95 PERSEN BAHAN BAKU OBAT MASIH IMPOR

Indonesia memiliki sedikitnya 7.000 jenis tanaman berkhasiat obat. Namun, hingga detik ini 95 persen bahan baku untuk obat sintetis di Indonesia didatangkan dari luar negeri atau impor.
Kondisi inilah yang menyebabkan harga obat di Indonesia mahal bahkan dilaporkan paling mahal dibandingkan negara ASEAN lainnya.

Akibat kondisi tersebut banyak masyarakat kalangan menengah ke bawah mengeluh. Pemerintah sendiri pada tahun 1980-an pernah memberi insentif besar kepada industri farmasi yang mau melakukan usaha pengadaan bahan baku sendiri. Namun, program tersebut ternyata tidak berhasil. Pasalnya, panjangnya proses sintetis yang harus dilakukan untuk mendapatkan suatu bahan baku obat cukup rumit.

Akibat mahalnya harga obat di Indonesia tersebut banyak masyarakat yang mencari obat alternatif yang berbahan baku alam. Kondisi tersebut juga ditunjang dengan dinamika perkembangan obat bahan alam yang terus menggembibarakan. Saat ini telah banyak uji khasiat bahan tanaman obat yang dilakukan para peneliti di Indonesia. Namun, pada umumnya penelitian itu masih sebatas uji praklinik baik secara in vivo pada hewan uji maupun secara in vitro untuk melihat mekanisme efek. Penelitian uji klinis masih sangat jarang dilakukan di Indonesia. Bahkan, sampai saat ini tidak lebih dari 10 produk fitofarmaka yang terdaftar di Badan POM.

Dari sekian fitofarmaka yang terdaftar tersebut baru lima fitofarmaka yang beredar. Karenanya, jika belum ada data klinisnya maka sulit kiranya bagi para dokter untuk menggunakan obat bahan alam dan tidak mudah menjadikan obat tersebut sebagai alternatif pengobatan.

Salah satu cara yang bisa digunakan oleh para peneliti Indonesia adalah dengan mengadopsi data klinis tanaman obat Indonesia yang tercantum di buku standar resmi negara maju seperti European Scientific Cooperation on Phytotheraphy (ESCOP). Contohnya, tanaman kumis kucing yang telah digunakan masyarakat Eropa sebagai bahan baku obat. Tanaman tersebut ternyata ada dalam data mongrafi yang lengkap dengan daftar pustaka asli tentang penelitian klinik akan tumbuhan tersebut.

Sudah saatnya Indonesia memiliki farmakope herbal yang akan dapat dijadikan acuan kalangan medis. Yaitu, suatu farmakope yang memang disusun berdasarkan data ilmiah yang daoat dipertanggungjawabkan. Jika hal itu terwujud maka peran obat bahan alam diharapkan mampu setara dengan obat sintetis.

Source

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: