Archive for February, 2007|Monthly archive page

DEMAM PERAHU KARET

Jika penduduk kota Jakarta menggunakan perahu karet sebagai transportasi saat banjir maka sebagian penduduk Banjarmasin menggunakannya sebagai aktifitas refreshing. Jadi, jangan kaget apabila Anda kebetulan melewati sungai Martapura dalam dua minggu terakhir ini, penuh dengan ribuan perahu karet. Diperkirakan sekitar 500-1000 buah perahu karet. Apakah terinspirasi banjir Jakarta? Wallahualam. Yang pasti, aktifitas bermain perahu karet ini menjadi sarana refreshing bagi penduduk yang ada di sekitar Sungai Martapura maupun bagi penduduk Banjarmasin pada umumnya.

Aktifitas ini biasanya dimulai setelah waktu shalat Ashar (sekitar 16.00 Wita) dan mulai sepi saat menjelang Maghrib. Ternyata, aktifitas bermain ini tidak hanya dilakukan oleh anak-anak tapi juga para remaja dan orang tua. Para orang tua ini biasanya mengajak serta anak-anak mereka yang masih kecil di dalam perahu.

Konon, perahu tersebut ada yang dimiliki sendiri tapi ada juga didapatkan dengan cara menyewa. Nah, momen seperti ini mendatangkan berkah bagi para penjual perahu karet. Sebelum demam perahu karet melanda untuk memasarkan 1 buah saja sulit. Akan tetapi, saat ini perahu karet bak kacang goreng. Harga perahu karet ini dijual bervariasi. Untuk yang kecil (hanya untuk 1 orang penumpang) sekitar Rp 75.000, ukuran sedang (2 orang) Rp 90.000, dan ukuran besar (4 orang) sekitar Rp 150.000.

Aktifitas ini juga dijadikan sebagai tambahan penghasilan oleh penduduk setempat dengan cara menyediakan jasa penyewaan perahu karet plus jasa pompa perahu. Biasanya mereka membandrol dengan tarif sewa Rp 5000 per jam dengan tarif pompa sekitar Rp 200 per perahu. Disamping itu, kegiatan ini ternyata memberikan inspirasi bagi para tukang kredit untuk menawarkan jasa kredit pembelian perahu karet. Kisaran kredit dipilih bervariasi bisa dibayar dengan cara mencicil harian atau mingguan. Yang jelas, kalo harian biasanya pembeli harus mencicil 2 ribu setiap harinya untuk jangka waktu dua bulan untuk perahu karet yang berukuran kecil. “Kalau ukuran besar sekitar 3 ribu”, tutur bu Amnah, salah seorang tukang kredit dadakan perahu karet. Lumayan keuntungannya bisa buat nambah belanja dapur katanya.

Berbeda dengan para penjual perahu karet, bagi penjual jasa transpor angkutan sungai (kelotok), yang biasa mengangkut penumpang di sepanjang sungai ini, aktifitas penduduk tersebut cukup mengganggu kelancaran arus lalu lintas sungai. Mereka mengistirahatkan kelotok pada saat aktifitas perahu karet lagi ramai. Kalau hari biasa mereka mengangkut penumpang bisa sampai pukul 18.00 wita, maka sekarang hanya sampai pukul 16.00 wita. “Takut tertabrak”, kata salah seorang sopir kelotok tersebut.(Image kelotok is adapted from here).

FOGGING!, FOGGING!, FOGGING!


Penderita demam berdarah dengue (DBD) dalam bulan terakhir ini terus meningkat. Masyarakat dicekam kecemasan karena penyakit ini memakan korban jiwa yang tidak sedikit. Menurut Pusat Komunikasi Publik dari Sub Direktorat Arbovirosis Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP & PL) Depkes, hingga pekan ini sudah ada 10 provinsi melaporkan kasus DBD di wilayahnya. Kasus DBD terbanyak dilaporkan Propinsi DKI Jakarta dengan 968 kasus, 1 diantaranya meninggal. Setelah DKI Jakarta, daerah lain yang melaporkan kasus demam berdarah adalah propinsi-propinsi sebagai berikut: Lampung (421 kasus, 3 meninggal), Jawa Tengah (400 kasus, 1 meninggal), Jawa Barat (284 kasus, 3 meninggal), Kalimantan Timur (79 kasus, 1 meninggal), Banten (48 kasus, 4 meninggal), Bali (31 kasus), Jawa Timur (27 kasus 2 meninggal), NTB (19 kasus), dan Bangka Belitung (6 kasus). Jumlah ini belum termasuk korban di provinsi lainnya, seperti Kalimantan Selatan, Yogyakarta, Kalimantan Barat, NAD, dan Papua. Cuaca saat ini masih ideal untuk perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti pembawa virus DBD oleh karena itu jumlah tersebut akan dapat meningkat.

Serangan penyakit ini seharusnya sudah dapat diperkirakan, karena sangat terkait dengan perilaku nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini akan mempunyai sarang lebih banyak pada musim penghujan. Nyamuk hanya bertelur di bak-bak mandi akan tetapi ketika hujan tiba, tempat bersarang nyamuk bisa berpindah ke tempat-tempat genangan air yang muncul akibat siraman hujan, wadah kosong, kaleng, atau bahkan cekungan sekecil apapun di pekarangan rumah, di sekolah, di perkantoran yang menampung air bersih. Sementara itu, menjelang peralihan cuaca suhu udara mulai meningkat. Pada suhu yang tinggi jentik (larva) menjadi lebih cepat dewasa dan aktivitas nyamuk betina untuk menghisap darah manusia juga meningkat. Oleh karena itu, serbuan penyakit ini saat musim hujan dan menjelang peralihan cuaca seperti sekarang ini hampir pasti selalu terjadi setiap tahunnya.

Kampanye oleh pemerintah untuk memutus rantai penularan sering datang terlambat dimana korban sudah berjatuhan. Masyarakat seharusnya didorong untuk memahami 3 M sebagai bagian dari rangkaian proses yang harus dilakukan bersama-sama secara menyeluruh dan rutin. Selain itu, sesuai dengan anjuran WHO untuk penanggulangan fokus (kasus) dapat dilakukan abatenisasi (menabur bubuk abate) dan fogging (penyemprotan dengan insektisida).

Pemerintah sendiri terkesan alergi dengan fogging. Padahal walaupun bukan hal utama akan tetapi fogging juga tidak terlarang. Bukankah fogging merupakan pilihan utama untuk mematikan nyamuk dewasa secara massal? Pada keadaan wabah atau KLB, fogging bahkan dianjurkan untuk dilakukan. WHO sendiri menganjurkan untuk dilakukan fogging yang dilakukan bersama-sama dengan kegiatan lain seperti abatenisasi dan penyuluhan kepada masyarakat tentang pemberantasan sarang nyamuk (PSN) seperti tindakan 3 M dan pencegahan lainnya seperti memelihara ikan pemakan jentik, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa, menggunakan repellent, dan memasang obat nyamuk.

Fogging memang tidak mampu membunuh jentik, tapi hendaknya ini tidak menjadi justifikasi pemerintah untuk tidak melakukan fogging. Fogging masal dapat menurunkan populasi nyamuk Aedes aegypti secara tajam dan cepat, meskipun penurunan tersebut tidak sampai nol. Apabila hal ini diikuti dengan gerakan pemberantasan sarang nyamuk tentu sangat efektif menurunkan populasi nyamuk dewasa dan akan diikuti dengan menurunnya penularan dan selanjutnya akan menurunkan jumlah kasus yang terjadi.

Fogging dapat dilakukan dengan cara thermal fogging untuk penanggulangan fokus (kasus) biasanya dengan menggunakan mesin khusus (swing fog). Ini yang sering dilakukan apabila ditemukan kasus. Sedangkan cold fogging dilakukan sebelum musim penularan tepat sebelum atau akan memasuki musim hujan. Ini dinamakan fogging sebelum musim penularan (FSMP). Pada FSMP ini dipergunakan insektisida murni dengan mesin Ultra Low Volume (ULV) yang diletakkan di atas mobil pick up. Kegiatan pengasapan jenis ini tidak gencar dilakukan, padahal pengasapan yang dilakukan sebelum musin penularan penyakit tersebut mampu mematikan nyamuk yang belum infektif maupun yang infektif. Sebab pada saat ini keadaan iklim tidak mendukung perkembangbiakannya dan yang lebih penting pada saat ini populasi nyamuk masih rendah.

Akhirnya, meminjam istilah Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes RI, Nyoman Kandun (Kompas, 03/02/07) selain partisipasi masyarakat kuncinya memang harus ada pada upaya terpadu di kalangan pemerintah yaitu mengarahakan program pada pembangunan yang berwawasan kesehatan dan lingkungan. Dengan kata lain, berjalan atau tidaknya program pemberantasan DBD sangat tergantung pada prioritas, komitmen, dan kegigihan pemerintah khususnya tokoh atau pemimpin lokal.

Image from here.

KESEHATAN DALAM PARADIGMA ISLAM


Islam sejak dari awal sangat mementingkan hidup sehat melalui tindakan promotif-preventif-protektif. Langkah dimulai dari pembinaan terhadap manusia sebagai subjek sekaligus objek persoalan kesehatan itu sendiri. Islam menanamkan nilai-nilai tauhid dan manifestasi dari tauhid itu sendiri pada diri manusia. Nilai-nilai tersebut mampu merubah persepsi-persepsi tentang kehidupan manusia di dunia yang pada gilirannya tentu saja secara merubah perilaku manusia. Dan perilaku yang diharapkan dari manusia yang bertauhid adalah perilaku yang merupakan realisasinya dari ketaatan terhadap perintah dan larangan Allah.

Empat faktor utama yang mempengaruhi kesehatan adalah lingkungan (yang utama), perilaku, pelayanan kesehatan, dan genetik. Bila ditilik semuanya tetaplah bemuara pada manusia. Faktor lingkungan (fisik, sosek, biologi) yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap status kesehatan tetap saja ditentukan oleh manusia. Manusialah yang paling memiliki kemampuan untuk memperlakukan dan menata lingkungan hidup.

Secara individual dengan landasan nilai tauhid tadi Islam mengajarkan agar setiap muslim bergaya hidup sehat. Ini merupakan cara efektif untuk menghindari sakit. Kebersihan misalnya, sangat ditekankan oleh Islam dan dinilai sebagai cerminan dari Iman seseorang. Kewajiban membersihkan hadats kecil, mandi janabah, sunnah untuk bersiwak membuktikan bahwa Islam sangat perduli terhadap kebersihan fisik. Dengan berwudhu, seorang muslim akan secara langsung membersihkan tangan (yang biasanya menjadi pangkal masuknya penyakit ke dalam mulut) dan muka. Kemudian, mencuci kemaluan dengan air (bukan dengan tissue) setelah buang air kecil atau buang air besar. Sementara, ibadah puasa secara pasti telah memberikan pengaruh sangat baik terhadap kesehatan perut. Dengan puasa, sistem pencernaan yang selama 11 bulan bekerja, laksana mesin mendapatkan kesempatan untuk diistirahatkan.

Akan tetapi ibadah dalam Islam bukanlah arena untuk menyiksa diri, menelantarkan badan dan mengabaikan kesehatan. Suatu ketika datang kepada Rasulullah SAW beberapa sahabat. Ada yang mengutarakan niatnya untuk berpuasa tanpa berbuka, ada pula yang ingin shalat malam tanpa tidur. Rasulullah SAW menolak keinginan itu seraya mengingatkan bahwa badan kita punya haq (untuk beristirahat). Rasulullah SAW sendiri berpuasa tapi juga berbuka, shalat malam selalu di tegakkan, aku bangun tetapi juga tidur katanya.Sehingga kendati kegiatan sehari-harinya sangat padat, sedikit istirahat, makan secukupnya (bahkan sadanya), Rasulullah SAW dikenal memiliki kondisi fisik yang prima. Beliau jarang sakit. Beliau menderita sakit sesaat menjelang wafat.

Organisasi Kesehatan se-Dunia (WHO, 1984) menyatakan bahwa aspek agama (spiritual) merupakan salah satu unsur dari pengertian kesehatan seutuhnya. Bila sebelumnya pada tahun 1947 WHO memberikan batasan sehat hanya dari 3 aspek saja, yaitu sehat dalam arti fisik (organobiologik), sehat dalam arti mental (psikologik/psikiatrik) dan sehat dalam arti sosial; maka sejak 1984 batasan tersebut sudah ditambah dengan aspek agama (spiritual), yang oleh American Psychiatric Association dikenal dengan rumusan “bio-psiko-sosio-spiritual”.

Larangan mutlak Islam terhadap minuman keras narkotik, dan obat-obatan perangsang sejenisnya, makan babi, bangkai, binatang yang menjinjikkan, berzina, homoseksual makin menemukan kesesuaian ilmiah empirik di masa modern sekarang disaat orang-orang makin menyadari pentingnya pengaruh makanan, minuman, dan gaya hidup terhadap kesehatan. Minuman beralkohol banyak menimbulkan kerusakan pada organ tubuh seperti sistem saraf pusat, otot, dan hepar. Alkohol juga dapat menaikan tekanan darah yang diakibatkan kenaikan kadar kolesterol (hiperkolesterolemia). Narkotik dan zat adiktif lainnya merusak bukan hanya fisik tapi juga jiwa yang menggunakan. Makanan yang kini banyak mengandung zat-zat aditif dinilai oleh para ahli memberikan pengaruh besar terhadap timbulnya kanker. Contoh formalin yang disinyalir banyak terdapat pada tahu, ikan, ikan asin, dan mie basah. Karena kecilnya molekul ini memudahkan absorpsi dan distribusinya ke dalam sel tubuh. Efek formalin terhadap organ tubuh yaitu dia akan bereaksi dengan protein tubuh, maka membran sel, tulang rawan akan mengeras, enzim, dan hormon akan berubah atau tidak berfungsi.

Perilaku serampangan, khususnya dalam masalah seksual, terbukti menimbulkan dampak serius bagi kesehatan manusia. AIDS adalah contoh penyakit yang ditimbulkan oleh perilaku seksual yang menyimpang. Dan pelanggaran atas larangan di atas, kendati semula bersifat personal belakangan terbukti akibatnya bersifat komunal. AIDS kini telah menjadi wabah mondial, yang bukan saja mengancam pelaku penyimpangan seksual, tapi juga mereka yang selama ini hidup secara benar.(Image is adapted from here).