya memahami kejujuran, empati, dan tanggung jawab. Dan yang terpenting ibulah yang pertama kali mengajarkan anak tentang Tuhannya, pada siapa dia harus tunduk dan patuh. Terima kasih Ibu, terima kasih karena tetap menjadi matahari bagi keluarga. Selamat Hari Ibu.

3 comments so far

  1. abu faiz on

    assalaamualaykum…
    afwan dok ana hanya mo memberi tahu bahwa hadist surga di bawah telapak kaki ibu itu dhaif jadi sebaiknya ga usah di cantumkan aj
    wassalaamualaykum

    • mashuri on

      #abu faiz
      terima kasih atas koreksinya dan telah saya koreksi dengan hadis (riwayat yang di keluarkan oleh Imam Nasa’i dan Thabrani) dengan sanad hasan seperti yang tertera.

  2. hendra on

    IBU.. betapa besar jasamu.

    Saya punya info bagus.
    Sebuah bundle informasi yang saya jamin bagus buat anda
    Informasi tentang bagaimana membuat bisnis online sendiri, bagaimana agar eksis di search engine

    manapun, sampai membuat website profesional dengan wordpress.org (bukan wordpress.com lo ya..) juga

    bagaimana script membuat web iklan baris (dapat langsung diaplikasikan sehingga bisa nambah pemasukan)

    semuanya ada disini
    Salam hangat.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: