PEKAN APES

Dua pekan kemarin saya mengalami 3 peristiwa yang saya anggap apes. Apes pastilah peristiwa yang tidak menyenangkan, seperti halnya Mensesneg saat ini yang tersandung kasus AFIS (Automatic Identification Fingerprint System). Tentu bukan apes bagi the apes ini. Apes yang pertama (apes yang ironi) adalah saat saya kedatangan pasien seorang ibu yang datang bersama anaknya seorang nona. Ibu tersebut mengeluh demam, nyeri tenggorokan, dan tidak bisa menelan. Saya pun menyarankan kepada ibu tersebut untuk rawat inap oleh karena saya lihat kedua amandel-nya mengalami peradangan akut disertai detritus yang menyebabkannya sulit untuk makan/minum karena nyeri. Saya pun mengkonsultasikan kepada dokter spesialis THT. Setelah memeriksa pasien, dokter spesialis menyatakan bahwa pasien harus dirawat untuk menghindari kemungkinan komplikasi yang timbul. Akan tetapi, sang anak menolak. Dengan ketus dia berkata, ”Bapak saya masih dalam pesawat”! Mendengar hal itu, dokter spesialis THT pun meninggalkan ruangan. Lalu, nona itu meminta senter kepada perawat untuk memeriksa sendiri amandel ibunya. “Amandel ibu saya gak begitu rapat mengapa diinapkan”, ketusnya lagi.Saya pun berusaha untuk tenang menghadapi orang seperti ini. Pasien menolak untuk dirawat inap adalah hal biasa dan sering terjadi. Bagi saya hal itu tidak masalah dan menjadi hak pasien dan keluarganya. Yang agak ganjil adalah gaya penolakan nona tersebut yang terkesan “arogan”.

Saya mencoba bertanya baik-baik dengan nona ini. “Mbak ini, dokter atau mahasiswa kedokteran”? Mendengar pertanyaan saya, dia agak kaget dan seperti kena “skak”. Dia pun dengan pelan menjawab,” Saya mahasiswa kedokteran”.

Jawaban ini tidak mengagetkan bagi saya, karena saya sudah menangkap sinyalnya sedari tadi. Saya punya kesempatan berbicara. “Kalau Mba gak mau ibunya nginep gak apa-apa. Anda sudah berkesempatan bertemu dokter ahli dan sudah mengetahui sendiri alasan mengapa ibu Anda harus diinapkan. Keputusan tetap ditangan Anda”. Saya bertanya sekali lagi,”Apakah tetap akan membawa Ibu Anda pulang”? Keraguan tampak menyelimuti nona tersebut. Dia menuju pembaringan ibunya dan tampak terdengar percakapan sayup-sayup. Nona itu pun berkata,”Biar saya bawa pulang aja, Dok”. Nadanya kini lebih pelan nyaris tak kedengaran. Segera saya sodorkan form surat penolakan perawatan yang harus ditandatanganinya (karena sepertinya ibunya menyerahkan segala urusan dengan anaknya yang calon dokter ini). Saya masih sempat menangkap mukanya merah padam saat menandatangani surat penolakan tersebut.

Apes yang kedua (apes yang tolol) adalah saat kedatangan pasien seorang anak berusia sekitar 5 tahun. Menurut Bapaknya, sudah tiga hari ini batuk. Gak ada demam atau keluhan lainnya. Hanya batuk. Itupun sekali-sekali aja. Sedari tadi Bapaknya ngebet, ingin anaknya dirawat inap aja. Dia beralasan batuknya gak sembuh-sembuh walaupun dia sudah membawa anaknya berobat ke dokter spesialis anak.

Dia ngotot memasukkan anaknya, walaupun tanpa indikasi medis untuk rawat inap.Dia berkata,“Saya anggota DPR”.”Saya pake uang sendiri, berapapun saya bayar!” katanya lagi.

Saya paling malas kalau harus perang urat saraf seperti itu. Saya melaksanakan pekerjaan sesuai standar profesi saya. Oleh karena itu, saya sarankan untuk rawat jalan, sementara sang bapak menginginkan terapi rawat inap. Nah, ini artinya gak klop khan? Dia memesan kamar “wah“ super vip. Ujung-ujungnya ternyata pake uang rakyat juga alias asuransi. Gratis. Padahal menurut undang-undang ini termasuk kejahatan asuransi. Nah, lho.

Apes yang ketiga (apes yang konyol) adalah saat saya kedatangan pasien seorang pesepakbola sebuah klub divisi II yang sedang mengikuti even lokal di Banjarmasin.

Orangnya tinggi, hitam legam, dan berambut gimbal. Saya kira dia Didier Drogba. Habis mirip banget dengan pesepakbola asal Pantai Gading tersebut. Ternyata, dia orang Liberia yang hanya mengerti bahasa ibunya dan sedikit-sedikit bahasa Perancis.

Dia ditemani seorang temannya, juga pesepakbola, asal Brazil yang juga hanya mengerti bahasa ibunya. Saya ngedumel juga (dalam hati sih), “Koq nekat bener 2 makhluk ini”. Akhirnya, bisa ditebak terjadilah komunikasi tarzan. Dia mengarahkan jari telunjuknya ke pantat. “Injection”! suara beratnya muncul. “What’s injection for”? tanya saya. Dia pun lantas melakukan gerakan stepovers (gerakan berlari-lari di atas bola yang sering dipergunakan untuk mengecoh lawan). “Doping”!, “Doping”! kata temannya yang Brazil itu. Saya pun paham bahwa dia ingin diberi obat yang dapat membuat dia tampil bertenaga pada pertandingan besok hari. Walau even selevel divisi II ini tak bakalan ada tes doping, saya berkeras tidak memberikan obat yang terkatagori doping seperti terdapat dalam list obat doping yang dikeluarkan WADA.

Sebuah profesi mempunyai etika tertentu dalam menjalankan pekerjaannya. Pada tiga kejadiannya di atas betapa arogansi menjelma dalam bentuk yang berbeda. Perasaan superioritas yang diperankan oleh tiga pelaku utama di atas menggiring sebuah profesi ke dalam situasi yang rumit. Disadari atau tidak, mereka telah “menyandera” dan “menggiring” dokter ke jurang profesional crime.

Image is adapted from here

24 comments so far

  1. Bakhrian syah on

    Itulah tantangan yang harus dihadapi oleh seorang dokter… sekarang tinggal kita lihat… mana yang paling berperan… napsu atau hati nurani…🙂

  2. pyuriko on

    Waahhh, Mas Mashuri ini seorang dokter yaaa???

    Buat saya, pekerjaan seorang dokter itu begitu mulia,… bisa membantu orang yang sakit.. ^_^

  3. kelik on

    wah dokter juga suka ngeblog ternyata

  4. Anisa on

    Mudah2an Pak Dokter dan juga pak dosen ini diberikan kekuatan untuk selalu jalan dijalanNya. Amin.

  5. dani iswara on

    bukan mahasiswinya dok ya..
    → kali aja ada mahasiswa fk junior yg blm tau semua dosennya😀

  6. mel@ on

    siapa mas pemain sepak bolanya?… siapa?… siapa?…
    alahhh… gosip banget ya… hehehe…

  7. Hany on

    Walaaah… ceritane seru2, pak Dokter! Makasih udah mampir.

  8. joni on

    ya begitulah, dokter terkadang dituntut untuk menjadi makhluk yang perfect.. padahal dokter juga manusia kan?😉

  9. Tina on

    Weleh.. ternyata dikau tuh dokter toh? hehe.. gaya euy..

  10. Yusuf Alam Romadhon on

    mudah2an setelah ngeblog… tlah terjadi ventilasi… lega… segar kembali menghadapi pasien dengan berbagai “kemelut” penyakitnya.. ada yang harusnya masuk malah minta di luar.. harusnya di luar minta di dalam..minta dibuatkan kuitansi…minta dibuatkan surat izin…untuk bisa ngacir… dan memaksa dokter melanggar etika… susah ya jadi dokter..

  11. Nuha on

    Ternyata, seorang dokter yaaa ?

    Kadang suka kesel yaa terhadap pasien yang sok tahu, hihihih….

  12. AMMAH on

    semoga di berikan kesabaran ya pak dokter,itung2 tuh tantantangan,ya gak seh tetep jadi dokter yang penuh cinta

  13. My Alter on

    Bagus tulisannya, kata2 dalam kalimat yang terakhir menyadarkan kita semua, ternyata tanpa disadari dari tindakan2 kita (mungkin juga saya pernah melakukan ini) bisa mengakibatkan seseorang melakukan hal yang bisa melanggar kode etik ybs…:)
    Thank you…:)

  14. Kana Haya on

    wah.. dokter tho… maw dunkz nanya… sariawan ku koq ga sembuh2 yaaaa… udah minum antibiotik dari dokter, makan xon-ce, minum youC 1000 vitamin lemon, kumur2 pake listerine, makan buah jeruk sunkis, minum rujak asem *asem+gula merah diseduh* apa lagi ya…. duh… udah hampir 2 minggu neeeee… :((

  15. hery on

    Memang semua profesi itu ada tantangan masing-masing, mungkin dengan kesabaran dan keihklasan kita bisa melalui smua itu… loh kok spt santapan rohani aja koment ku hehehe

  16. Mama Rafi on

    ini tantangan profesi atau resiko profesi yah

  17. | fad | on

    amanah yg berat ya pak?🙂

  18. 'N on

    Baru tau kalo Mas Mashuri ni seorang dokter…. (btw suka ngeblog juga, karna dokter juga manusia) *kidding. Btw sayah paling takut kalo disuntik, gimana caranya ya dok biar ga takut? *konsultasi gratis.

  19. triadi on

    kalo saya malah sering alergi sama dokter, terutama dokter muda…ga tau beberapa kali dokter yang saya temui kaya si calon dokter itu..

    dokter muda yang sombong, sok sok an,sok keminter, senyum tulus pun kadang susah

    sori ni mas mashuri, kalo mas ga gitu kan..hehehehe

  20. awi on

    Itulah enaknya jadi dokter. Tapi mereka emang benar2 bisa membuat dokter berada dalam situasi terpojok dan melakukan professional crime.

  21. Nieke,, on

    duh, aku suka banged sama tulisan diparagraf akhir. soalnya memang banyak banged skarang orang yg suka menyalahi aturan profesinya..

    yg sabar ya om🙂

  22. Milda on

    Aku juga apess bro…welcome to ‘Apes Club’😀

    Dok, obat apes apa toh ?!

  23. Ida on

    hebat mahsuri ni.doktor rupanya.
    sabar ya.smoga berjaya🙂

  24. Mashuri on

    Terima kasih semua atas komennya. Mungkin teman-teman sedikit terlewat saat baca profil saya: bahwa profesi saya saat ini adalah General Practitioner (GP)sebutan untuk dokter umum yang diadopsi dari luar. Juga, ada yang menyebut dokter umum dengan Family Pysician.

    @Bakhri:moga hati nurani selalu di depan

    @Iko:semua pekerjaan yang dilakukan dg ikhlas akan bernilai mulia

    @Kelik:sama dengan Anda

    @Anisa:amin..amin…amin.. 40X

    @Dani Iswara:sepertinya bukan. Kalo mhs saya pasti mereka tak berani menampakkan diri pada jarak pandang*he…he…*

    @Mel: semangatnya kalo denger…….Tapi yang Brazil itu cakep kayak Keenue Re..yang maen Matrix itu lho..siapa ya?

    @Hany: sama-sama

    @Joni: makenya dokter juga ngeblog….

    @Tina:buzzzz……jangan sering-sering lembur ntar kamu bisa jadi pasien saya nanti. He…he…

    @Yusuf Alam R:blog=ventilator. Boleh juga…

    @Nuha:pasien itu adalah guru bagi dokter…

    @Ammah: amin…amin…amin…40X

    @My Alter:thanks too

    @Kana Haya:pasti sekarang udah sembuh

    @Hery: setuju….*Emang di India ada Santapan Rohani*

    @Mama Rafi:Tantangan atau Risiko? Kayaknya bisa dua-duanya tergantung siapa yang memerankannya. Risiko profesi sudah ada bahkan sebelum saya (subjek) jadi dokter. Tantangan yang saya hadapi mungkin beda dengan Yusuf AR atau Dani Iswara.

    @Fad:Semoga saya bisa menjalankan ini. Minta doanya ya…

    @N:agar tak takut disuntik, jangan sakit…he…he

    @Triadi: he..he.. Jangan-jangan Mas Tri lagi kena virus Benci-benci tapi hm..hm..hm…

    @Awi:kalo diitung-itung banyak gak enaknya Wi….he..he..

    @Nieke:betul, prof.crime awalnya bahkan istilah yang dipergunakan dlm bid ekonomi mis untuk para Bankir, CEO, dll sejenis White Collar Crime, lah. Hampir pada semua profesi terjadi..

    @Milda:wah apes kenapa mba?Posting juga dong ke-apesannya. Biar bisa ditakar kadarnya…he..he..

    @Ida:wah saya bukan per-mahsuri tapi MASHURI……He…he……


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: