DOMESTIC VIOLENCE

Seorang ibu muda datang ke Instalasi Gawat Darurat dan mengeluh nyeri pada kepalanya. Pada pemeriksaan yang saya lakukan tampak hematom (benjolan) di kepala dan lebam pada punggung. Walaupun dia menyembunyikan kedua matanya di balik kacamata hitam akan tetapi dari nada suaranya saya mengetahui bahwa dia sedang menahan tangis. Akhirnya, dia pun mengakui bahwa suaminya baru saja membenturkan kepalanya ke tembok dan dia pun mengungkapkan maksud kedatangan sebenarnya untuk minta dibuatkan Visum et Repertum.

Kasus seperti ini memang jarang ditemukan, namun ada hal yang membuat saya tertarik manakala berlangsung pembicaraan singkat saya dengan Ibu tersebut. Menurutnya, visum tersebut hanya untuk “menggertak” suaminya. Dia sendiri menginginkan kasusnya tidak sampai ke pengadilan. Sepertinya dia menyadari pelibatan pihak luar hanya akan menimbulkan masalah baru.

Sementara itu, Kompas memberitakan adanya kasus kekerasan yang menimpa seorang pembantu rumah tangga warga negara Indonesia di AS. Pada kasus ini pelakunya adalah pasangan suami dan isteri. Peristiwa itu dapat menyadarkan kita bahwa kekerasan dapat menimpa dan dilakukan siapa saja. Oleh sebab itu, pandangan bahwa kekerasan terkait dengan gender dengan kata lain di kesankan wanita adalah korban dan laki-laki adalah pelaku hanyalah sebuah distorsi kalau tidak ingin dikatakan keliru. Bagaimanapun kekerasan tidak hanya menimpa kaum perempuan, tetapi juga bisa menimpa kaum laki-laki, seperti pelakunya yang tidak terbatas pada laki-laki tapi juga perempuan.

Selama ini data statistik DV lebih banyak mengacuh kepada kasus-kasus yang terjadi di luar. Data ini sebagian besar hanya mencantumkan kasus kekerasan laki-laki terhadap perempuan. Padahal banyak bukti yang menunjukkan bahwa kekerasan juga dapat terjadi terhadap laki-laki. Memang bisa jadi data kekerasan yang menimpa laki-laki lebih sedikit tapi bukan berarti kita abaikan dan tidak menuntut penyelesaian bukan? Ibarat penyakit kanker baik laki-laki maupun perempuan harus diobati.

Sejatinya kekerasan merupakan terminologi ”fisik”. Kekerasan diartikan sebagai perbuatan seseorang atau kelompok orang yang menyebabkan rasa sakit, cedera, luka, atau cacat pada tubuh seseorang, dan atau sampai menyebabkan kematian dirinya atau orang lain. Makna ini melebar seiring dengan munculnya gerakan perempuan di barat, sehingga kekerasan bisa ditafsirkan secara psikis, ekonomi, dan seksual. Di era global saat ini tidak sulit mencari bukti bahwa UU PKDRT adalah adopsi mentah-mentah UU yang ada di barat.

Perempuan-perempuan barat (saya singkat PPB) memiliki pandangan ”universalisme perempuan” dimana memandang perempuan sebagai objek yang memiliki permasalahan yang sama seperti yang pernah mereka alami yaitu racism, stereotyping, sexism, phalogocentrism. Dengan dalih ini, PPB melihat bahwa mereka perlu ”menyelamatkan” perempuan di dunia ketiga termasuk di Indonesia.

Adalah sebuah misleading apabila data kasus DV di barat itu dijadikan dasar untuk melahirkan sebuah undang-undang di Indonesia (UU PKDRT). Misalnya, masalah domestikasi perempuan dianggap sebagai penindasan padahal di daerah-daerah tertentu di Indonesia hal itu bisa jadi merupakan sesuatu yang diidamkan bahkan sebuah kemewahan. Selain itu, kultur barat yang di bangun jauh dari religiusitas (bahkan saat ini cenderung agnostik?) belum tentu pas dengan kultur Indonesia yang cenderung religius. Walhasil, bisa jadi seorang Bapak yang membentak anaknya yang sudah baligh karena tidak melaksanakan shalat dapat dikatagorikan sebagai kekerasan psikis.

Kehidupan rumah tangga adalah lingkup mikro yang amat kompleks. Mewujudkan harmonisasi dalam kehidupan rumah tangga adalah pembelajaran yang berlangsung sepanjang hayat. Dalam mewujudkan harmonisasi tersebut memerlukan perjuangan dan pengorbanan. Sejatinya manakala dalam sebuah rumah tangga terdapat persoalan, maka dalam hal ini harus terjadi maksimalisasi pihak internal dalam mengupayakan penyelesaiannya dan meminimalisasi keterlibatan pihak eksternal.

Namun, kehadiran UU PKDRT cenderung mendorong penyelesaian persoalan rumah tangga untuk melibatkan pihak eksternal. Dapatkah anda membayangkan, jika anda adalah seorang suami atau isteri yang dilaporkan oleh pasangan anda dengan tuduhan telah melakukan tindak kekerasan? Bukankah tindakan tersebut berpotensi bagi pihak yang dilaporkan merasa dilecehkan atau dipermalukan? Bisa jadi anda akan memaafkan pasangan anda, tetapi mungkin perbuatannya yang telah mempermalukan tidak akan dilupakan. Hal ini berpotensi dendam dan ini adalah bom waktu dalam harmonisasi kehidupan rumah tangga.

Jika dimaksudkan UU ini untuk memberikan efek jera bagi pelaku KDRT saya rasa juga tidak, karena denda yang dikenakan bagi pelaku relatif dapat dijangkau oleh mereka yang berkantong tebal. Artinya, efek jera tersebut hanya berlaku bagi golongan menengah ke bawah tetapi tidak bagi menegah ke atas. Selain itu, realitas kekerasan psikis menurut saya sangat abu-abu dan multitafsir. Bagaimana dengan kasus seorang isteri yang menuntut tambahan nafkah hingga membuat suami ”tertekan” secara psikis? Atau, bagaimana dengan cemburu pasangan yang berlebihan hingga membuat pasangan sangat merasa ”tidak nyaman” apakah termasuk tindak kekerasan psikis?

DV adalah masalah yang kompleks. Hemat saya, banyak faktor yang mendorongnya antara lain faktor keimanan, tingkat pendidikan, dan ekonomi. Penyelesaiannya belum tuntas hanya dengan membuat instrumen hukum. Di tengah maraknya pemberitaan yang menggambarkan institusi keluarga yang kian rapuh, tentu kita berharap dan berupaya agar tidak menjadi bagian dari kerapuhan tersebut.

Image is adapted from here.

27 comments so far

  1. hery on

    PERTAMAX… KDRT rasanya semakin lama semakin banyak terjadi, bagus nih untuk penelitian supaya mengetahui hal-hal apa saja yang mempengaruhi semakin meningkatnya KDRT🙂

  2. Nieke,, on

    KEDUAXXX… hiks T.T

    alhamdulillah keluarga saya masih jauh dari kejadian2 domestic violence🙂

    tapi tapiiii…
    yaaa.. paling2 saya sama Nilla suka ‘ngebantai’ adik2 untuk nurut ama kakak2nya aja..ck..ck..ck..
    kalo yg Bungsu biasanya dikasih ‘serangan’ ciuman di pipi yg ‘bertubi2’ kalo mbandel..
    dan dia anggap itu suatu siksaan, keliatan banged karena setelah dicium dia langsung ngelap pipinya pake tangan dan bilang, “yikes!”

    ummbbb.. itu termasuk domestic violence jg ga ya Abi..? xD

  3. joni on

    KETIGAXXX… ^_^

    Ya, KDRT biasanya terjadi karena kekurang matangan esmosi pada kedua belah pihak, bisa laki-laki ato perempuan, pernah baca di detik.com, dani ahmad (dewa) melaporkan istrinya (maia) karena juga mengalami KDRT tapi bukan secara fisik melainkan psikis.

    Ya, namanya orang ribut, sama2 mengatakan jadi korban KDRT, ga tahu siapa yg jd korban beneran? keduanya sama2 jd korban kali?

    hehe.. jd pengamat artis neh.😀

  4. Mama Rafi on

    KEEMPAX… *maksa mode on

    intinya kedua belah pihak hrs sm2 bs menahan ego

  5. Bakhrian syah on

    KELIMAX (HA!!!! Ga enak bener… Klima….)hahahah

    Jadi ingat kasus kasus Pentolan (Korek)Group Musik papan atas Indonesia yang bermasalah dengan istrinya… di luar dia terkenal arogan, ternyata… menurut pengakuannya… dia korban kekerasan dalam rumah tangga….

    Tapi…. kekerasan juga bisa emosional kan???? Nah ini nih yang repot…. ga ada bekasnya secara fisik… tapi secara mental lebih parah dari kekerasan fisik… gimana tuh mas???

  6. maya on

    mas mas..pertanyaan saya, kenapa kekerasan justru terjadi kepada orang yang paling dekat atau tersayang? apakah kasih sayang sudah berubah bentuk?

  7. triadi on

    kekerasan pada anak juga banyak…KDRT juga ya? saya jadi inget kemaren di tivi ada media yang memperingati hari kematian arie hanggara…

  8. awi on

    kekerasan dalam rumah tangga. ternyata semakin parah ya, nasib kaum wanita.

  9. Muhammad Mufti on

    Harusnya ini memang diselesaikan secara internal tanpa melibatkan siapa pun. Kalau sampai melibatkan pihak eksternal biasanya sudah terjadi miss communication yang sangat hebat kali ya…

  10. Aryo on

    lah kalo dibentak mas…kalo dipukuli karena ngga’ shalat gimana?

    yah, bingung mau komen apa lagi. bersyukur d saya lahir di keluarga yang bebas kekerasan🙂

  11. JALOE on

    klau masalah gender mah – perempuan (red), saya takut salah omod, entar di semprot ama si oneng ( diah pitaloka ) dkk..tapi kekerasan bagi saya jelas urusan fisik, maksud saya definisanya harus di batasi, klau kekerasan tafsirannya kemana-mana, bisa menjadi bahaya dan ngga ada ujungnya.

  12. | fad | on

    menurut seorang ilmuwan barat, mengambil contoh pelaksanaan hukum dari suatu negara dan langsung diterapkan begitu saja di negara lainnya adalah sebuah penyalahgunaan (misuse) dalam bahasan hukum komparatif.

    jadi saya setuju dengan pak dokter.

  13. mel@ on

    hmmm… kekerasan emosional termasuk KDRT juga de…
    mudah-mudahaannn… sekarang ato ntar jauh dari KDRT dee…

  14. Kana Haya on

    umm… dulu pernah maen ke gramed, trus nemu satu buku yang covernya warna putih tulisannya warna item. judulnya apa, Na lupa xP tapi kalo ga salah inti buku itu adalah ya… domestic violence yang dialami oleh kaum pria. cuma emang DV buat cowo itu lebih banyak urusan mental ketimbang fisik. *based on the book ya dok.. *

    dan menurut pengamatan kana *gaya bener* salah satu alasan kenapa DV buat cewe yang lebih banyak disorot adalah karena cewe nerima siksaannya ya fisik ya mental. kasarnya, udah digampar masih dimaki maki juga. gitu… sedangkan DV cowo *Na jarang denger kasusnya siy* emang lebih banyak di mental doang siksaannya. tapi ya, mulut prempewi kan suka lebih tajem dari silet xP jadi ya…. siksaannya kerasa banget ajah kali yaaaaaa xP

  15. Kana Haya on

    maap, inti komennya lupa disebutin xP

    jadi, ya dok, mungkin DV cowo ga kedengeran karena siksaannya berupa mental yang dicaci maki. dan biasanya cowo jarang mau ngelaporin yang kek gitu. boleh jadi alasannya adalah “malu, karena suka dimaki maki istri yang berjenis kelamin perempuan yang katanya makhluk lemah yang perlu perlindungan laki2”

    padahal aga bulshit juga ya kalo ngeliat ke kasus DV cowo xP

    —selesai dok, ini yang maw na komenin kemaren xP —

  16. aribowo on

    wah sadis juga tuh suami, apa udah gak ada lagi rasa cinta

  17. tukang ketik on

    saya ada kecenderungan untuk memukul pacar saya… apakah nanti ketika menikah bakal jadi tukang pukul ?

  18. - Nilla - on

    Hiiiiiiiii… syerem!
    Kudu hati-hati nih kayaknya nyari pasangan!
    Kadang waktu pacaran belum keliatan jg sih aslinya kayak apa!

  19. pyuriko on

    Jadi ingat kejadian masa kecil…

    Melihat pertengkaran kedua orang tua, hingga kini membawa dampaknya terhadap anak2… sedih.

  20. mina on

    ternyata kata bu nir bener. kau memang tertarik masalah ini😀 ayo tuh dah ditawarin scholarship bidang ini sama bu nir, sayang tuh gak dimanfaatin.

  21. Yusuf Alam Romadhon on

    saya pernah nemuin pasien kayak gitu… dilempar bongkahan bangunan di kepala… hingga berdarah dan robek…
    gimana cara ngelapornya yaah..
    kalo si istri masih melindungi suaminya eh ga…
    suaminya nungguin di luar sambil nyuri-nyuri dengar…
    akhirnya saya bisa nyaranin agar menuntut cerai aja… coz suaminya udah keseringan kayak gitu, peminum dan penjudi lagi…

  22. CempLuk on

    jadi rada gimana gitu ttg kasus kekerasan saat ini, padahal UU telah di tegakkan tapi masih aja ada yg melakukan kekerasan..mgk jika hukumannya memakai hukum islam, mgk orang2 yg melakukan tindak kekerasan akan berkurang..

  23. yunita on

    Dulu saya sempet mau mempratekkan bikin onar dengan cowok di tempat umum . Teman2 saya bilang jika saya berkelahi sama cowok pasti ntar yang diciduk pasti cowoknya… tapi karena saya pendatang maka saya gak berani, dan akhirnya temen cewek yg lain yang gantiin…. eh bener lho cowoknya malah yang kena interogasi macem-macem .. emang sich gak sampai dibawa ke kantor polisi…. jujur saya katakan bahwa saya lebih banyak menjumpai kdrt yang dilakukan perempuan baik di Indonesia maupun di negara barat ( hehehe barat sungai maksudnya ). Di negaranya wong bule anak ngelamak sama ortu dan mau dikasih hukuman sudah tahu harus telpon siapa ( 911 dan sejenisnya lah ) … wah nggak surprise kalo jaman sekarang banyak anak ngelamak…. di negaranya bule kawin juga merupakan bisnis lho, profit 50 % harta suami kalo pas cerai…. enak kan ?? makanya banyak wanita yang memulai pertikaian untuk mendapatkan profit yang sesuai dengan target di prospektusnya…. so hukum jarang berkata adil kan walau simbolnya timbangan… ( maaf saya tidak bermaksud merendahkan perempuan karena saya sendiri juga perempuan )

  24. Dimas on

    Yang namanya KDRT adalah tindakan yang tidak manusiawi, sepertinya kok kita menganggap mereka bukan manusia ya …

    Yah semoga kita tersadar untuk tidak melakukan tindakan yang dikategorikan sebagai KDRT ya🙂

    –Dimas

  25. Tina on

    Wanita harus tegas, kalo cowok mulai aneh2 jewer aja.. hehe.. soale kalo diem aja ntar keenakan cowoknya bakalan berlaku sewenang2.. so kaya aku aja, galakkkkkk, hehe..

  26. mashuri on

    #Hery
    Kalo mas Hery mo jadikan disertasi, silakan….he…he…Btw, bagaimana dengan kejadian DV di India ya…?

    #Nieke
    Syukurlah, kamu jauh dari DV. Tapi, kalo “ngebantai” termasuk “kekerasan” juga lho?..He…he….Tapi kayaknya, adekmu doyan dibantai dengan cara itu ya….

    #Joni
    Kalo terminologi “kekerasan” merambah ranah “psikis”, maka yang rentan adalah laki-laki. Akan tetapi, biasanya laki-laki hanya menganggap itu biasa merupakan bagian dari asam-garam rumah tangga. Berbeda kalo itu menimpa wanita,mungkin akan berbeda?*banyak wanita yang siap-siap protes tuh….*

    #Mama Rafi
    Setuju. Juga, masing-masing mengingat kembali (recalling) kebaikan-kebaikan yang telah diberikan pasangan kita.

    #Bakhrian Syah
    Ikam lagi ba’apa….sampai klima*s….he…he….

    Yah, ”kekerasan psikis” hanya mudah dideskripsikan tapi sulit diaplikasikan. Bisa jadi ”ta’dib” (untuk mendidik) dianggap ”kekerasan” menurut terminologi ini….

    #Maya
    Kekerasan merupakan luapan emosi jadi biasanya menimpa orang dekat dulu. Kalo diluapkan kepada orang lain bisa masuk katagori ”psikopat” dong…Selain itu, perbuatan itu sendiri dianggap sebuah ”aib” jadi cenderung dirahasiakan. Layaknya sebuah rahasia, hanya untuk orang terdekat.

    #Triadi
    Kekerasan pada anak juga temasuk bentuk kekerasan yang tidak sekedar mendapat perhatian serius tapi juga penanganan riil. Hal ini justru menimpa negara. Anak terlantar di jalan, pengemis yang masih anak, dll merupakan bentuk kekerasan negara terhadap anak.

    #Awi
    Statistik memang banyak terjadi pada wanita, walaupun tidak menutup kemungkinan menimpa laki-laki. Akan tetapi, andai setiap orang menjalankan agamanya secara baik dan benar insyaAllah tidak ada kekerasan terhadap siapa pun.

    #Muhammad Mufti
    Setuju. Pelibatan pihak eksternal biasanya berakhir pada ”perceraian” (hanya empiris).

    #Aryo
    ”Membentak” dan ”Memukul” dalam rangka ”ta’dib” (mendidik) punya adab tersendiri. Berbicara dengan anak tetap dengan tutur kata yang halus tapi tetap berwibawa (susah khan?) dan ”memukul” jelas sangat dilarang ditempat yang membahayakan. Tapi, pada umumnya dengan ”bentakan” sudah cukup menggugah anak untuk melakukannya. Yang lebih penting sebenarnya teladan dari ortu.

    #Jaloe
    Setuju.

    #Fad
    Nah, ada tambahan eLmu dari mas Fad….

    #Mel@
    Amin….amin…..amin.

    #Kana Haya
    Benar, biasanya co hanya menganggap ”biasa” terhadap ”kekerasan psikis” yang didapat. Biasanya mereka hanya berkata:”Maklum perempuan”. Jadi pria itu sebenarnya makhluk pemaklum bukan pemakzul…..He….he…..

    #Aribowo
    Ya….DV biasanya berawal dari stress berat (masalah sosial), kehilangan pekerjaan, PHK, problem ekonomi, dll. Jadi, masalah ini juga hars diberesin kalau ingin memberesi kasus DV. Sampai saat ini gak ada bedanya antara tidakk ada UU KDRT dan adanya UU KDRT. Karena akar masalahnya gak selesai.

    #Tukang Ketik
    Kayaknya kalau pacar bukan wilayah domestik, tapi sudah termasuk pasal penganiyaan dalam KUHP. Kalau nantinya, tergantung pengendalian emosi Anda. Siapa tahu setelah menikah malah Anda bisa menjadi suami yang baik. Usaha dan doanya tergantung kepada Anda. Selamat mencoba.

    #Nilla
    Pengenalan memang diperlukan dan ini memang perlu waktu. Selama belum menikah tanggung jawab masih ada pada ortu. Menurut saya, pengenalan terhadap calon (terutama bagi para ce) alangkah baiknya (perlu) melibatkan ortu.

    #Pyuriko
    Dampak negatif yang timbul akibat ”cek-cok” ortu terhadap anak memang kadang bisa terbawa sampai dewasa, Mba.

    #Mina
    Waduh, kayaknya stressing-nya beda sama bu Nir….he….he…

    #Yusuf Alam Romadhon
    Wah, kalau suami sudah ”komplikasi” seperti itu…kayaknya apa boleh buat ya?Siapa tahu khan, justru pintu hidayah bagi lelaki tsb didapat setelah dia bercerai.

    #Cempluk
    Wallahualam. Walau sudah melangkah dengan kaki yang salah, tapi gak ada kata terlambat kalau ingin baik.

    #Yunita
    Nauzubillah. Moga gak terjadi di sini. Kayaknya, wabah itu mulai tampak pada kalangan yang sering disebut sebagai selebritis. Di kalangan ini secara kasat mata dapat dilihat sebagian besar ukuran sejahtera-nya sebuah rumah tangga adalah ekonomi (kasarnya: harta). Kasus SL pun marak dengan bungkus yang apik.

    #Dimas
    Amin…amin….amin…

    #Tina
    Kalo jewer suami yang “lembut” ya…He…he….

  27. Novee on

    Iya tuh! saya lihat di koran2 pelaku nya *terutama yg menyiksa pembantu* gampang banget kluar dari penjara. cukup BAYAR SAJALAH.
    harus nya hukum mereka dg ganjaran yg sama persis dg yg mereka lakukan *bogem mentah* biar mereka tau, nikmat nya rasa sakit itu…
    masalah nya para penyiksa pembantu spt nya sdh ketagihan *gebugin org koq ya nyandu tho…* liat aja, kasus nya banyak terulang dg pelaku yg sama… dia-dia juga org nya… gile bener…!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: