PERS KAMPUS

Di era teknologi informasi sekarang, pers kampus (baca=media tulis) masih diperlukan. Hal ini dilandasi oleh karena dia mempunyai kelebihan dalam hal sifatnya yang ”liat”. Dapat dibaca di kantin, di lobi, di koridor, atau dimanapun. Bahkan dapat diselipkan di antara diktat-diktat kuliah. Tulisan ini hanya sekedar sumbangsih (boleh dikatakan romantisme penulis) terhadap dunia tulis menulis masa lalu untuk para mahasiswa kedokteran yang ingin (mau) atau sedang mengelola sebuah penerbitan (buletin, majalah, dan lain-lain). Salah satu keterbatasan mahasiswa kedokteran adalah keterbatasan waktu untuk berkiprah di ekskul apalagi dunia pers mahasiswa yang akan menyita waktu yang tidak sedikit.

Menurut saya, kehadiran pers kampus dimana-mana apapun bentuknya-majalah atau koran-menurut pengelolanya, untuk membina komunikasi diantara segenap civitas akademika. Walaupun dengan berbagai macam atribut yang selalu melekat: ditangani seadanya berdasarkan kemampuan yang ada dengan satu atau beberapa orang aktivis,biasanya yang mempunyai bakat sastra atau menulis minimal punya semangat ”bersibuk-sibuk”, dan jadwal terbit yang ”Senin-Kamis”. Semangat tersebut seringkali kabur ketika ditemukan bahwa pers kampus tidak sekedar kumpul-kumpul dan begadang untuk membicarakan topik yang bisa menjadi kejutan bagi pembaca, tidak sekedar romantisme para pengelolanya, dan tidak sekedar repotnya mencari korban siapa yang mau menulis.

Pola isinya pun hampir seragam: artikel asal jadi, termasuk karangan yang diharapkan menjadi karangan ilmiah, kebanggaan kampus, puisi, cerpen, laporan kegiatan, dan tidak ketinggalan sentuhan humor melalui joke-joke atau beberapa kartun amatiran. Selanjutnya, tidak lupa tajuk dan daftar pengelola walau hanya sekedar numpang tenar lengkap sampai penasehat atau pengawas. Akhirnya, suguhan yang disajikan apapun bentuknya; majalah atau koran tidak lebih dari pseudoevent.

Seandainya keinginan para pengelola tanpa mempersoalkan darimana dana diperoleh untuk meningkatkan hubungan komunikasi dalam kampus, tidak pelak keterlibatan seluruh mahasiswa mutlak diperlukan. Barangkali, pertama-tama dengan menyediakan tempat dimana berbagai pemikiran mahasiswa bisa dimunculkan: surat pembaca, wawancara dengan rektorat atau dekanat tentang pengembangan kampus dan hambatannya, permasalahan sosial kemasyarakatan, dan tentang politik nasional atau internasional (misalnya, pemilu multipartai di negeri ini). Di era sekarang tidak relevan kiranya apabila kita menampilkan wajah pers kampus dengan manis penuh sensor.

Selain itu, artikel dan topik dapat dipilih menyangkut soal yang memang merupakan pergumulan mahasiswa seperti kehidupan mahasiswa kos jauh dari keluarga, mahasiswa berkeluarga, kesempatan dan peluang kerja, kelengkapan fasilitas kampus, sistem perkuliahan dan pembeljaran, dan lain-lain. Memotret dunia kampus sebagai Indonesia mini, misalnya tenatu sangat menantang. Banyak masalah yang menyangkut soal ketidakadilan, hak asasi, kesewenang-wenangan dan lain-lain terjadi dalam kampus. Dengan demikian, pers kampus diharapkan tampil dalam form yang serius, dalam pengertian bukan lagi pers kampus yang ”asal buat”, ”asal terbit”, apalagi ”asal ada”. Keseriusan inilah yang lebih lanjut lantas membedakannya dengan majalah dinding, komik, selebaran gelap, buletin kegiatan, dan jenis publikasi yang berkatagori ”tidak serius” lainnya.

4 comments so far

  1. mina on

    kau teringat masa2 keemasan (walau cuma sebentar) koran kampus kita itu ya? rasanya cuma pernah terbit 1 kali atau 2 kali ya? yang ada wawancara dengan dr Rismanto itu?

  2. Mashuri on

    He…he…ingat saat si Fachrul ngedit tulisan sambil tutorial page maker yang sopwer nya baru lonsing saat itu. Mo kerjasama dg Bpost tapi gak jadi. Ya…jadinya versi fotokopian. Edisi II nya lebih parah: versi stensilan (ini ulah ngawurnya si Fathur)….Dimana ya sekarang “mafia-mafia” terdampar?

  3. dani iswara on

    adik2 kita di fk unsri dan udayana sampai saat ini masi lancar media (media cetak; pdf juga) kampusnya dok..

  4. mashuri on

    #dani iswara

    selayaknya begitu kali ya menjadi mahasiswa….kreatif en inspiratif…….

    gak sekedar menjadi mahasiswa “titipan” ortu atau malah menjadi mahasiswa yang hanya pandai “nitip” (alias nitp tanda tangan he…he…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: