MASIH PERLUKAH "PENGOBATAN MASSAL"?


Bertepatan dengan awal tahun baru hijriyah, Sabtu (21/01/2007) saya mengikuti kegiatan pengobatan massal sebagai tim medis di Desa Guntung Papuyu, Gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) mahasiswa diikuti oleh ± 200 orang warga setempat. Kegiatan yang berlangsung di ruang salah satu gedung sekolah madrasah ibtidiyah setempat mendapatkan tanggapan yang cukup antusias. Ini terlihat dari banyaknya warga yang mengikuti kegiatan tersebut.

Kegiatan seperti ini memang paling ditunggu masyarakat di perifer atau kawasan pedesaan. Disamping faktor dokter, ada harapan untuk mendapatkan obat secara gratis. Sehingga tidaklah heran pada setiap kegiatan yang berlabel ”pengobatan massal” maka ”peminat” pasti membludak. Sebagian besar peserta yang datang menderita infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dan lainnya menderita influenza, rematik, hipertensi, dyspepsia, diare, katarak dan beberapa penyakit ringan lainnya. Sisanya adalah pengunjung yang datang hanya untuk mengecek kondisi kesehatannya, biasanya dia meminta untuk diukur tekanan darahnya. Sudah menjadi pameo di masyarakat bahwa dalam pengobatan massal sakit gak sakit pasti akan mendapatkan obat.

Embel-embel “massal” atau ”gratis” pada kegiatan tersebut seharusnya bukan lantas mengurangi perhatian kita pada aspek lain pada pelayanan kesehatan. Berbeda dengan kondisi darurat (misalnya bencana banjir, gempa, musibah kebakaran, dll) pada pengobatan massal yang ”normal” pasien seharusnya diperlakukan seperti halnya pemeriksaan biasa pada pelayanan kesehatan yaitu tempat pemeriksaan yang dapat menjamin kerahasiaan (prinsip medisolegal), ada ruang tunggu memadai, alur yang jelas, ketersediaan jumlah dan jenis obat yang memadai, tidak lupa aspek pencatatan dan pelaporan, yang sering diremeh-temehkan. Hal tersebut tentu memerlukan persiapan yang matang, tidak seperti mengedipkan mata.

Terlepas dari semua itu, ada beberapa hal yang juga menimbulkan keprihatinan bagi kita. Realitas pengobatan massal masih ditemukan di tengah hebohnya paradigma sehat dengan visi Indonesia Sehat 2010. Paradigma sehat yang mengutamakan pencegahan dan promosi kesehatan secara retorika diandalkan bisa meningkatkan derajat kesehatan. Sayangnya, pada waktu yang sama, realita yang sering muncul (dimunculkan?) justru sebuah paradigma sakit yang menonjolkan pentingnya obat agar tetap sehat. Padahal, betapa pun banyak kegiatan yang dilakukan untuk mengadakan pelayanan kesehatan ke tengah masyarakat, upaya serupa tidak dapat mencegah penduduk untuk tidak menjadi sakit. Di Indonesia diperkirakan, setiap saat terdapat 15-20% penduduk yang sakit dan memerlukan pelayanan dan obat. Dari sekian banyaknya, apabila semua daya dan sarana pelayanan medis dikerahkan, diperkirakan hanya 20-30% saja yang dapat dilayani. Sementara penduduk lain yang lebih banyak, sekitar 85%, yang tidak sakit dan tidak sedang mencari obat, malah tidak mendapat perhatian. Inilah kontradiktif yang terjadi, ingin menciptakan paradigma sehat tapi anggaran hanya dibuat untuk orang yang sakit.

Selain itu, pengobatan massal saat ini dapat menjadi komoditas yang laku pada musim tertentu. Misalnya, setiap musim pemilu lokal atau nasional pengobatan massal seolah menjadi menu wajib yang harus dihidangkan untuk masyarakat. Masyarakat yang mayoritas dhuafa diberi hidangan berupa pelayanan pengobatan gratis, dengan harapan ucapan terima kasih masyarakat melalui ”pemberian suara”. Tentu ini tidak salah, akan tetapi pelayanan kesehatan seharusnya tidak diberikan berdasar blanket treatment. Pelayanan kesehatan seharusnya melalui program yang terencana, sistematis, dan berkesinambungan. Kesehatan bukanlah komoditas yang bisa dilayankan dari seseorang kepada orang lain. Kesehatan tidak datang dengan sendirinya, kesehatan hanya bisa diperoleh dengan upaya yang nyata.Dan untuk mempertahankan agar masyarakat tetap sehat, diperlukan upaya pencegahan dan perlindungan melalui kebijakan kesehatan, disamping pengajaran perilaku hidup sehat dan melibatkan secara aktif peran serta masyarakat.

5 comments so far

  1. mina on

    maksudnya blanket treatment tu apa sih yi?

  2. Mashuri on

    menjawab…..
    Terapi yang diberikan secara “pukul rata”, misal pemberian obat cacing untuk anak SD, pemberian kapsul Fe bagi ibu hamil, dll. Belum tentu mereka perlukan?

  3. mina on

    yap, setuju untuk ini. aku gak setuju banget program pemberian tablet Fe untuk semua ibu hamil itu.

  4. anis on

    blog yang menarik. Mo nanya, kalo pengobatan massal gitu, catatan rekam medisnya bagaimana ya? kalau sudah selesai disimpan dimana? kalau ada apa-apa, bisa dicek kembali nggak?

  5. Mashuri on

    Salam kenal buat Anis…Itu salah satu kelemahan pengobatan massal: gak ada pengelolaan rekam medik yang baik. Bahkan kadang-kadang cukup hanya dengan secarik kertas “stensilan”. Pengobatan massal menurut saya “pembodohan” yang dilakukan para praktisi kesehatan thd masyarakat……


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: