HARI TANPA TEMBAKAU SEDUNIA 2008

Setiap tanggal 31 Mei diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Untuk tahun ini, temanya adalah Tobacco-Free Youth. Secara global, sebagian besar orang mulai merokok sebelum usia 18 tahun, sekitar seperempatnya mulai sebelum usia 10 tahun. Selanjutnya, sebagian besar mereka akan menjadi pemakai tembakau yang reguler, dan hanya sedikit yang berhasil keluar dari kebiasaan tersebut.

Tembakau dalam bentuk produk apapun berbahaya. Entah itu rokok, rokok pipa, kretek, rokok beraroma cengkeh, rokok tanpa asap, cerutu, semuanya berbahaya. Bahaya tembakau atau rokok sudah tak terbantahkan lagi. Dalam kepulan asap rokok terkandung sekitar 4000 racun kimia berbahaya, dan 43 diantaranya bersifat karsinogenik yaitu merangsang tumbuhnya kanker. Selain itu, asap rokok meningkatkan risiko wanita hamil melahirkan bayi berat badan lahir rendah, kematian bayi dalam kandungan, dan adanya komplikasi pada saat melahirkan. Pada anak-anak, paparan asap rokok meningkatkan kecenderungan terjadinya gangguan saluran napas dan menurunkan fungsi paru (bernafas). Rokok juga merupakan pintu masuk pergaulan bebas dan narkotika.

Ada hubungan yang sangat kuat antara iklan rokok dengan kebiasaan merokok anak muda. Secara sistematis, industri rokok mengajak jutaan anak untuk sejak dini mulai gemar merokok. Iklan-iklan rokok di mana-mana, seolah tidak ada lagi ruang kosong yang ramah anak dan bebas dari dominasi iklan rokok. Mulai dari billboard, spanduk, umbul-umbul, iklan di media cetak ataupun elektronik, kaset atau film sampai ke seminar-seminar pendidikan pun tak luput dari promosi rokok. Materi iklan rokok pun menunjukkan segmentasi pasar yang dibidik. Bahwa merokok adalah baik. Merokok identik dengan nikmat, berani, macho, trendi, kebersamaan, santai, optimistis, penuh petualangan, kreatif, dan segudang istilah lain lagi yang membanggakan. Tampaknya, seluruh kegiatan pemasaran industri rokok merupakan rangkaian sistematis yang bertujuan menjerat remaja menjadi perokok pemula.

Keadaan semakin mengkhawatirkan dengan meningkatnya jumlah perokok anak 5 – 10 tahun. Pada periode 1995 – 2001 jumlah perokok kelompok umur ini berkisar 0,4 – 0,6%, namun pada periode tiga tahun berikutnya, 2001 – 2004, meningkat drastis hampir 4 kali lipat yaitu 1,8%. Pada 2007, jumlah keluarga miskin (gakin) di Indonesia,sebesar 19 juta jiwa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 2/3 laki-laki gakin merokok, sehingga 12 juta kepala keluarga gakin adalah perokok Belanja rokok orang miskin 23 triliun/tahun, sementara APBN untuk DEPKES hanya 17 triliun. Sedangkan belanja makanan pokok anjlog dari 28% menjadi 19%. Jangan heran, mengapa banyak ditemukan busung lapar di tengah keluarga miskin, karena alokasi makanan pokok dialihkan untuk membeli rokok. Rokok, bagi keluarga miskin justru memiskinkan orang miskin.

Saat ini, Indonesia sebagai satu-satunya Negara di Asia Tenggara bahkan Asia Pasifik yang belum menandatangai FCTC, padahal sejak awal (selama kurun waktu 2000-2003) Indonesia termasuk negara yang membidani dan menjadi kontributor yang aktif bagi lahirnya dokumen tersebut. Dalam pertemuan-pertemuan Intergovermental Negotiating Body (INB) delegasi Indonesia selalu hadir dengan timnya yang kuat dalam 6 kali pertemuan INB tersebut; namun pada detik terakhir, delegasi Indonesia tidak jadi diberangkatkan untuk menandatangi dokumen tersebut. Alasan yang dikemukakan oleh pemerintah pada waktu itu adalah alasan klasik seperti: tingginya tingkat konsumsi rokok kita, Indonesia termasuk dari lima Negara produsen tembakau terbesar di dunia, cukai dari rokok mencapai 50 trilyun rupiah, dan Indonesia memiliki 2000 perusahaan indsutri rokok dengan jumlah pekerjanya mencapai ratusan ribu orang. Sehingga perdebatannya justru didikotomikan antara para petani tembakau dan kesehatan masyarakat. Padahal secara faktual, para petani dan buruh pabrik rokok juga adalah korban dari penghisapan keuntungan industri rokok kita dan internasional. Social cost yang diderita anak-anak, remaja, pemuda, kaum perempuan dan warga miskin sangat besar. Belum lagi maraknya kasus narkoba saat ini justru pintu masuknya dari kebiasaan merokok yang akut karena cirri dan modus operandinya adalah sama yaitu adiksi.

FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) atau Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Masalah Tembakau adalah suatu perjanjian internasional yang diadopsi oleh 192 negara anggota World Health Assembly (WHA), badan tertinggi PBB yang mengatur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Setelah 40 negara mensahkan FCTC melalui proses domestik mereka, dan sampai saat ini 168 negara telah meratifikasi FCTC. Maka, FCTC akan berlaku dan mempunyai kekuatan mengikat sebagai hukum internasional. FCTC, adalah perjanjian kesehatan global dan perjanjian pertanggung-jawaban industri tembakau pertama yang akan menyelamatkan berjuta-juta jiwa dan merubah cara industri tembakau beroperasi secara serentak. FCTC, selain mengatur soal larangan merokok di tempat umum, setiap Pemerintah bahkan “dibimbing” untuk menanggulangi dampak tembakau secara elegan, dan komprehensif. Misalnya, menaikan cukai rokok, larangan iklan di media massa dan promosi dan larangan penyeludpan (smuggling). Selain melindungi masyarakat dari kerusakan kesehatan, sosial, dan lingkungan, FCTC juga bertujuan melindungi masyarakat dari konsekuensi ekonomi akibat konsumsi tembakau serta paparan terhadap asap tembakau.

Source:1, 2, dan 3.

8 comments so far

  1. Landy on

    Assalamualaikum ayah😉 untungnya aku gak merokok🙂

  2. arifiani on

    hari tanpa rokok, bagi saya tiap hari, gak merokok sich, salam kenal dari urang Banjar jua

  3. mashuri on

    wa’alaikum salam…
    #Landy
    merokok memang gak ada untungnya…

    #Arifiani
    salam kenal juwa…

  4. Muhammad Mufti on

    Namun sayangnya, masih banyak juga pak yang merokok pada hari tersebut.

  5. pro djblogger on

    saya sudah lama bebas dari tembakau, cuman kok sekarang ketika tembakau sudah jadi sigaret, saya jadi kebiasaan, he eh he maaf OOT, terlanjur, ayoo dukung saya di lomba blog, visit my blog…

  6. mashuri on

    #Muhammad Mufti
    pemerintah masih tdk berdaya….kalau SBY berani mengatakan:”negara tidak boleh kalah dengan setiap aksi kekerasan”, mengapa dia tidak berani mengatakan:”negara tidak boleh menyerah dengan setiap aksi ‘pembakaran’ rokok….

    #Pro djblogger
    pada saat berwujud tembakau maka ‘hanya’ nikotin yang menakutkan, tapi ketika berwujud ‘sigaret’ maka dia berubah menjadi ‘ribuan’ racun kimia yang siap menikam…

    ok, I really support ur blog….

  7. awi on

    oh ada ya hari tanpa tembakau, bagus tuh, jadi yg gak merokok tap perlu jadi perokok pasif

    ya betul, bebas rokok sudah perlu zonasi, biar udara lebih bersih dan sehat(mashuri)

  8. atika_IPB on

    saya sangat anti rokok. betapa indahnya dunia jika tanpa rokok.

    seandainya pabrik rokok tutup nih (yah,,,meskipun kemungkinan besar nggak akan tutup. lha wong salah satu penyumbang devisa terbesar negara…), menurut anda, produk apa yang bisa kita produksi agar petani tembakau tidak kehilangan lahan pekerjaan. akan tetapi produk ini harus memiliki nilai jual sama atau lebih dari rokok itu sendiri. emang sih, sekarang sudah banyak produk pemanfaatan tembakau, tapi masih dalam skala kecil.
    terima kasih
    Indahnya hidup tanpa rokok…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: