Archive for the ‘Islam’ Category
MER-C INDONESIA GAGAS GMI INITIATIVE
Guna lebih terjalinnya koordinasi bantuan kesehatan bagi warga Palestina yang mengalami luka-luka di Jalur Gaza yang menjadi korban agresi Israel, jumlahnya ribuan jiwa, relawan Indonesia dari “Medical Emergency Rescue Commite” (MER-C) Indonesia bersama relawan dari beberapa negara menggagas lahirnya “Gaza Medical International Initiative” (GMII).
Penjelasan itu diungkapkan dua relawan yakni dr Jose Rizal Jurnalis SpOT, anggota Presidium MER-C Indonesia dan Ketua Presidium dr Sarbini Abdul Murad, demikian dilaporkan wartawan ANTARA Andi Jauhari, Ahad (25/1)
Dalam perjalanan dari Kota Gaza, Palestina menuju Kota Rafah, perbatasan Jalur Gaza-Mesir –setelah sepekan (19-24/1) bertugas membantu penanganan korban yang luka akibat serangan Israel di rumah sakit (RS) As-Shifa Kota Gaza–pada Sabtu (24/1), dikemukakan inisiatif itu lahir dari perbincangan sejumlah dokter beberapa negara saat berada di RS itu.
Jose Rizal Jurnalis menjelaskan bahwa beberapa negara itu adalah Indonesia, Suriah, Turki, Sudah dan Aljazair, yang kemungkinan besar akan diikuti oleh beberapa negara lain, yang telah mengirimkan relawannya membantu menangani korban luka di sejumlah RS di Jalur Gaza.
Menurut dia, sebagai langkah awal, gagasan itu akan disampaikan kepada berbagai pihak di masing-masing negara pengirim relawan, dan setelah itu segera dilakukan semacam pertemuan guna mengkristalisasi gagasan itu menjadi wadah yang lebih kongkrit.
“Kita harapkan bahwa Indonesia akan menjadi tuan rumah pertama pertemuan guna mewujudkan gagasan itu menjadi sebuah kenyataaan, sehingga hal tersebut akan menjadi sebuah tindakan nyata kepedulian masyarakat antarbangsa,” katanya.
Sedangkan Sarbini Abdul Murad menambahkan bahwa agenda kemanusiaan melalui aspek kesehatan itu diharapkan akan disambut oleh masyarakat antarbangsa, sehingga warga Jalur Gaza yang kini sedang menderita, baik karena layanan kesehatan rusak maupun persediaan obat-obatan yang masih terus dibutuhkan, dapat dibantu.
“Gagasan dari inisiatif ini sangat mulia, sehingga kita berharap tidak hanya kalangan medis saja yang peduli, namun juga pemerintah dan rakyat di masing-masing negara,” katanya.
Sekretaris Jenderal (Sesjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-moon pekan lalu, seperti dilansir kantor berita trans-nasional menyebut untuk yang keempat kalinya serangan terhadap sekolah yang dikelola PBB itu dalam perang “menyakitkan hati” itu menuntut penyelidikan mendalam atas berbagai dampak agresi itu.
Selama perang itu, sekolah-sekolah, rumah-rumah sakit, kompleks PBB dan ribuan rumah semuanya diserang dan Pemerintah Palestina menyebutkan nilai kerusakan prasarana saja mencapai 476 juta dolar AS.
Sekitar 1.206 warga Palestina termasuk 410 anak-anak tewas sejak Israel mulai melakukan serangan yang paling banyak menelan korban jiwa terhadap wilayah itu 22 Desember , kata para dokter Gaza , yang mengatakan 5.300 orang lainnya cedera.
Mereka yang tewas dalam perang itu juga termasuk 109 wanita, 113 ornag lanjut usia , 14 paramedis dn empat wartawan , kata Kepala Dinas Darurat Gaza, dr Muawiya Hassanein .
Sejak dimulainya operasi itu , 10 serdadu Israel dan tiga warga sipil tewas dalam baku tembak atau serangan-serangan roket. Militer mengatakan lebih dari 700 roket dan peluru mortir telah ditembakkan selama periode itu.
Penghentian aksi kekerasan itu terjadi setelah negara Yahudi itu mendapat janji dari Washington dan Kairo untuk membantu mencegah penyelundupan senjata ke Gaza, yang bakal jadi bagian dari negara Palestina yang akan datang dengan wilayah lebih luas Tepi Barat.
Gencatan senjata itu terjadi kurang dari sebulan sebelum Israel menyelenggarakan Pemilu dan Perdana Menteri (PM) Ehud Omert, yang secara resmi pada musim gugur, menurut rencana akan mengundurkan diri. PM itu, reputasinya hancur akibat perang tahun 2006 di Lebanon yang oleh banyak warga Israel sebagai satu bencana.
IBU, TERIMA KASIH UNTUK TETAP MENJADI IBU
Ibu adalah sosok yang sarat dengan pengorbanan, ketulusan, dan kasih sayang. Kesediaan mereka berkorban untuk melahirkan setelah mengandung selama sembilan bulan dengan perut yang buncit dan keadaan lelah yang bertambah-tambah. Dalam keadaan tidur yang tidak nyenyak, menanti kelahiran dari jam ke jam, menit ke menit dengan penuh rintihan dan erangan rasa sakit serta bertaruh nyawa sebagai perjuangan untuk memberikan jalan kehidupan bagi anaknya. Penantian itu bagaikan menunggu antrian memasuki syurga. Dan dikala melahirkan, kebesaran Allah telah menyelimuti ibu dan anak.
Islam telah menganugerahkan kedudukan mulia kepada perempuan yang menjadi ibu, “Bersungguh-sungguhlah dalam berbakti kepada ibumu, karena sesungguhnya surga itu berada di bawah kedua kakinya”, demikian disebutkan dalam hadits Nabi Muhammad SAW. Wanita yang bertarung nyawa saat melahirkan anaknya di beri pahala setara pahala mujahid. Mereka yang menanggung risiko kematian saat melahirkan diberi pahala setara pahala syuhada. Islam juga mengajarkan Ibu sebagai sosok pertama yang harus dihormati anak sebelum ayah seperti digambarkan saat Rasulullah di tanya sahabat siapa orang yang wajib kita hormati pertama kali. Beliau menjawab “ibumu”, “ibumu”, “ibumu” sampai 3 kali baru “bapakmu”.
Islam juga menempatkan posisi dan peran Ibu sebagai tugas utama kaum perempuan. Bahkan untuk menjamin terlaksananya peran ini Islam menetapkan beberapa hukum khusus bagi perempuan, misalnya kebolehan untuk meninggalkan puasa sewaktu hamil dan menyusui, berhenti puasa dan shalat ketika haid dan nifas, hanya boleh digauli suami dalam keadaan suci dari haid dan nifas, penundaan uqubat (sanksi) bagi ibu hamil dan menyusui, serta memberikan hak pengasuhan kepada ibu selama anak masih kecil.
Namun, saat ini kita melihat adanya kecenderungan pada sebagian kaum perempuan yang merasa inferior ketika ‘berprofesi’ sebagai ibu (rumah tangga) saja. Bahkan mungkin kini profesi itu dianggap sebagai bentuk ketidakadilan bagi kaum perempuan. Profesi ibu yang hanya bergelut dalam sektor domestik dianggap tidak bernilai, jauh dari penghargaan dan aktualisasi diri. Sehingga berperan di sektor publik atau menjadi wanita karier yang memberikan penghargaan dalam bentuk materi dan status dianggap lebih menguntungkan bagi kaum perempuan dibandingkan jika harus menghabiskan hari-harinya hanya dengan urusan ‘dapur’, ‘sumur’, dan ‘kasur’? Tidaklah mengherankan jika sekarang juga terdapat anggapan bahwa hanya berada di rumah bersama anak-anak sebagai sebuah penjajahan bagi kaum perempuan dan menjadi Ibu bukanlah jati diri perempuan.
Sebagai seorang laki-laki saya bukanlah seorang yang anti wanita karier, namun bagi saya pengorbanan seorang Ibu tidak akan bisa dibandingkan dengan apapun dan tak akan pernah tergantikan apalagi diabaikan. Keberadaan Ibu sebagai sosok yang memiliki peranan penting dan tak akan tertandingi adalah realitas yang tidak dapat terbantahkan sepanjang sejarah kehidupan manusia. Sulit untuk menafikan pendapat yang mengatakan bahwa Ibu adalah sekolah yang utama dan pertama bagi anak-anaknya.
Ibu adalah sosok yang sangat dekat, sosok yang pertama kali berinteraksi dengan anak sejak masih dalam kandungan. Bukankah perasaan ibu dikala kehamilan berpengaruh langsung kepada anak? Bukankah detak jantung ibu dirasakan oleh janin? Ketentraman seorang ibu ketika hamil berpengaruh kepada ketenangan janin. Bukankah perkataan yang keluar dari mulut seorang ibu adalah doa dan harapan bagi anak-anaknya? Ketika menyusui, bukankah ibu telah mengajarkan rasa aman? Tatkala menidurkan anak dalam buaian bukankah ibu telah mengajarkan kasih sayang? Saat ibu melatih anak berjalan bukankah ibu telah mengajarkan semangat untuk berjuang? Saat menangani perselisihan anak bukankah ibu mengajarkan keadilan? Ibupun menjadi pendidik yang paling penting agar anaknya memahami kejujuran, empati, dan tanggung jawab. Dan yang terpenting ibulah yang pertama kali mengajarkan anak tentang Tuhannya, pada siapa dia harus tunduk dan patuh. Terima kasih Ibu, terima kasih karena tetap menjadi matahari bagi keluarga. Selamat Hari Ibu.
SELAMAT IDUL FITRI 1429 H
Bagi masyarakat yang telah mengenal tradisi bersalaman, biasanya mereka melakukannya dengan maksud atau beberapa motivasi. Pertama, bersalaman untuk meminta maaf atas kesalahannya. Kedua, bersalaman untuk tanda persahabatan. Ketiga, bersalaman karena kedua belah pihak telah lama tak berjumpa. Keempat, bersalaman karena untuk mempererat tali silaturrahmi. Sejalan dengan motivasi di atas, dalam praktik keseharian, tradisi bersalaman demikian mengakar kuat dilakukan oleh anak kepada orang tua, murid kepada guru, bawahan kepada atasan, dan oleh masing-masing sahabat terdekat.
Tradisi bersalaman dalam kondisi demikian sangat dianjurkan oleh agama. Bahkan ada satu hadis yang menjelaskan tentang terampuninya dosa seseorang yang senantiasa memelihara tradisi bersalaman. ”Bila dua orang muslim saling berjumpa, lalu keduanya bersalaman, kata Nabi SAW, maka kedua orang itu akan diampuni dosanya sebelum keduanya berpisah.” Dari hadis ini dapat dipahami bahwa bersalaman dalam ajaran agama tak hanya menjadi tradisi. Lebih dari itu, ia telah dilegitimasi oleh nilai nilai agama yang syarat dengan muatan-muatan sakral (ibadah). Bagi yang melakukan kegiatan bersalaman, yang bersangkutan tidak hanya meraih rasa syahdu atau keasyikan yang diluapi kegembiraan, tetapi ia akan memperoleh pahala sekaligus terhapus dosanya.
Di Lebaran Idul Fitri ini, kita merasakan betapa semaraknya kegiatan bersalaman di tengah masyarakat. Di antara mereka memang ada yang dengan tulus dan ikhlas melakukan tradisi bersalaman ini. Mereka tanpa pandang bulu berbaur bersalaman baik dengan anak-anak, tua jompo, miskin dan kaya, dengan harapan dapat saling memaafkan, memperkuat dan membangun kembali tali ukhuwah dan persahabatan.
Di sela-sela kegembiraan dan keikhlasan umat Islam menjalankan tradisi bersalaman, ternyata masih banyak di antara kita yang menyalahgunakan tradisi tersebut. Bersalaman yang semula bernilai sakral diubah bentuk sehingga kehilangan maknanya. Ia tidak lagi menjadi media ibadah yang dapat mempercepat tali silaturrahmi, tapi menjadi alat kepentingan kelompok terentu untuk mengembangkan relasi yang menarik margin keuntungan. Tak pelak lagi, tradisi bersalaman menjadi sarat dengan muatan materi secara pandang bulu dan menjadi elit. Tradisi bersalaman dilakukan oleh kelompok ini dengan cara membawa parsel atau bingkisan yang berharga mahal, yang diberikan kepada orang yang sebenarnya tidak layak disantuni. Tradisi bersalaman yang demikian, jelas bertentangan dengan misi silaturahmi dan merusak sendi-sendi kebersamaan, karena sikap ini cenderung berpihak kepada kelompok kuat, sementara kaum lemah dilecehkan.
Di Indonesia saat ini, masih terdapat umat yang mendambakan bantuan sosial dan sentuhan kasih, hendaknya tradisi bersalaman tidak berjalan memihak yang menyebabkan kaum kuat semakin besar kharismanya, sementara kaum kecil semakin terkucil.
Oleh: Drs. Fauzul Iman, M.A disitasi dari Republika
Image from here.
TETAP FIT SELAMA PUASA
Marhaban ya Ramadhan, kaum muslimin di segenap penjuru dunia telah memasuki bulan kemuliaan yakni bulan Ramadhan. Pada bulan ini kaum muslimin yang telah akil baligh diwajibkan untuk menunaikan ibadah yang isimewa yaitu ibadah puasa .
Puasa atau shiyam secara syar’i bermakna menahan diri dari makan dan minum serta hal-hal yang dapat membatalkan puasa mulai terbit fajar sampai Maghrib. Selama berpuasa tidak ada asupan makanan dan minuman sehingga adalah hal yang wajar jika kadang muncul rasa lemas dan merasa lapar.
Rasa lapar selama puasa tentu tidak dapat dihilangkan sama sekali dan bahkan ada hikmah yang terkandung di balik ‘rasa lapar’ tersebut yaitu menumbuhkan rasa empati, memupuk rasa peduli terhadap orang miskin yang laparnya hampir sepanjang waktu. Namun kita tentu menginginkan bahwa ibadah puasa tidak menghambat kita dalam beraktivitas dan tetap bersemangat. Untuk itu, kita perlu mengetahui beberapa kiat berikut ini.
Yang pertama, kesungguhan niat untuk berpuasa. Kualitas pekerjaan seseorang sangat ditentukan oleh kualitas niatnya. Begitu juga dengan berpuasa. Kita diminta untuk memasang niat sebelum berpuasa yang akan melahirkan sebuah dorongan kuat untuk melaksanakan puasa dalam arti yang utuh, yaitu bukan sekedar mengendalikan lapar dan haus sejak fajar hingga matahari terbenam, namun juga mengendalikan seluruh anggota diri kita dan hati kita untuk patuh kepada-Nya. Dari sini kita beranjak bahwa setiap aktifitas kita di dunia ini tidak boleh terlepas dari pemahaman kita akan mengharapkan keridhaan-Nya.
Kualitas niat merupakan ketetapan dan kesungguhan hati untuk melaksanakan sesuatu disandarkan pada Allah swt semata. Secara medis, niat merupakan bagian fungsi luhur yang akan memengaruhi kerja otak. Otaklah yang mengendalikan semua perangkat kerja di dalam tubuh. Niat yang berkualitas akan menghantarkan kita menggapai hikmah puasa seperti yang disebutkan dalam Al-Quran agar kaum mukminin tersebut dapat menjadi orang-orang yang bertaqwa (Q.S Al-Baqarah: 183); puasa itu sangat baik bagi kaum mukminin, jika dipelajari (Q.S Al-Baqarah: 184); agar kaum mukmin tersebut menjadi orang-orang yang bersyukur (Q.S. Al-Baqarah: 185); agar kaum mukminin tersebut menjadi kaum yang selalu berjalan di jalan yang lurus (Q.S Al Baqarah: 186); dan agar kaum mukminin tersebut menjadi kaum yang selalu terpelihara (dari berbuat kejahatan) (Al-Baqarah: 187).
Yang kedua, agar tetap bersemangat dalam beraktifitas saat puasa diperlukan pengetahuan tentang pengaturan makanan selama bulan ramadhan dan pengelolaan aktifitas selama berpuasa yang membantu kita tetap berdaya (fit). Yang membuat tubuh tetap fit adalah energi yang berasal dari makanan yang kita makan. Salah satu sumber energi yang efisien bagi tubuh adalah gula atau glukosa yang terdapat dalam darah. Setelah makan, bahan bakar yang kita konsumsi akan segera diolah di dalam sel untuk memenuhi kebutuhan energi. Oleh karena itu, jika gula darah rendah kita jadi lemas.
Satu jam setelah makan sahur kadar gula darah memuncak, kemudian menurun seiring dengan pengolahan gula menjadi bentuk simpanan bahan bakar (glikogen) oleh jaringan di hati. Dua jam kemudian, kadar kembali ke rentang puasa (antara 80 sampai 100 mg/dL). Pada saat ini, suplai energi diambil alih oleh hati dengan memecah glikogen hati menjadi gula. Ternyata glikogen hati dapat menjadi sumber gula darah untuk kebutuhan otak selama 12 jam sampai 16 jam. Dengan demikian, puasa Ramadhan yang hanya sekitar 14 jam tidaklah mengganggu kesehatan.
Sumber utama glukosa darah berasal dari makanan yang mengandung karbohidrat seperti nasi, gandum,singkong, jagung. Meskipun lemak dan protein dapat diubah menjadi energi akan tetapi energi jangka pendek yang terbaik berasal dari karbohidrat.
Dalam perencanaan makanan, jumlah asupan kalori sehari selama bulan puasa kira-kira sama dengan jumlah asupan kalori sehari-hari. Perlu diperhatikan, dari 2.500 Kalori yang kita butuhkan sehari 65 persen energi sebaiknya berasal dari karbohidrat. Sisanya, berasal dari lemak (30 persen) dan protein (15 persen).
Pembagian porsi makan yang dianjurkan adalah 40 persen dikonsumsi waktu makan sahur, 50 persen waktu berbuka, dan 10 persen malam sebelum tidur (sesudah shalat tarawih). Jangan lupa selalu mengkonsumsi makanan bergizi baik pada saat sahur atau berbuka puasa. Walaupun menu sederhana, yang penting mengandung lima unsur gizi lengkap seperti karbohidrat, protein, lemak,vitamin, dan mineral.
Hal yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa kita tinggal di wilayah tropis, disadari maupun tidak disadari tubuh kita cenderung lebih banyak kehilangan cairan. Kecukupan cairan perlu dipenuhi dengan minum tidak kurang dari 1500 ml (7-8 gelas) sehari, terdiri dari 2-3 gelas waktu sahur dan 5 gelas dari buka sampai sebelum tidur.
Makan sahur sebaiknya dilambatkan sebagaimana yang juga disunnahkan oleh Rasulullah. Pada saat ini, sangat dianjurkan menyediakan makanan yang mengandung serat sebab mampu memperlambat pengosongan lambung dan memperlambat penyerapan glukosa oleh usus.
Kita juga dapat melakukan aktifitas fisik sehari-hari dengan wajar. Jika ingin berolahraga maka dapat saja dilakukan dengan memperhatikan waktu, jenis, dan intensitasnya. Alternatif waktu terbaik untuk melakukan olahraga adalah jangan dilakukan menjelang waktu berbuka, dengan asumsi bahwa persediaan energi sudah mulai berkurang. Saat yang tepat dan lebih rasional untuk berolahraga adalah seusai shalat Tarawih.
Seperti diketahui bahwa kelebihan kalori dari makanan yang dikonsumsi akan disimpan, terutama sebagai lemak dalam jaringan lemak. Pada minggu-minggu pertama puasa asupan kalori biasanya menurun, sehingga banyak orang yang berhasil menurunkan berat badannya. Akan tetapi, perlu disadari bahwa asupan kalori kemudian meningkat secara bertahap bahkan satu minggu setelah hari raya lebaran. Itulah sebabnya sangat baik untuk menjaga agar ibadah ramadhan terpelihara dengan puasa sunah selanjutnya, misalnya dengan puasa syawal. Dengan niat yang baik diikuti pengelolaan asupan gizi yang baik pula Insyaallah kita akan bersemangat menjalankan ibadah nan agung ini. Selamat berpuasa.
I AM BACK BUT SORRY ONLY FOR A MINUTE
Hampir sebulan lebih tidak blogging tentu banyak momen yang terlewatkan. Terutama cerita dari teman-teman blogger. Saking lamanya tidak posting, saya hampir lupa dengan password. Bahkan, blog ini sempat diblokir karena dikenali sebagai spam blog. Saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah mampir dan memberikan apresiasi baik melalui komentar selama blog ini rehat. Dalam kesempatan bulan suci ini perkenankan saya menghaturkan maaf karena belum sempat mampir ke blog teman-teman. Berbicara tentang ‘maaf’, konon tiap orang mempunyai beragam latar yang membuat kata itu terlontar. Sebagai bentuk manifestasi ‘pengakuan’ kesalahan yang dilakukan, kata ini seyogyanya diucapkan dengan tulus dari hati. Bukan sekadar basa-basi. Kata maaf dapat di haturkan karena ketidaksengajaan yang berakibat fisik kepada orang lain. Ada orang yang melontarkannya ketika tak sengaja menyenggol orang lain, menginjak kaki orang lain, menubruk atau sampai menabrak orang lain. Tak dinyana, kekhilafan menuntut permintaan maaf dari pelaku. Kata maaf juga dihaturkan karena ketidaksengajaan atau bahkan kesengajaan (?) yang berakibat psikis kepada orang lain. Misalnya, membuat orang lain kebingungan, mangkel, malu, dan bahkan sakit hati. Kebiasaan meminta maaf merupakan perilaku yang tidak dibentuk sekejap, tapi melalui proses panjang segenap interaksi yang terjadi dalam keluarga mapun lingkungan sekitar. Berawal dari ’pembiasaan’ sampai akhirnya menjadi ’kebiasaan’ yang positif.
Selain meminta maaf, ada sikap yang lebih penting lagi yaitu memberi maaf. Meminta maaf menunjukkan jiwa yang besar, tapi memberi maaf membuat jiwa menjadi kaya. Robert D. Enright, periset tentang keampunan, menyatakan bahwa memberi maaf merupakan faktor signifikan dalam penyembuhan yang bersifat psikis. Perbuatan memaafkan berarti respon kemurahan hati seseorang terhadap orang yang telah menyakitinya. Dalam memaafkan, orang mengganti perasaan negatif, pikiran negatif, dan perilaku negatif terhadap orang yang berbuat salah kepadanya dengan perasaan, pikiran, dan perilaku yang positif.
Memaafkan orang lain yang telah berbuat sewenang-wenang merupakan sebuah sikap yang paling mulia di dalam ajaran agama. Sikap ini tidak akan bisa dilakukan kecuali oleh orang-orang yang bersih hatinya, dimana ia lebih menyukai kebaikan ketimbang membalas kejahatan orang tersebut. Allah berfirman:” Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (Q.S Ali Imran:134). Semoga kita semua mampu menjadi orang yang ‘kaya’ hati.
BEING A GOOD PARENT
Setiap orang tua pasti menginginkan agar anaknya menjadi anak yang shalih. Keinginan tersebut merupakan hal yang wajar mengingat anak shalih tersebut investasi terbesar bagi kehidupan dunia dan akhirat. Anak yang shalih tidak mungkin menyia-nyiakan orang tuanya. Anak yang shalih tidak mungkin membangkang perintah yang baik dari orang tuanya. Anak yang shalih-lah yang selalu mengaliri doa-doa untuk orang tuanya yang sudah tiada. Hanya saja harapan yang besar itu kadang tidak diikuti dengan usaha yang besar oleh para orang tua, bahkan tidak sedikit orang tua yang “durhaka” terhadap anaknya.
Petikan kalimat di atas merupakan penggalan tausyiah yang disampaikan oleh seorang ustaz pada acara “Aqiqah dan Tasmiyah” yang diselenggarakan oleh salah seorang kerabat hari Minggu kemarin. Apa yang disampaikan oleh ustadz tersebut memiliki daya tarik tersendiri bagi saya, karena selama ini yang sering saya dengar adalah contoh-contoh perilaku durhaka anak terhadap ortu. Namun kali ini materi yang disampaikan beliau mampu membuat saya merenung apakah saya telah menjadi orang tua yang baik bagi anak saya? Atau, jangan-jangan saya termasuk ortu yang “durhaka” terhadap anak.
Ustadz tersebut kemudian memaparkan salah satu perilaku durhaka orang tua terhadap anak diantaranya tidak memberikan pendidikan yang baik kepada anak kita. Pendidikan yang baik bukan hanya sekedar menyekolahkan mereka di sebuah sekolah yang bermutu.Namun memberikan contoh yang baik kepada anak kita. Ortu sebagai role model bagi anaknya. Apa yang dilakukan kedua orang tuanya akan dilihatnya dan terbenak dalam memorinya. Jangan harap anak akan bisa shalat tepat waktu, kalo ortunya saat waktu shalat tiba masih asyik menghabiskan waktunya di depan televisi untuk menonton sinetron. Jangan berharap anak bisa bertutur kata yang baik dan lembut, kalau kedua ortunya sering membentak dan mengeluarkan kata-kata tak pantas. Ketika mereka masih berada pada usia emas berapa kalikah dalam sehari kita membentak mereka dengan kata ”Diam!” atau ”Jangan nakal Kamu!”
Tausyiah tersebut cukup membuat saya untuk merenung. Apakah selama ini saya sudah maksimal dalam mendidik anak-anak saya? Anak adalah merupakan amanah dari Allah, kelak kita akan dimintai pertanggungjawabannya di sisi-Nya. Memelihara amanah memang tidaklah mudah tapi bukan berarti itu menjustifikasi kita untuk ”seadanya” memelihara anak. Kita harus berusaha optimal dalam menjaga amanah tersebut pada lingkaran yang masih bisa kita kuasai. Bagaimana hasilnya itu adalah urusan Allah, karena Allah hanya akan menilai apa yang diusahakan manusia. Allah tidak memberi balasan yang kecil untuk orang-orang yang menjaga amanah. Allah menjanjikan Jannatul Firdaus untuk mereka yang memelihara amanah.
Maafkan kami Nak, jika selama ini kami lalai dalam mendidik kalian. Terima kasih telah banyak memberikan pelajaran pada kami orang tua kalian tentang kedalaman makna kesabaran, ketulusan, pengorbanan, dan kasih sayang.
KESEHATAN DALAM PARADIGMA ISLAM

Islam sejak dari awal sangat mementingkan hidup sehat melalui tindakan promotif-preventif-protektif. Langkah dimulai dari pembinaan terhadap manusia sebagai subjek sekaligus objek persoalan kesehatan itu sendiri. Islam menanamkan nilai-nilai tauhid dan manifestasi dari tauhid itu sendiri pada diri manusia. Nilai-nilai tersebut mampu merubah persepsi-persepsi tentang kehidupan manusia di dunia yang pada gilirannya tentu saja secara merubah perilaku manusia. Dan perilaku yang diharapkan dari manusia yang bertauhid adalah perilaku yang merupakan realisasinya dari ketaatan terhadap perintah dan larangan Allah.
Empat faktor utama yang mempengaruhi kesehatan adalah lingkungan (yang utama), perilaku, pelayanan kesehatan, dan genetik. Bila ditilik semuanya tetaplah bemuara pada manusia. Faktor lingkungan (fisik, sosek, biologi) yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap status kesehatan tetap saja ditentukan oleh manusia. Manusialah yang paling memiliki kemampuan untuk memperlakukan dan menata lingkungan hidup.
Secara individual dengan landasan nilai tauhid tadi Islam mengajarkan agar setiap muslim bergaya hidup sehat. Ini merupakan cara efektif untuk menghindari sakit. Kebersihan misalnya, sangat ditekankan oleh Islam dan dinilai sebagai cerminan dari Iman seseorang. Kewajiban membersihkan hadats kecil, mandi janabah, sunnah untuk bersiwak membuktikan bahwa Islam sangat perduli terhadap kebersihan fisik. Dengan berwudhu, seorang muslim akan secara langsung membersihkan tangan (yang biasanya menjadi pangkal masuknya penyakit ke dalam mulut) dan muka. Kemudian, mencuci kemaluan dengan air (bukan dengan tissue) setelah buang air kecil atau buang air besar. Sementara, ibadah puasa secara pasti telah memberikan pengaruh sangat baik terhadap kesehatan perut. Dengan puasa, sistem pencernaan yang selama 11 bulan bekerja, laksana mesin mendapatkan kesempatan untuk diistirahatkan.
Akan tetapi ibadah dalam Islam bukanlah arena untuk menyiksa diri, menelantarkan badan dan mengabaikan kesehatan. Suatu ketika datang kepada Rasulullah SAW beberapa sahabat. Ada yang mengutarakan niatnya untuk berpuasa tanpa berbuka, ada pula yang ingin shalat malam tanpa tidur. Rasulullah SAW menolak keinginan itu seraya mengingatkan bahwa badan kita punya haq (untuk beristirahat). Rasulullah SAW sendiri berpuasa tapi juga berbuka, shalat malam selalu di tegakkan, aku bangun tetapi juga tidur katanya.Sehingga kendati kegiatan sehari-harinya sangat padat, sedikit istirahat, makan secukupnya (bahkan sadanya), Rasulullah SAW dikenal memiliki kondisi fisik yang prima. Beliau jarang sakit. Beliau menderita sakit sesaat menjelang wafat.
Organisasi Kesehatan se-Dunia (WHO, 1984) menyatakan bahwa aspek agama (spiritual) merupakan salah satu unsur dari pengertian kesehatan seutuhnya. Bila sebelumnya pada tahun 1947 WHO memberikan batasan sehat hanya dari 3 aspek saja, yaitu sehat dalam arti fisik (organobiologik), sehat dalam arti mental (psikologik/psikiatrik) dan sehat dalam arti sosial; maka sejak 1984 batasan tersebut sudah ditambah dengan aspek agama (spiritual), yang oleh American Psychiatric Association dikenal dengan rumusan “bio-psiko-sosio-spiritual”.
Larangan mutlak Islam terhadap minuman keras narkotik, dan obat-obatan perangsang sejenisnya, makan babi, bangkai, binatang yang menjinjikkan, berzina, homoseksual makin menemukan kesesuaian ilmiah empirik di masa modern sekarang disaat orang-orang makin menyadari pentingnya pengaruh makanan, minuman, dan gaya hidup terhadap kesehatan. Minuman beralkohol banyak menimbulkan kerusakan pada organ tubuh seperti sistem saraf pusat, otot, dan hepar. Alkohol juga dapat menaikan tekanan darah yang diakibatkan kenaikan kadar kolesterol (hiperkolesterolemia). Narkotik dan zat adiktif lainnya merusak bukan hanya fisik tapi juga jiwa yang menggunakan. Makanan yang kini banyak mengandung zat-zat aditif dinilai oleh para ahli memberikan pengaruh besar terhadap timbulnya kanker. Contoh formalin yang disinyalir banyak terdapat pada tahu, ikan, ikan asin, dan mie basah. Karena kecilnya molekul ini memudahkan absorpsi dan distribusinya ke dalam sel tubuh. Efek formalin terhadap organ tubuh yaitu dia akan bereaksi dengan protein tubuh, maka membran sel, tulang rawan akan mengeras, enzim, dan hormon akan berubah atau tidak berfungsi.
Perilaku serampangan, khususnya dalam masalah seksual, terbukti menimbulkan dampak serius bagi kesehatan manusia. AIDS adalah contoh penyakit yang ditimbulkan oleh perilaku seksual yang menyimpang. Dan pelanggaran atas larangan di atas, kendati semula bersifat personal belakangan terbukti akibatnya bersifat komunal. AIDS kini telah menjadi wabah mondial, yang bukan saja mengancam pelaku penyimpangan seksual, tapi juga mereka yang selama ini hidup secara benar.(Image is adapted from here).
ISLAM, SCIENCE, DAN BUCAILLISME
Saat Bucaille menerbitkan bukunya yang terkenal Bible, Qoran dan Science pada tahun 1976 di Paris, buku tersebut segera menjadi best seller di negara-negara yang penduduknya mayoritas Islam dan diterjemahkan kehampir semua bahasa negara-negara tersebut termasuk Indonesia. Dalam bukunya tersebut Bucaille melakukan pendekatan ulang hubungan antara kitab-kitab suci dengan ilmu pengetahuan. Dalam konteks hubungan antara Al-Quran dengan ilmu pengetahuan dia menyimpulkan bahwa Al-Quran mengandung informasi tentang ilmu pengetahuan. Kedua, kebanyakan informasi ilmu pengetahuan dalam Al-Quran adalah sesuai dengan ilmu pengetahuan modern dan karenanya masuk akal. Ketiga, karena informasi sains dalam Al-Quran didukung oleh ilmu pengetahuan modern, maka Islam adalah agama yang logis dan saintifis. Buku tersebut menimbulkan kontroversi tidak hanya di kalangan ummat Islam tapi juga ummat yang lain. Ummat Islam tersanjung dengan penjelasannya bahwa Alquran sudah banyak berbicara sejak 14 abad sebelum penemuan-penemuan oleh ilmuwan cemerlang di seluruh dunia. Padahal paham Bucaille (Bucaillisme) ini patut dikritisi lebih lanjut, dengan melihat kembali bagaimana sebenarnya Islam memandang ilmu pengetahuan.
Dampak pendekatan Bucaille tersebut pada ilmuwan muslim dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda dihampir seluruh negara Islam sangatlah besar. Sejak itu terjadi rush dalam menggali kebenaran ilmiah Al-Quran, termasuk Indonesia. Ahli Anatomi menggali ayat-ayat yang berkaitan dengan Anatomi. Ahli Faal juga melakukan hal yang sama begitu pula di bidang Farmakologi, Mikrobiologi, Patologi, Kesehatan Masyarakat, Biokimia, dan tentu berbagai disiplin ilmu murni lainnya.
Upaya untuk mencari ”kebenaran ilmiah” Al-Quran tersebut tidak selalu berhasil bahkan dalam banyak hal sering mengalami kekecewaan. Sebagain dari yang gigih memang berhasil menemukan ayat-ayat sains, dan karenanya memperkuat ”kebenaran ilmiah” Al-Quran tersebut. Cukup banyak memang Bucaille ”baru” muncul. Tapi sementara itu banyak pula yang kecewa, karena ayat-ayat ilmu pengetahuan sulit ditemukan yang akan menunjang ilmu pengetahuan yang digelutinya.
Sebenarnya kekecewaan tersebut adalah tidak beralasan. Yang keliru adalah postulat yang dipakai, bahwa Al-Quran mengandung jawaban terhadap segera masalah yang dihadapi manusia. Yang benar adalah Al-Quran hanya mengandung masalah dalam garis-garis besar semata. Bahkan Allah sendiri mengatakan bahwa dalam jumlah ayat yang sangat terbatas tersebut hanya sebagian kecil yang tergolong ayat-ayat muhkamat, sedang sisanya yang justru meliputi sebagian besar dari Al-Quran tersebut tergolong ke dalam ayat-ayat mutasyabbihat.
Menurut Sardar dikutip dari Jurnalis Udin (Jurnal Yarsi) sedikitnya ada 2 bahaya yang muncul dari paham Bucailisme yaitu Pertama, adanya anggapan yang mengatakan bahwa Al-Quran pasti mengandung semua teori-teori ilmu pengetahuan modern. Suatu hal yang sangat keliru, karena Al-Quran bukanlah buku teks yang merangkum segala macam disiplin ilmu. Yang benar adalah Al-Quran merupakan petunjuk (guidance) dan motivator bagi seluruh ummat Islam dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dimulai dari Al-Quran, bukannya berakhir dalam Al-Quran. Kedua, dengan mencocok-cocokkan ayat Al-Quran dengan ilmu pengetahuan modern, maka terjadi kecenderungan bahwa ilmu pengetahuan terangkat derajatnya menjadi setara dengan Al-Quran itu sendiri. Ilmu pengetahuan dianggap sama dengan kitab suci itu sendiri. Sebagai akibatnya, maka ayat-ayat Al-Quran agar dapat diakui kewahyuannya, harus lebih dulu mendapat ’verifikasi’ dari ilmu pengetahuan. Hal ini tentu sangat berbahaya, karena jika ada ayat Al-Quran yang tidak mendukung ilmu pengetahuan maka kita bisa meragukan kebenaran Al-Quran itu sendiri, sebagaimana yang simpulkan oleh Bucaille terhadap kitab suci yang lain. Disamping itu, apa yang saat ini oleh ilmu pengetahuan diakui sebagai teori yang mumpuni, bisa saja teori tersebut di masa yang akan datang tertolak, karena adanya teori baru yang lebih baik. Oleh karenanya apa yang kini secara ilmu pengetahuan mendukung ayat-ayat Al-Quran, di masa yang akan datang bisa saja ditolak ilmu pengetahuan. Sesuai dengan pendekatan deduktif maka ayat-ayat Al-Quran harus ditolak kebenarannya, suatu hal yang jelas angat keliru.
Islam membedakan dua wilayah bahasan berkaitan dengan pengetahuan. Satu wilayah berkaitan dengan urusan manusia (baik politik, sosial, ekonomi, hukum, peribadatan, dan lain-lain) dan wilayah lainnya berkaitan dengan ilmu pengetahuan murni. Berkaitan dengan ilmu pengetahuan murni (pure science), kita dapat mengasah pemikiran kita dan mengambil dari kontribusi orang lain dalam bidang yang murni teknis dan murni keilmuan. Misalnya, jika seorang dokter ingin melakukan tindakan sirkumsisi (khitan) pada pasien, maka ia akan merujuk pada ilmu yang telah didapatkan tanpa memandang siapa yang pertama kali menemukan teknik sirkumsisi tersebut. Ilmu pengetahuan murni tidak terkait dengan pandangan hidup seseorang, kapitalisme, budhisme, dan lain-lain. Ilmu pengetahuan murni bersifat sama bagi semua manusia.
Islam mewajibkan kepada umatnya untuk belajar dan terus belajar, maka Islampun telah mengatur dan menggariskan kepada ummatnya agar mereka menjadi ummat yang terbaik (dalam ilmu pengetahuan dan dalam segala hal) dan agar mereka tidak salah dan tersesat. Sekalipun Islam telah menunjukkan dunia ini kepada manusia agar mau berpikir dan mendorong manusia untuk melakukan penemuan-penemuan tentang hukum alam, namu Alquran tidaklah dapat dikatakan sebagai buku sumber ilmu pengetahuan (pure science). Akan tetapi, Alquran diturunkan untuk mengatur hubungan vertikal manusia dengan Allah dan hubungan horizontal manusia dengan dirinya sendiri, orang lain, dan lingkungan. Karena itu hukum Islam terkait dengan penggunaan fakta-fakta keilmuan yang muncul dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan tidak terkait dengan penemuan itu sendiri.
TAHUN BARU, BUKA BLOG
Hari ini kita memasuki tahun baru hijriah tepatnya 1 Muharam 1428 H. Berbeda dengan tahun masehi, tahun hijriyah dimulai dari peristiwa hijrahnya nabi Muhammad SAW beserta ummatnya dari Makkah ke Madinah sehingga disebut “sanah hijriyah”. Perhitungan waktu menurut penanggalan hijriyah mengikuti perjalanan bulan sehingga disebut lunar year atau “sanah qamariyah” sehingga pada penanggalan hijriyah ini perpindahan hari dimulai saat waktu maghrib. Ada 12 bulan yang dikenal yaitu Muharam, Shafar, Rabiul Awwal, Rabiul Akhir, Jumadil Awwal, Jumadil Akhir, Rajab, Syaban, Ramadhan, Syawal, Zulqaidah, dan Zulhijjah.
Penggunaan penanggalan hijriyah itu sendiri dimulai pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khatab Ra tepatnya pada tanggal 20 Jumadil Akhir 17H (tujuh tahun setelah wafatnya nabi Muhammad SAW). Penggunaan tahun hijriyah merupakan ide cerdas yang disampaikan oleh khalifah Umar Ra dengan dukungan dari dua sahabat besar yaitu Utsman bin Affan Ra dan Ali bin Abi Thalib Ra. Argumentasi yang mendasarinya antara lain bahwa peristiwa hijrah merupakan entry point kebangkitan umat Islam. Secara intern peristiwa hijrah membedakan antara muslim hakiki dan muslim yang setengah-setengah dan secara ekstern membedakan antara yang hak dan bathil. Mengapa? Dalam sirah dapat diketahui bahwa peristiwa hijrah merupakan strategi yang ditempuh setelah sepuluh tahun menyiarkan Islam di Makkah, beliau tidak mendapatkan sambutan yang memadai dari penduduk Makkah. Jumlah ummat Islam pada waktu itu tidak lebih dari seratus lima puluh orang. Bahkan tidak jarang mereka menerima sumpah serapah, intimidasi, teror fisik dan mental, dan embargo ekonomi. Kondisi ini menjadi salah satu pertimbangan dilakukannya hijrah. Hijrah (berpindah) dari satu tempat ke tempat lain dilakukan semata-mata karena Allah dan Rasul dengan tujuan menyelamatkan diri, agama, dan keyakinannya.
Peristiwa hijrah itu sendiri begitu menguras jiwa dan tenaga. Jarak Makkah-Madinah yang sangat jauh (kurang lebih 500 km) serta medan yang berat cukup membuat kebimbangan para sahabat. Tidaklah mengherankan, ajakan nabi untuk berhijrah ini tidak serta merta mendapat sambutan yang hangat. Ada nada keberatan dari sebagian sahabat karena juga harus meninggalkan orang tua, anak-anak masih kecil, istri yang sedang hamil, harta kekayaan, perniagaan, rumah, dan lain sebagainya. Nabi Muhammad SAW tidak menjawab terhadap keberatan mereka sampai turunnya Surat At-Taubah ayat 24 yang menjawab semua persoalan yang mereka hadapi. Di kota Madinah, kaum muhajirin dan anshar berkumpul dan membentuk daulah Islamiyah. Selanjutnya, peperangan demi peperangan dilalui hingga akhirnya nabi dapat menaklukkan kota Makkah pada tahun ke-8 hijrah. Setelah itu, eksistensi ummat Islam makin kuat keberadaannya dan terjadi penyebaran Islam yang masif. Setelah 17 tahun peristiwa hijrah nabi, penanggalan Islam ’resmi’ dipergunakan dan disebut tahun ’hijriah’. Bulan Muharam dijadikan sebagai perhitungan karena pada saat itu orang-orang kembali dari mengerjakan ibadah haji (bulan Zulhijjah).
Dengan mengambil momen tahun baru hijriah ini, saya mencoba membuka blog ini. Harapan saya blog ini akan berisi tentang pemikiran, pandangan, pengamatan, refleksi, dan humor di bidang kedokteran dan kesehatan. Semoga bermanfaat bagi kita semua.
Comments (7)
Comments (3)
Comments (4)



