SEMAKIN BANYAK MAHASISWA ASING DI FK NEGERI

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menyesalkan semakin banyaknya mahasiswa asing yang kuliah di fakultas kedokteran di beberapa universitas negeri di Indonesia. Sementara itu, probabilitas siswa SMA di Indonesia untuk masuk fakultas kedokteran hanya 4 persen.

”Bayangkan, probabilitas siswa asal Malaysia yang masuk fakultas kedokteran di Indonesia mencapai 30 persen. Waktu di Rumah Sakit Sanglah, Bali, saya kaget, kok banyak mahasiswa berwajah India, ternyata mereka berasal dari Malaysia,” kata Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari dalam rapat kerja dengan Panitia Ad Hoc III dan IV Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Jakarta, Rabu (18/6) siang.

Menurut Menkes, di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar saja ada sekitar 300 mahasiswa asing. Demikian pula di Universitas Padjadjaran Bandung, Universitas Negeri Sebelas Maret Solo, dan perguruan tinggi negeri lainnya.

”Alasan perguruan tinggi negeri menerima mahasiswa asing hanya karena ingin dibilang world class. Yang saya sedihkan, mahasiswa asing ini praktik di rumah sakit pendidikan yang dananya dibiayai oleh pemerintah,” tutur Menkes.

Menurut Menkes, Indonesia masih sangat kekurangan tenaga dokter. ”Jika mahasiswa asing itu nantinya lulus, mereka bisa langsung menjadi dokter di Indonesia tanpa adaptasi, sedangkan dokter-dokter kita bisa jadi kuli. Ini sangat ironis,” tutur Menkes.

Menjawab pertanyaan anggota DPD tentang rumah sakit pemerintah yang tidak menyetor ke kas daerah, menurut Menkes, rumah sakit pemerintah itu secara konstitusional wajib melayani rakyat. Rumah sakit pemerintah boleh mendapatkan untung, tetapi tidak boleh mencari keuntungan sebagai tujuan utama rumah sakit.

”Saya dulu kaget saat semua rumah sakit akan dijadikan perseroan terbatas. Ini berarti nantinya rumah sakit akan komersial dan rakyat tidak dapat berobat murah. Makanya saya berjuang dan rumah sakit kini berstatus Badan Layanan Umum atau BLU yang disubsidi oleh pemerintah,” ujarnya. Konsekuensi BLU, rumah sakit tidak menyetor ke kas daerah, tetapi bupatilah yang harus melayani rakyatnya, bukan mencari uang dari rakyatnya yang sakit.

Source:1 dan 2.

1 comment so far

  1. Mufti AM on

    Iya nih, semakin lama RS di Indonesia ini semakin tinggi nilai komersilnya. Gak perduli yang milik pemerintah atau swasta, pelayanan buat rakyat golongan ekonomi lemah pun kian sulit terutama masalah pembayaran.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: