MEM-FREEPORT-KAN PENDIDIKAN KEDOKTERAN

Judul di atas mungkin terdengar aneh dan tidak nyambung. Namun, mari kita cermati tulisan ini sehingga dapat kita pahami bahwa saat ini yang diisap dan dieksploitasi dari bangsa ini bukan hanya kekayaan alamnya, tetapi juga penderitaan masyarakatnya.

Dalam pernyataannya yang dimuat Republika 9 Juni lalu, Pembantu Rektor I Universitas Diponegoro mengungkapkan bahwa secanggih apa pun laboratorium yang dimiliki Malaysia dan negara-negara maju lainnya, ada laboratorium yang mereka tidak bisa buat, yakni laboratorium pasien. Hal itulah yang membuat mereka sangat ingin belajar di perguruan tinggi di Indonesia, termasuk Undip.

Pernyataan ini mengingatkan pada sekitar delapan tahun lalu ketika saya mulai menjalani program profesi pendidikan dokter (koasistensi) di FK UGM. Saat itu setiap tahun, sekitar Juni–Agustus, berdatangan mahasiswa-mahasiswa kedokteran dari Eropa/Amerika untuk melakukan semacam studi eksekursi, mengisi waktu liburan musim panas mereka.

Ketika saya tanya, mengapa Indonesia? Mereka menjawab bahwa Indonesia sangat kaya dengan penyakit-penyakit infeksi dengan kasus beragam dan banyak yang hanya dapat dijumpai di negara tropis. Terus terang saja, saat itu pernyataan ini lebih terasa menyakitkan daripada menyanjung.

Saya kemudian sungguh terkejut bagaimana Pak Pembantu Rektor (PR) I Undip dapat mengemas pernyataan ini menjadi terdengar seperti sanjungan. Masyarakat Indonesia dewasa ini sangat direpotkan dengan luar biasa mahalnya biaya pendidikan yang dibebankan pada peserta didik, terutama pendidikan dokter yang isunya paling mahal.

Demikian pula dengan para pengelola perguruan tinggi kedokteran di Indonesia harus memutar otak menguras ide demi menghidupi jalannya perguruan tinggi mereka. Mulai dari berjualan kelontong hingga membuka bermacam-macam jalur pendaftaran mahasiswa, yang mereka istilahkan dengan subsidi silang. Ini semua, mafhum kita pahami, akibat ketidakpedulian pemerintah pada sektor pendidikan, terutama pendidikan tinggi.

Salah satu di antara program inovasi yang dijalankan pengelola perguruan tinggi kedokteran adalah dibukanya program internasional. Bukan hanya peserta didiknya mahasiswa asing, bahasa Inggris sebagai pengantar kuliah, serta pendidikan berstandar internasional (yang tentunya masih penuh perdebatan dan tanda tanya, seperti apa pendidikan berstandar internasional itu?), tetapi juga yang sangat penting mata uang untuk pembayaran seluruh biayanya pun dinyatakan dengan dolar AS.

Apa yang dapat dijual? Setidaknya ada tiga faktor. Pertama, keragaman dan banyaknya penyakit infeksi tropis dan penyakit-penyakit lain yang hanya dapat dijumpai di Indonesia dengan kasus yang banyak. Kedua, relatif rendahnya biaya hidup dan biaya pendidikan. Ketiga, keamanan yang relatif terjaga dibanding harus pergi ke Afrika, misalnya.

Faktor pertama di atas adalah sebuah fakta yang menyatu dengan identitas Indonesia sebagai sebuah negara tropis. Dalam makna yang luas dan sedikit karikatural, dapatlah disebut sebuah kekayaan. Seperti halnya ketika puluhan tahun yang lalu hingga saat ini, petinggi-petinggi Indonesia menjual berbagai kekayaan mineral alam negerinya kepada pihak asing. Jika kekayaan mineral itu dapat dibanggakan sebagai karunia Allah SWT, dapatkah kita membanggakan keragaman dan kekayaan kasus-kasus infeksi tropis itu sebagai karunia Allah SWT?

Banyak yang dapat diambil contoh. Program penanggulangan TBC dimulai oleh WHO di Indonesia sejak pertengahan 1970-an dan sampai kini tidak pernah dinyatakan bebas TBC malah kasusnya makin banyak dan sulit ditangani. Dari tahun ke tahun setiap musim hujan, demam berdarah selalu menjadi KLB.

Kawasan Indonesia Timur tidak pernah dapat melepaskan predikatnya sebagai kawasan endemik malaria. Puluhan tahun Indonesia menyandang predikat tertinggi angka kematian ibu yang sebagian besarnya disumbang oleh masalah infeksi.

Tahun-tahun belakangan ini kasus-kasus itu diperkaya lagi dengan kasus-kasus flu burung, chikungunya, leptospirosis, dan lain-lain. TBC, malaria, demam berdarah, flu burung, leptospirosis, chikungunya, infeksi puerpueral, inilah kekayaan kasus yang mengundang mahasiswa-mahasiswa asing datang ke Indonesia.

Kasus-kasus itu mungkin saja dapat mereka jumpai di negara mereka yang tropis (seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand). Namun, dengan jumlah yang jauh lebih kecil dan variabilitas kasus yang jauh lebih rendah.

Menyakitkannya lagi, pusat-pusat pelayanan kesehatan dan penelitian tercanggih untuk menangani kasus-kasus itu tidak terdapat di Indonesia, tapi di negara-negara yang pernah mempelajari dan melihat kasus-kasus itu di Indonesia. Harvard Medical School memiliki fasilitas pelayanan dan penelitian TBC tercanggih di dunia dan hanya satu yang tidak mereka miliki, kasus/pasien TBC.

Thailand saat ini menjadi center of excellence di kawasan Asia Tenggara untuk pelayanan dan penelitian infeksi-infeksi tropis. Pusat-pusat pelayanan dan penelitian Malaria tercanggih justru berada di Inggris dan Amerika. Di Indonesia?

Kembali kepada pernyataan Pak PR I Undip, mungkinkah ada negara di dunia ini yang mau menghabiskan dananya untuk membuat laboratorium pasien yang penuh berisi pasien-pasien infeksi tropis dengan kasus-kasus yang variatif? Ataukah mereka cukup mencari negara yang tidak kunjung menyelesaikan masalah kesehatannya sehingga di dalam negara itu dapat dijumpai macam-macam pasien infeksi tropis dengan variasi kasus yang luar biasa?

Bukankah cerita ini mengingatkan kita pada Freeport, di mana kekayaan alam kita yang luar biasa banyak dan berharganya diisap habis? Hanya secuil manfaat yang didapat Indonesia dan berlimpah manfaat yang didapat pihak asing.

Sungguh prihatin ketika masyarakat yang menderita, pasien-pasien yang menderita, berharap banyak pada orang pandai negeri ini mereka justru dijadikan alat. Wahai pemerintah, di manakah engkau?

Tulisan Dr. Teguh Haryo Sasongko, Ph. D disitasi dari Republika

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: